-->

Metode Pengajaran dalam Prespektif Al Quran dan Penafsiran Al Qur’an mengenai Metode Pengajaran

Metodologi pengajaran banyak ragamnya, sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar mengajar tersebut tidak menggunakan hanya pada satu metode saja, tetapi harus bervariasi, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan sendiri oleh pendidik dapat tercapai.

Pengajar tidak hanya memberikan pengetahuan dan pemahaman pada yang diajar, namun lebih diarahkan pada pembentukan sikap, perilaku dan kepribadiannya. Mengingat perkembangan komunikasi informasi dan kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh positif bagi masyarakat. Tugas pengajar dalam konteks ini membantu mengkondisikan masyarakat pada sikap, perilaku, atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi agent of modernization bagi dirinya sendiri, lingkungan, masyarakat dan siapa saja yang dijumpai.

Al Qur'an merupakan sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Al Qur'an bukan sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablum min Allah wa hablum min an-nas), serta manusia dengan alam sekitarnya. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna (kuffah), diperlukan pemahaman terhadap kandungan al-Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.[1]
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam dapat dilihat dari Al Qur’an yang merupakan sumber hukum dan pedoman hidup bagi setiap muslim.
 Didalam Al Qur’an juga mencangkup ayat-ayat tentang pendidikan atau tarbiyah, baik secara tersirat maupun tersurat. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya Manusia melalui kegiatan pengajaran. Ada dua buah konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, yaitu belajar (learning) dan pembelajaran (intruction). Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik.
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya.
Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Metode Pengajaran dalam Prespektif Al Quran?
2.      Bagaimana Penafsiran Al Qur’an mengenai Metode Pengajaran?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan metode pengajaran dalam prespektif A Qur’an.
2.      Menjelaskan penafsiran Al Qur’an mengenai metode pengajaran.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Metode pengajaran dalam prespektif Al Qur,an
Pendidikan adalah merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Ada dua buah konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, yaitu belajar ( learning ) dan pembelajaran ( intruction ). Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik.
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya.
Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya.Tujuan pembelajaran yang diinginkan tentu yang optimal, untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satu diantaranya adalah metodologi pengajaran.
Metodologi pengajaran banyak ragamnya, sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar mengajar tersebut tidak menggunakan hanya pada satu metode saja, tetapi harus bervariasi, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan sendiri oleh pendidik dapat /tercapai.
Pengajar tidak hanya memberikan pengetahuan dan pemahaman pada yang diajar, namun lebih diarahkan pada pembentukan sikap, perilaku dan kepribadiannya. Mengingat perkembangan komunikasi informasi dan kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh positif bagi masyarakat. Tugas pengajar dalam konteks ini membantu mengkondisikan masyarakat pada sikap, perilaku, atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi agent of modernization bagi dirinya sendiri, lingkungan, masyarakat dan siapa saja yang dijumpai.
Al Qur'an merupakan sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Al Qur'an bukan sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablum min Allah wa hablum min an-nas), serta manusia dengan alam sekitarnya. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna (kuffah), diperlukan pemahaman terhadap kandungan al-Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.[1]
Adapun ayat-ayat tentang metode pengajaran yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu a, sebagai berikut :
1.      Surah Ali Imran 164
2.      Surah Al-Maidah: 67
3.      Surah Al-Nahl: 125
4.      Surat Ibrahim 24-25
5.      Surah al-Haqqah 1-3

B.     Penafsiran Al Qur’an mengenai metode pengajaran
1.      Al_Imran ayat 164:

(لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَوَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ) ال عمران : 164
Artinya:                                                                                                               
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata
Ungkapkan dalam ayat ini adalah bahwa manhaj atau metode Nabi dalam menyampaikan pengajaran kepada orang – orang beriman / sahabat-sahabanya kala itu adalah dengan memakai tiga cara;
Penjelasan Ayat:
1.      Kata مَنَّ  dalam al-Quran mempunyai beberapa pengertian, diantaranya adalah:
a.       Sejenis makanan yang turun dari langit. Seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah: 57, yang berbunyi: وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى  (dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa)Manna adalah sebuah makanan yang berbentuk seperti jeli atau madu.
b.       Perbuatan mengungkit-ungkit sebuah amalan. Seperti yang tertera dalam surat Al-Baqarah: 254, yang berbunyi: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى  (jangan kalian batalkan shadaqah-shadaqah kalian dengan mengungkit-ungkitnya dan mengganggu orang yang diberi shadaqah).
c.        Memutus. Seperti yang disebut dalam surat Al-Qalam: 3, yang berbunyiوَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ  (dan sesungguhnya engkau memiliki pahala yang tiada terputus).
d.       Memberikan karunia kepada seseorang tanpa mengharap balasan. Dalam ayat ini (164) adalah yang dimaksud dengan kata manna. Jadi maksudnya, Allah Ta’ala memberikan karunia berupa diutusnya seorangRasul dari kalangan manusia tanpa mengharap balasan dari hamba-Nya.
2.      Mengapa dalam ayat ini hanya disebutkan orang mukmin saja? Bukankah Rasulullah saw. itu diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam? Jawabannya adalah karena orang yang mampu menerima manfaat dari kenikmatan dan hidayah itu hanya orang mukmin. Maka disini disebutkan khusus bagi orang mukmin, sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan.
3.      Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai kata (مِنْ أَنْفُسِهِمْ):
a.        Min anfusihim dimaksudkan dari kalangan orang Arab. Karena kita tahu bahwa Nabi Muhammad saw. diutus pertama kali di negeri Arab. Allah mengutus beliau dari kalangan Arab sehingga mereka lebih memahami apa yang disampaikan oleh beliau. Walaupun risalah beliau tidak khusus bagi orang arab.
b.      Min anfusihim dimaksudkan dari kalangan manusia. Allah mengutus Nabi dari golongan manusia. Bukan jin atau malaikat. Karena kalau dari golongan selain manusia, umat manusia akan kesulitan memahami apa yang disampaikan.
4.      Tugas seorang Rasul antara lain:
a.        يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ  kata talaa-yatlu-tilawatan mempunyai 2 makna:
1.      Membacakan ayat-ayat Allah, yaitu al-Qur`an kepada umatnya secara benar. Membaca dengan tartil sesuai dengan tajwid, makhraj dan sifat-sifat hurufnya. Dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw. tadarusan bersama dengan Jibril setahun sekali. Di tahun Rasulullah meninggal, beliau tadarusan bersama Jibril sebanyak dua kali. Hal ini dilakukan untuk menjaga keaslian al-Qur`an.
2.      Rasulullah saw. membuka pengetahuan umatnya, baik melalui bacaan al-Qur`an atau sabda beliau, disamping hukum agama, juga tentang ayat-ayat kekuasaan Allah, agar manusia mengimani-Nya dan mampu meningkatkan kualitas keimanannya.
b.      يُزَكِّيهِمْ  artinya: dan dia mensucikan mereka. Zakka yuzakki tazkiyatan artinya membersihkan dan mensucikan. Makna asli tazkiyah adalah membersihkan dan mensucikan dari segala noda, baik dhahir maupun batin. Yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah membersihkan dari berbagai kepercayaan-kepercayaan jahiliyah, atau pemahaman-pemahaman yang salah. Rasulullah diutus kepada umat manusia untuk meluruskan mereka dari pemahaman, pola hidup, kepercayaan, cara pikir yang tidak benar, dengan menegakkan amar ma`ruf nahi mungkar dan menyebarkan kebenaran risalah Islam.
c.        وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ  artinya: dan dia mengajari Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada mereka. Maksudnya adalah Rasul bertugas mentransfer (memindahkan) ilmu yang diberikan oleh Allah kepada beliau untuk umatnya. Ilmu tersebut ada di dalam Al-Qur`an dan hadits. Al-Kitab di sini maksudnya adalah Al-Qur`an. Al-Hikmah adalah Hadits. Secara umum, hikmah adalah setiap kalimat yang mengandung kebaikan dan berguna sepanjang masa (tidak lekang ditelan zaman).
5.      Pengutusan Nabi Muhammad saw. kepada manusia ini adalah suatu anugerah yang begitu besar. Beliau datang membawa Islam dan mengubah kebiasaan-kebiasaan jahiliyyah mereka. Mengentaskan mereka dari kegelapan berupa kesalahan cara berpikir, adat istiadat, akhlak dan sebagainya. Kita tengok sejarah. Sebelum Islam datang, mereka menganggap punya anak perempuan adalah sesuatu yang memalukan. Sehingga mereka tega membunuh anak perempuan mereka sendiri dengan cara dikubur hidup-hidup. Mereka mengelilingi ka’bah dalam keadaan telanjang bulat, sebab mereka menganggap pakaian mereka telah dilumuri dosa. Karena masalah sepele, peperangan antar kabilah bisa berkobar sampai bertahun-tahun. Contoh-contoh ini hanyalah sebagian kecil saja dari kesesatan mereka sebelum Islam datang. Maka hadirnya Islam di tengah manusia yang sangat jahiliyyah itu, seakan seperti pelita di tengah kelamnya malam. Islam sangat memuliakan wanita. Wanita di dalam Islam selalu dijaga dan dilindungi. Islam juga mengatakan bahwa setiap manusia punya aurat yang harus ditutupi. Islam mengajarkan saling memaafkan dan berbagai ajaran lainnya yang memuliakan manusia.
6.      Dalam ayat ini dapat kita ambil pelajaran tentang tiga prinsip dasar pendidikan. Yaitu:
a.        Tilawah. Hal ini memberikan isyarat bahwa dalam pendidikan perlu diajarkan sebuah skill atau yang sekarang dikenal dengan kemampuan afektif. Karena tilawah adalah salah satu bentuk skill membaca yang sungguh sangat penting. Karena denganya terbuka berbagai cakrawala pengetahuan. Dalam praktekanya, Rasulullah menghasung umatnya untuk mengembangkan berbagai skill, seperti belajar memanah, menunggang kuda, berenang, menguasai bahasa asing, dll.
b.       Tazkiyah. Hal ini menunjukkan perlu adanya pendidikan emosional atau yang dikenal dengan istilah psikomotorik. Maka tidak heran jika Rasulullah selalu membina umatnya tentang pentingnya akhlak-akhlak yang mulia, seperti jujur, pemaaf, tidak mudah marah, sabar dan ridho terhadap sebuah musibah dll.
c.        Ta’lim, bisa disebut dengan kemampuan kognitif. Yaitu dengan adanya transfer ilmu sehingga umat mempunyai kemampuan untuk berpikir dan mengamalkan.
Tiga prinsip ini harus dimiliki oleh seorang pendidik. Entah itu guru, ustadz, suami, istri, ayah, ibu atau yang lainnya.
7.      Kebanyakan orang tua hanya memikirkan bagaimana caranya supaya anak bisa mendapatkan kecerdasan IQ dan prestaasi yang luar biasa, tetapi mereka melupakan kualitas spiritual dan emosional mereka. Sehingga bila anak-anak belajar agama, mereka hanya disuruh menghafal saja tanpa adanya pengamalan dan penghayatan dari apa yang mereka lakukan. Mereka hafal cara berwudhu, shalat, dan sebagainya. Tetapi hanya sebatas hafal sehingga apa yang mereka pelajari tidak berbekas apapun dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, marilah kita didik anak-anak kita dengan baik dan benar sesuai dengan Al-Qur`an dan hadits. Sebagai orang tua, pendidik mereka yang pertama kali, kita harus mengarahkan mereka menjadi tunas-tunas Islam yang berkualitas, yang mempunyai ilmu din Islam yang dalam, disamping ilmu keduniaan. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Tetapi juga sampai pada tingkat mereka mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. Sebagaimana dikatakan oleh ulama Al-ilmu laisa lir riwayah walakin lil amal. Ilmu itu bukan hanya diriwayatkan (ditransfer) saja. Tapi perlu adanya pengamalan. Tidak ada gunanya hanya belajar saja tetapi tidak mengamalkan ilmu tersebut.
8.      Sebagai orang tua ataupun guru, perlu adanya pemberian contoh yang benar selama mengajarkan atau memerintah kebaikan kepada anak-anak. Sebab pemberian contoh atau praktek dari seorang guru atau orang tua akan memberikan bekas yang lebih mendalam didalam kepribadian anak-anak.
9.      Kata-kata jahiliyyah bukan hanya di masa sebelum Islam datang. Bahkan setelah Islam datang, banyak bentuk kejahiliyahan dilakukan. Jahiliyyah adalah bentuk-bentuk keadaan dan kelakuan di mana norma kebaikan sudah tak ada lagi di dalamnya. Di era modern ini banyak sekali perbuatan jahiliyyah dilakukan.
10.  Semakin banyak ilmu din atau ilmu keduniaan seseorang, seharusnya dia semakin takut pada Allah karena bisa membaca kekuasaan-Nya. Bukan semakin sombong dan semakin jauh dari-Nya. Ibadahnya semakin banyak. Keikhlasannya selalu terasah. Kedekatannya kepada Allah semakin tidak diragukan lagi. Karena di dalam setiap ilmu itu menggambarkan betapa kuasanya Allah atas segala sesuatu. Sebagaimana Allah berkalam, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”(al-Fathir : 28).[2]

2.      Surah Al-Maidah Ayat 67
Diantara ayat-ayat mengenai metode pengajaran yang kami bahas adalah sebagai berikut :
يا أيها الرسول بلغ ما أنزل اليك من ربك وان لم تفعل فما بلغت رسالته والله يعصمك من الناس ان الله لا يهدى القوم الكفرين
Artinya :
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.

    Mufrodat
يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ                    : Hai rasul
بَلِّغْ                                 : Sampaikanlah
مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ                     : Apa yang di turunkan kepadamu
مِنْ رَبِّكَ                          : Dari tuhanmu.
وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ                      : Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang
diperintahkan itu)
فَمَا بَلَّغْتَ                          : Kamu tidak menyampaikan
رِسَالَتَه                            : Amanat-Nya
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ                    : Allah memelihara kamu
مِنَ النَّاسِ                         : Dari (gangguan) manusia
إِنَّ اللَّهَ                             : Sesungguhnya allah
لَا يَهْدِي                           : Tidak memberi petunjuk
الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ                    : Kepada orang-orang yang kafir

   Penjelasan :
Allah berfirman yang ditujukan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw, atas nama kerosulan, serta menyuruhnya untuk menyampaikan semua yang dibawanya dari Allah. Maka sungguh beliau telah mentaati dan mengajarkan perintah itu dengan sempurna.
Dalam menafsirkan ayat tersebut, al-Bukhari mengatakan dari ‘Aisyah: “Barang siapa yang menceritakan kepadamu bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu dari apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadanya, sungguh orang itu telah berdusta. Sebab Allah SWT berfirman: ‘Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.’’’
Firman-Nya: “dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” Yakni, jika engkau menyembunyikan satu ayat yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.
Firman Allah: “Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” Maksudnya, sampaikanlah risalah-Ku, niscaya Aku akan menjaga, menolong dan mendukungmu dalam menghadapi musuh-musuhmu, serta memenangkan dirimu atas mereka. Maka janganlah engkau takut dan bersedih, karena tidak akan ada seorang pun yang dapat berlaku jahat terhadap dirimu dan menyakitimu. Sebelum ayat ii turun Rasulullah dalam keadaan dijaga (dikawal), sebagaimana Imam Ahmad berkata: ‘Aisyah memberitahuhkan, bahwa Rasulullah pada suatu malam pernah tidak tidur malam, ketika itu ia (‘Aisyah) berada ke sisi beliau. Ia berkata: ‘lalu kutanyakan: ‘Ya Rosulullah, apa yang terjadi denganmu?’ Beliau menjawab: ‘Aku berharap ada seorang yang shalih dari para sahabatku yang menjagaku pada malam ini.’ ‘Aisyah berkata: ‘ketika dalam keadaan itu, tiba-tiba aku mendengar suara senjata.’ Lalu beliau bertanya: ‘Siapa itu?’ orang itu menjawab: ‘Ini aku, Sa’ad bin Malik.’ Beliau bertanya: ‘Apa yang menjadikanmu datang ke sini?’ Ia menjawab: ‘Aku datang untuk menjagamu, ya Rosulullah.’ ‘Aisyah berkata: ‘Maka aku pun mendengar suara tidur Rosulullah.’” (Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam ash-shahihain)
Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” Maksudnya, sampaikanlah risalah Rabbmu, sebab Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Allah berfirman: “Bukanlah kewajibanmu memberi petunjuk kepada mereka, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikendaki-Nya,” (QS. Al-Baqarah: 272)[3]
Thabathaba’i juga membahas penempatan ayat ini, menegaskan bahwa ayat ini berbicara tentang satu masalah agama yang sangat khusus, yang bila tidak disampaikan, maka ajaran agama secara keseluruhan tidak beliau sampaikan. Thahir Ibn ‘Asyur menambahkan bahwa ayat ini mengingatkan Rasul agar menyampaikan ajaran agama kepada Ahl al-Kitab tanpa menghiraukan kritik dan ancaman mereka, apalagi teguran-teguran yang dikandung oleh ayat-ayat lalu harus disampaikan Nabi saw. Itu merupakan teguran keras, seperti banyak di antara mereka yang fasiq dan frman-Nya: ”Apakah akan aku beritakan kepada kamu tentang yang lebih buruk dari itu pembalasannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah” dan lain-lain teguran tegas ini, pada hakikatnya tidak sejalan dengan sifat Nabi saw.[4]

3.             Surah Al-Nahl 125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang  baik.  Sesungguhnya Tuhanmu Dialah  yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”
   Penjelasan Ayat
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia   hikmah diartikan sebagai kebijaksanaan, kesaktian dan makna yang dalam. Secara bahasa al-hikmah berarti ketepatan dalam ucapan dan amal.  Menurut ar-Raghib, al-hikmah berarti mengetahui perkara-perkara yang ada dan mengerjakan hal-hal yang baik. Menurut Mujahid, al-hikmah adalah pemahaman, akal, dan kebenaran dalam ucapan selain kenabian. At-Thabary mengatakan bahwa Hikmah dari Allah SWT  bisa berarti benar dalam keyakinan dan pandai dalam din dan akal
  Kesimpulannya, jumhur mufasir menafsirkan kata hikmah dengan hujjah atau dalil. Dari ungkapan para mufasir di atas juga dapat dimengerti, bahwa hujjah yang dimaksud adalah hujjah yang bersifat rasional (‘aqliyyah/fikriyyah), yakni hujjah yang tertuju pada akal. Sebab, para mufasir seperti al-Baidhawi, al-Alusi, an-Nisaburi, al-Khazin, dan an-Nawawi al-Jawi mengaitkan seruan dengan hikmah ini kepada sasarannya yang spesifik, yakni golongan yang mempunyai kemampuan berpikir sempurna.Al-burhân al-‘aqlî (argumentasi logis) yang di maksud adalah  argumentasi yang masuk akal, yang tidak dapat dibantah, dan yang memuaskan. Yang dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan siapa saja. Sebab, manusia tidak dapat menutupi akalnya di hadapan argumentasi-argumentasi yang pasti serta pemikiran yang kuat. Argumentasi logis mampu membongkar rekayasa kebatilan, menerangi wajah kebenaran, dan menjadi api yang mampu membakar kebobrokan sekaligus menjadi cahaya yang dapat menyinari kebenaran. Hikmah, memang, kadangkala berarti menempatkan persoalan pada tempatnya; kadangkala jugaberarti hujjah atau argumentasi. Dalam ayat ini, tidak mungkin ditafsirkan dengan makna menempatkan persoalan pada tempatnya. Makna hikmah dalam ayat ini adalah hujah dan argumentasi
Dakwah atau pengajaran dengan cara hikmah, umumnya diberikan oleh seseorang untuk menjelaskan sesuatu kepada pendengarnya yang ikhlas untuk mencari kebenaran.  Hanya saja, ia tidak dapat mengikuti kebenaran kecuali bila akalnya puas dan hatinya tenteram.[5]

2.      Makna Mau‘izhah Al-hasanah.
Sebagian mufasir menafsirkan mau’izhah hasanah (nasihat/peringatan yang baik) secara global, yaitu nasihat atau peringatan al-Quran (mau’izhah al-Qur’an). Demikian pendapat al-Fairuzabadi, as-Suyuthi, dan al-Baghawi. Namun, as-Suyuthi dan al-Baghawi sedikit menambahkan, dapat juga maknanya perkataan yang lembut (al-qawl ar-raqîq).
Merinci tafsiran global tersebut, para mufasir menjelaskan sifat mau’izhah hasanahsebagai suatu nasihat yang tertuju pada hati (perasaan), tanpa meninggalkan karakter nasihat itu yang tertuju pada akal. Sayyid Quthub menafsirkan mau’izhah hasanah sebagai nasihat yang masuk ke dalam hati dengan lembut (tadkhulu  il­â al-qulûb bi rifq). An-Nisaburi menafsirkanmau’izhah hasanah sebagai dalil-dalil yang memuaskan (ad-dalâ’il al-iqna’iyyah), yang tersusun untuk mewujudkan pembenaran (tashdîq) berdasarkan premis-premis yang yang telah diterima.
 Al-Baidhawi dan Al-Alusi menafsirkan mau’izhah hasanah sebagai seruan-seruan yang memuaskan/meyakinkan (al-khithâbât al-muqni‘ah) dan ungkapan-ungkapan yang bermanfaat (al-‘ibâr al-nâafi‘ah). An-Nawawi al-Jawi menafsirkannya sebagai tanda-tanda yang bersifat zhanni(al-amârât azh-zhanniyah) dan dalil-dalil yang memuaskan. Al-Khazin menafsirkan mau’izhah hasanah dengan targhîb (memberi dorongan untuk menjalankan ketaatan) dan tarhîb (memberikan ancaman/peringatan agar meninggalkan kemaksiatan).
Dari berbagai tafsir itu, karakter nasihat yang tergolong mau’izhah hasanah ada dua:Pertama, menggunakan ungkapan yang tertuju pada akal. Ini terbukti dengan ungkapan yang digunakan para mufasir, seperti an-Nisaburi, al-Baidhawi, dan al-Alusi, yakni kata dalâ’il (bukti-bukti), muqaddimah (premis), dan khithâb (seruan). Semua ini jelas berkaitan dengan fungsi akal untuk memahami. Kedua, menggunakan ungkapan yang tertuju pada hati/perasaan. Terbukti, para mufasir menyifati dalil itu dengan aspek kepuasan hati atau keyakinan. An-Nisaburi, misalnya, mengunakan kata dalâ’il iqnâ‘iyyah (dalil yang menimbulkan kepuasan). Al-Baidhawi dan al-Alusi menggunakan ungkapan al-khithâbât al-muqni‘ah (ungkapan-ungkapan yang memuaskan). Adanya kepuasan dan keyakinan (iqnâ‘) jelas tidak akan terwujud tanpa proses pembenaran dan kecondongan hati. Semua ini jelas berkaitan dengan fungsi hati untuk meyakini atau puas terhadap sesuatu dalil. Di antara upaya untuk menyentuh perasaan adalah menyampaikan targhîbdan tarhîb, sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Khazin.[6]

4.      Surah Ibrahim Ayat 24-25
ألم تر كيف ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها فى السماء –
)24 (تؤتى أكلها كل حين باذن ربها ويضرب الله الآمثال للناس لعلهم يتذكرون -)25(
Artinya :
“Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik,akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”. (24). “Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (25).

 Penjelasan Ayat
Wahai manusia, tidakkah kalian mengetahui bagaimana Allah memberikan perumpamaan mengenai kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Kalimat yang baik adalah kalimat Tauhid, kalimat orang Islam dan kalimat menyeru dalam Al-qur’an. Dan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Pohon kurma disifati dengan 4 sifat, yaitu :
1.      Pohon yang baik itu adalah pohon yang enak dipandang baik bentuknya, baik aromanya, baik buahnya, baik kegunaannya (buahnya lezat) dan memberikan manfaat yang sangat besar.
2.      Akarnya teguh (sisa akarnya melekat dan kuat tidak akan tercabut).
3.      Cabangnya menjulang ke langit (keadaannya sempurna dapat memanjangkan daun), dan apabila daunnya jatuh maka akan membusuk didalam tanah, untuk itu buahnya harus bersih dari berbagai kotoran.
4.      Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya (akan berbuah setiap waktu dengan seizin Allah, kekuasaan-Nya, penciptaan-Nya dan Anugerah-Nya), dan apabila pohon-pohon itu memberikan buahnya setiap waktu itu sudah merupakan aturan musim.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa kalimat yang baik itu seperti ucapan : dan pohon yang baik itu adalah pohon kurma, begitu pula menurut Ibnu Mas’ud.
Diriwayatkan pula dari Anas Bin Amr dari Nabi Muhammad SAW dan hadits Ibnu Amr yang diriwayatkan oleh Bukhori berkata : “Rasulullah SAW bersabda : beritakan aku mengenai pohon yang menyerupai sifat orang-orang muslim, yang daunnya tidak berguguran baik di musim panas ataupun musim dingin dan memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya. Ibnu Amr berkata : sebagaimana terjadi pada diriku ketika Abu Bakar dan Umar melihat pohon kurma, kami tidak dapat berbicara apapun, sampai-sampai kami tidak dapat mengucapkan sesuatu. Rasulullah SAW berkata : itulah yang dinamakan pohon kurma.
(ويضرب الله الآمثال)  Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia, supaya dapat menambah pemahaman dan akal fikiran juga gambaran mengenai pohon kurma tersebut, karena makna-makna perumpamaan itu harus dapat diterima oleh akal dengan perasaan yang melekat, menghilangkan sesuatu yang tersembunyi dan keraguan didalamnya sehingga dapat menjadikan makna tersebut sesuatu yang dapat disentuh oleh perasaan dan fikiran. Dalam hal ini, manusia mengajak kita untuk memikirkan adanya kebesaran Allah dengan adanya perumpamaan-perumpamaan ini, dan memikirkan hal-hal yang tersirat didalamnya untuk dapat memahami tujuan dari makna-makna tersebut.[7]

5.      Surah Al-Haqqah 1-3

الْحَاقَّةُ ١
Artinya:
              “Hari kiamat
Al Haaqaah menurut bahasa berarti yang pasti terjadi. Hari kiamat dinamakan Al Haaqqah karena ia pasti terjadi dan akan menimpa makhluk, akan menjelaskan hakikat berbagai perkara dan apa yang disembunyikan dalam hati. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperbesar urusannya dengan pengulangan kata-kata Al Haaqqah seperti yang anda lihat.


مَا الْحَاقَّةُ ٢ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ ٣
Artinya:
Apakah hari kiamat itu?
Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
Yakni sesungguhnya urusannya begitu besar dan dahsyat, dimana di antara kedahsyatannya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala membinasakan umat-umat yang yang mendustakan hari Kiamat dengan azab yang segera. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan salah satu contohnya yang terjadi dan dapat disaksikan di dunia, yaitu azab yang Allah timpakan kepada umat-umat yang melampaui batas.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan al-Wahidi, yang bersumber dari Buraidah. Hadits ini tidak sah sebagai asbabun nuzul ayat di atas. Bahwa Rasulullah saw bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib: “Aku diperintahkan supaya menjadikan engkau orang terdekatku dan tidak menjauhimu, serta supaya aku mengajarimu dan engkaupun mau memperhatikan nasehatku, karena Allah telah mewajibkan kepadamu untuk memperhatikannya.”[8]
Menurut Buraidah, ayat ini (al-Haaqqoh: 12) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa ayat-ayat Allah akan diperhatikan oleh orang-orang yang mau memperhatikannya.[9]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pengajar tidak hanya memberikan pengetahuan dan pemahaman pada yang diajar, namun lebih diarahkan pada pembentukan sikap, perilaku dan kepribadiannya. Mengingat perkembangan komunikasi informasi dan kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh positif bagi masyarakat.
Al Qur'an merupakan sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim.

B.     Saran
Penulis sadarakan kelemahan dan kekurangan dalam pembuatan makalah ini, baik dalam segi  mengurai materi dan masih kurang dalam pengambilan contoh-contoh. Oleh sebab itu, penulis sangat menerima masukan yang bersifat positif dengan harapan kesempurnaan makalah yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, Labaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Terjemah ‘Abdul Ghoffur, Jakarta: Pustaka Imam Asy-syafi’i. 2008
Ahmad Tafsir, DR. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung. 1994
Al-Khazin,  Lubab At Ta’wil Fi Ma’ani AT Tanjil, Mawaqi’u At Tafasir, t-tp, tt.
Jafar  Abu At-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, op.cit.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati.2002







[1] Ahmad Tafsir, DR. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung. 1994,hal  126
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 253-255
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 151-152
[4] Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, Labaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Terjemah ‘Abdul Ghoffur, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-syafi’i, 2008), hlm, 154-156.

[5] Abu Jafar At-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, op.cit., Hal. 269/5
6.  Al-Khazin,  Lubab At Ta’wil Fi Ma’ani AT Tanjil, Mawaqi’u At Tafasir, t-tp, tt. Hal.223/IV
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 52-53
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 409-410
[9] Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, Labaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Terjemah ‘Abdul Ghoffur, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-syafi’i, 2008), hlm, 154-

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel