-->

Makalah Penaksiran Risiko Pengendalian, Perancangan dan Pengujian Pengendalian, Program Audit , Bentuk Kerjasama dengan Auditor Intern dalam Pengujian Pengendalian

Resiko pengendalian ialah masih adanya risiko meskipun sudah ada pengendalian. Dalam contoh yang berlaku pada sistem kepegawaian, auditor akan salah menilai jika ternyata dalam daftar hadir pegawai masih terdapat kemungkinan kesalahan/penyalahgunaan yang belum dapat di deteksi oleh prosedur yang ada. Untuk itu, akan dibahasa pada makalah dibawah. Bagi anda yang ingin mendapatkan makalah ini, silahkan hubungi kami pada nomor layanan kami. Terima kasih.


KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr.Wb.
Puji Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Penulisan makalah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi dari dosen yang bersangkutan dan ada pun Tema makalah kami yaitu “Penaksiran Risiko dan Desain Pengujian ’’  kami menyadari bahwa sejak perencanaan sampai penulisan makalah ini selalu ada hambatan yang dihadapi, namun semua itu dapat teratasi dengan baik berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak.
Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik dari teknis penulisan maupun materi yang disusun, mengingat akan kemampuan yang di miliki penulis atau penyusun. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun, sangat dibutuhkan penulis dan harapkan dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami ucapan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi semua pihak khusunya mahasiswa jurusan Ekonomi dan Bisnis Islam. Dan kami berharap semoga Allah SWT memberikan imbalan kepada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan bantuan ini sebagai ibadah,Amin yaa rabbal alamin.
Wassalamu alaikum Wr.Wb.

Tertanda
Penyusun


DAFTAR ISI

Halamanjudul
Kata Pengantar…...........................................................................................    ii
Daftarisi …......................................................................................................  iii

BAB I        PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.............................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah......................................................................... 1
C.     Tujuan........................................................................................ 1
BAB II      PEMBAHASAN
A.    Pengertian Penaksiran Risiko Pengendalian...................................... 3
B.     Pengujian Pengendalian……………………….…............................. 7
C.     Perancangan Pengujian Perencanaan…………….……..................... 9
D.    Program Audit Untuk Pengujian Pengendalian................................. 11
E.     Kerja Sama Dengan Auditor Intern Dalam
F.      Pengujin Pengendalian..................................................................11
BAB III     PENUTUP
A.    Kesimpulan................................................................................. 13
DaftarPustaka................................................................................................. 15

           


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Penaksiran risiko pengendalian merupakan suatu proses evaluasi efektivitas desain dan operasi kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern entitas. Pentingnya konsep penaksiran resiko pengendalian yakni dalam rangka pencegahan atau pendektesian salah saji material di dalam laporan keuangan.
Definisi penaksiran risiko pengendalian mengharuskan seorang auditor agar mengetahui dengan jelas tahap-tahap yang ditempuh oleh auditor dalam menaksir risiko dan desain pengujian yang bersangkutan.
Oleh karena itu pentingnya penaksiran risiko dan desain pengujian, guna memperlancar tugas seorang auditor akan dibahas pada Bab II makalah ini.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Penaksiran Risiko Pengendalian?
2.      Apa yang dimaksud dengan Pengujian Pengendalian?
3.      Bagaimana Perancangan Pengujian Pengendalian?
4.      Bagaimana Program Audit untuk Pengujian Pengendalian?
5.      Bagaimana Bentuk Kerjasama dengan Auditor Intern dalam Pengujian Pengendalian?
C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Penaksiran Risiko Pengendalian.
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Pengujian Pengendalian.
3.      Untuk mengetahui bagaimana Perancangan Pengujian Pengendalian.
4.      Untuk mengetahui bagaimana Program Audit untuk Pengujian Pengendalian.
5.      Untuk mengetahui bagaimana Bentuk Kerjasama dengan Auditor Intern dalam Pengujian Pengendalian.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Penaksiran Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian ialah masih adanya risiko meskipun sudah ada pengendalian. Dalam contoh yang berlaku pada sistem kepegawaian, auditor akan salah menilai jika ternyata dalam daftar hadir pegawai masih terdapat kemungkinan kesalahan/penyalahgunaan yang belum dapat di deteksi oleh prosedur yang ada.[1]
Penaksiran risiko pengendalian adalah proses evaluasi efektivitas desain dan operasi pengendalian intern entitas dalam rangka pencegahan atau pendeteksian salah saji maerial di dalam laporan keuangan.[2]
Tahap-tahap penaksiran risiko pengendalian adalah sebagai berikut:
1.      Pertimbangkan Pengetahuan yang Diperoleh dari Pemahaman atas Pengendalian Intern.
Auditor melakukan prosedur mendapatkan pemahaman pengendalian internal atas sersi laporan keuangan yang material. Auditor mendokumentasi pemahaman tersebut dalam bentuk kuesioner, bagan alir, dll. Analisis terhadap dokumen ini adalah titik awal penaksiran risiko pengendalian. Standar audit, AU 319.25 (PSA No. 69 paragraf 19) menyatakan bahwa pemahaman yang digunakan oleh auditor untuk (1) mengidentifikasi jenis potensi salah saji, (2) mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi risiko salah saji yang material, dan (3) merancang uji pengendalian. Jadi, untuk kebijakan dan prosedur yang relevan dengan asersi tertentu, auditor menggunakan tipe jawaban ya/tidak dan komentar tertulis di dalam kuesioner, kelebihan, dan kekurangan dicatat dalam bagan alir dan memoranda naratif. 
Setelah mendapatkan pemahaman pengendalian Internal, auditor melakukan penyelidikan, mengamati kinerja tugas dan pengendalian, dan menginspeksi dokumen-dokumen. Dalam proses ini auditor mungkin mendapatkan bukti tentang bagaimana pengendalian dalam implementasi aktual sehingga memungkinkan auditor untuk menaksir risiko pengendalian di bawah level tinggi. Umumnya bukti yang diperoleh tidak cukup luas untuk memungkinkan penaksiran risiko pengendalian pada level rendah, tetapi mungkin cukup untuk mendukung penaksiran risiko pengendalian pada level tinggi. Auditor mungkin mendasarkan penaksiran risiko pengendalian pada bukti-bukti yang didapatkan ketika memahami pengendalian internal.
2.      Lakukan Identifikasi Salah Saji Potensial yang Dapat Terjadi dalam Asersi Entitas.
Berdasarkan pemahaman atas pengendalian intern, auditor kemudian melakukan identifikasi salah saji potensial yang dapat terjadi dalam asersi yang berkaitan dengan setiap saldo akun signifikan. Sebagai contoh, auditor dapat mengidentifikasi salah saji potensial untuk asersi transaksi pengeluaran kas dan untuk asersi saldo akun yang berkaitan dengan transaksi tersebut: akun kas dan akun utang usaha. Bagaimana auditor mengidentifikasi salah saji potensial, mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan untuk mengurangi risiko pengendalian, dan medesain pengujian pengendalian yang diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya salah saji dalam transaksi pengeluaran kas.
3.      Lakukan Identifikasi Pengendalian yang Diperlukan untuk Mencegah atau Mendeteksi Salah Saji.
Setelah auditor mengidentifikasi salah saji potensial yang dapat terjadi dalam asersi yang berkaitan dengan setiap saldo akun yang signifikan, auditor kemudian mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan untuk mencegah dan mendeteksi salah saji tersebut. Dalam melakukan identifikasi pengendalian yang diperlukan ini, auditor harus mempertimbangkan semua unsur pengendalian intern yang digolongkan kedalam lima golongan : lingkungan pengendalian, penaksiran risiko, informasi dan komunikasi, aktivitas pengendalian, dan pemantauan.
4.      Lakukan Pengujian Pengendalian Terhadap Pengendalian yang Diperlukan, untuk Menentukan Efektivitas Desain dan Operasi Pengendalian Intern.
Untuk mengevaluasi desain dan operasi pengendalian intern klien, auditor kemudian mengembangkan pengujian pengendalian terhadap setiap pengendalian yang diperlukan untuk setiap asersi. Tujuan pengujian pengendalian ini adalah untuk menentukan efektivitas desain dan operasi pengendalian intern.
5.      Lakukan Evaluasi Terhadap Bukti dan Buat Taksiran Risiko Pengendalian
Penaksiran risiko pengendalian untuk suatu asersi laporan keungan akhgirnya didasarkan atas hasil evaluasi terhadap bukti yang diperoleh dari (1) prosedur yang digunakan untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian intern yang relevan dengan pelaporan keuangan dan (2) pengujian pengendalian yang bersangkutan. Bugkti yang dikumpulkan oleh auditor dapat berupa bukti dokumentar, elektronik, matematik, lisan, atau bukti fisik. Jika berbagai tipe bukti mendukung kesimpuglan mengenai keefektifan suatu pengendalian, tingkat keyakinan yang dapat diberikan oleh auditor meningkat. Sebaliknya, jika bukti yang dikumpulkan tidak mendukung berbagai kesimpulan, tingkat keyakinan yang diberikan oleh auditor menjadi berkurang.
Dalam mengevaluasi bukti, auditor melakukan pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. Dalam merumuskan kesimpulan tentang efektivitas kebijakan dan prosedur pengendalian, auditor sering kali mempertimbangkan frekuensi penyimpangan yang dapat diterima (biasanya dinyatakan dalam suatu persentase) dari pelaksanaan pengendalian semestinya. Jika hasil pengujian mengakibatkan auditor berkesimpulan bahwa frekuensi penyimpangan lebih kecil atau sama dengan tingkat penyimpangan yang dapat diterima, operasi pengendalian yang di uji dipandang efektif. Sebelum auditor mengambil kesimpulan tentang efektivitas pengendalian, auditor harus mempertimbangakan pula penyebab terjadinya penyimpangan. Penyimpangan yang disebabkan oleh penggantian sementara karyawan. Yang mengambil hak cutinya akan berbeda kesimpulannya dengan penyimpangan yang disebabkan karyawan yang tidak terlatih dan berpengalaman. Penyimpangan yang disebabkan oleh kekeliruan yang disengaja dan kecurangan.
Penaksiran risiko pengendalian dapat dilakukan oleh auditor dalam bentuk kuantitatif atau kualitatif. Dalam bentuk kuantitatif, auditor misalnya dapat menyatakan bahwa terdapat 40% risiko pengendalian yang bersangkutan tidak dapat mencegah atau mendeteksi salah saji tertentu. Dalam bentuk kualitatif, auditor dapat menyatakan bahwa terdapat risiko rendah, menengah, atau tinggi pengendalian yang bersangkutan tidak akan dapat mencegah atau mendeteksi salah saji.
Penaksiran risiko pengendalian untuk suatu asersi merupakan faktor penentu tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk suatu asersi, yang pada gilirannya akan berdampak terhadap tingkat pengujian substantif yang direncanakan (yang mencakup sifat, saat, dan lingkup pengujian substantif) yang harus dilakukan untuk menyelesaikan audit. Jika risiko pengendalian ditaksir terlalu rendah, risiko deteksi dapat terlalu tinggi ditetapkan dan auditor dapat melaksanakan pengujian substantif yang tidak memadai sehingga auditnya tidak efektif. Sebaliknya, jika risiko pengendalian ditaksir telalu tinggi, auditor dapat melakukan pengujian substantif melebihi dari jumlah yang diperlukan, sehingga auditor melakukan audit yang tidak efesien.

B.       Pengujian Pengendalian
Pengujian pengendalian adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan efektivitas desain dan/atau operasi pengendalian intern.[3] Dalam hubungannya desain pengendalian intern, pengujian pengendalian yang dilakukan oleh auditor berkaitan dengan apakah kebijakan dan prosedur telah di desain memadai untuk mencegah atau mendeteksi salah saji material dalam asersi tertentu laporan keuangan. Sebagai contoh, penyimpanan surat berharga klien di almari besi yang nomor kodenya di tangan bendahara dan direktur keuangan merupakan kebijakan pengendalian yang memadai untuk mengurangi risiko salah saji dalam asersi keberadaan atau keterjadian untuk akun investasi sementara.
Pengujian pengendalian dapat diterapkan terhadap pengendalian golongan besar transaksi dan/atau suatu saldo akun. Karena tujuan Intern mencangkup (1) keandalan pelaporan keuangan, (2) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, dan (3) efektivitas dan efisiensi operasi, pengujian pengendalian yang dilakukan oleh auditor hanya diterapkan terhadap pengendalian yang dipandang relevan dengan pencegahan atau pendeteksian salah saji material dalam laporan keuangan. Pengujian pengendalian dilaksanakan oleh auditor selama perencanaan audit dan dalam pekerjaan interim. Pengujian pengendalian juga dapat diterapkan dalam kedua strategi audit: (1) pendekatan terutama substantif dan (2) pendekatan risiko pengendalian rendah.
      1.      Pengujian Pengendalian Bersamaan (Concurrent Tests of Controls)
Pengujian pengendalian bersamaan dilaksanaan oleh auditor bersamaan waktunya dengan usaha pemerolehan pemahaman atas pengendalian intern. Pengujian ini dilakukan oleh auditor, baik dalam strategi pendekatan terutama substantif maupun dalam pendekatan risiko pengendalian rendah. Pengujian pengendalian bersamaan terdiri dari prosedur untuk memperoleh pemahaman dan sekaligus untuk mendapatkan bukti efektivitas pengendalian intern. Pengujian pengendalian bersamaan merupakan hasil sampingan prosedur yang ditempuh oleh auditor dalam memperoleh pemahaman atas pengendalian intern atau dapat juga merupakan prosedur yang memang direncanakan untuk mendapatkan hasil ganda: memperoleh pemahaman dan medapatkan bukti efektivitas pengendalian intern.
Bukti yang diperoleh dari pengujian pengendalian bersamaan umunya hanya menghasilkan taksiran tingkat risiko pengendalian sedikit di bawah maksimum sampai ke tingkat yang tinggi. Hal ini di sebabkan pengujian pengendalian ini dilaksanakan oleh auditor pada tahap perencanaan auditnya, sehingga auditor tidak dapat menguji konsistensi penerapan kebijakan dan prosedur pengendalian dalam keseluruhan tahun yang diaudit.
      2.      Pengujian Pengendalian Tambahan atau Pengujian Pengendalian yang Direncanakan
Pengujian pengendalian ini dilaksanakan oleh auditor dalam pekerjaan lapangan. Pengujian pengendalian ini dapat memberikan bukti tentang penerapan semestinya kebijakan dan prosedur pengendalian secara konsisten sepanjang tahun yang di audit. Pengujian ini biasanya dilaksanakan oleh auditor jika, berdasarkan hasil pengujian pengendalian bersamaan yang memperlihatkan pengendalian intern yang efektif, auditor kemudian mengubah strategi auditnya dari pendekatan terutama substantif ke pendekatan risiko pengendalian rendah. Dalam kondisi ini, pengujian pengendalian ini seringkali disebut “pengujian pengendalian tambahan (additional test of controls). Pengujian pengendalian tambahan ini hanya dilaksangakan bilamana dengan tambahan bukti tentang efektivitas pengendalian intern, auditor akan mendapatkan taksiran awal tingkat risiko pengendalian yang rendah dan biaya untuk mendapatkan bukti tersebut efisien.
Jika pengujian pengendalian ini dilaksanakan dalam strategi untuk mendapatkan taksiran awal tingkat risiko pengendalian rendah, pengujian pengendalian ini disebut dengan “pengujian pengendalian yang direncanakan (planned test of control”. Pengujian ini dilaksanakan untuk menentukan taksiran awal risiko pengendalian moderat atau rendah sesuai dengan tingkat pengujian substantif yang direncanakan.
C.      Perancangan Pengujian Perencanaan
Disamping auditor dapat memilih pengujian pengendalian bersamaan atau pengujian pengendalian tambahan atau pengujian pengendalian tambahan atau pengujian pengendalian yang direncanakan, auditor dapat memilih jenis prosedur yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengujian pengendalian, saat, dan lingkup pengujian pengendalian.
       1.      Jenis Pengujian Pengendalian
Jenis pengujian pengedalian yang dapat dipilih auditor dalam pelaksanaan pengujian pengendalian adalah:
a.    Permintaan keterangan
Pengujian pengendalian dapat dilakukan oleh auditor dengan meminta keterangan dari personel yang berwenang tentang pelaksanaan pekerjaan mereka, yang berkaitan dengan pelaporan keuangan.
Permintaan keterangan didesain untuk menentukan:
·           Pemahaman personel terhadap tugas-tugasnya
·           Pelaksanaan pekerjaan mereka secara individual
·           Frekuensi, penyebab, dan penyelesaian penyimpangan yang terjadi
b.    Pengamatan
Pengamtan dilaksanakan oleh auditor terhadap pelaksanaan pekerjaan personel. Pengamatan atas pelaksanan pekerjaan personel dapat menghasilkan bukti serupa dengan permintaan keterangan. Secara ideal, prosedur pengamatan dilaksanakan tanpa sepengetahuan personel yang diamati dan bersifat mendadak.
c.    Inspeksi
Inspeksi dilaksanakan terhadap dokumen dan laporan yang menunjukkan kinerja pengendalian. Prosedur ini cocok digunakan bila terdapat jejak transaksi, yang berupa tanda tangan diatas dokumen (baik dokumen sumber maupun dokumen pendukung) dan cap pengesahan.
d.   Pelaksanaan kembali
Prosedur pelaksanaan kembali (reperforming) tidak diguanakan oleh auditor dalam pemerolehan pemahaman atas pengendalian intern, namun diguanakan untuk menilai efektivitas pengendalian intern.
       2.      Waktu Pelaksanaan Pengujian Pengendalian
Pengujian pengendalian tambahan dilaksanakan dalam pekerjaan interim, yang dapat dalam jangka waktu beberapa bulan sebelum akhir tahun yang diaudit. Pengujian pengendalian ini hanya memberikan bukti efektivitas pengendalian intern dalam periode sejak tanggal awal tahun yang diaudit sampai tanggal pengujian. Padahal menurut standar auditing yang ditetapkan IAI, auditor diharuskan untuk mengumpulkan bhukti efektivitas pengendalian intern sepanjang tahun yang dicakup oleh laporan keuangan yang diaudit. Oleh karena itu, dengan pertimbangan efisiensi, pengujian pengendalian harus dilaksanakan sedekat mungkin dengan akhir tahun yang diaudit.
       3.      Lingkup Pengujian Pengendalian
Biasanya semakin luas lingkup pengujian pengendalian yang dialkaukan oleh auditor, akan dapat dikumpulkan bukti lebih banyak mengenai efektivitas pengendalian intern.
Lingkup pengujian pengendalian secara langsung dipengaruhi oleh taksiran tingkat risiko pengendalian yang direncanakan. Diperlukan pengujian dengan lingkup yang lebih luas untuk taksiran tingkat pengendalian moderat atau rendah.
D.      Program Audit Untuk Pengujian Pengendalian
Keputusan yang diambil oleh auditor berkaitan dengan jenis, lingkup, dan saat pengujian pengendalian harus didokumentasikan dalam suatu program audit dan kertas kerja yang bersangkutan. Program audit adalah daftar prosedur audit untuk seluruh audit unsur tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit.
E.       Kerja Sama Dengan Auditor Intern Dalam Pengujian Pengendalian
Bilamana auditor independen melakukan audit atas laporan keuangan entitas yang memiliki fungsi audit intern, auditor independen dapat:
·           Melakukan koordinasi pekerjaan auditnya dengan auditor intern, dan/atau.
·           Menggunakan auditor intern untuk menyediakan bantuan langsung dalam audit.
      1.      Koordinasi Auditor dengan Auditor Intern
Auditor intern bertanggung jawab untuk memantau pengendalian intern entitas sebagai bagian dari tugas rutinitas. Auditor dapat melakukan koordinasi pekerjaan dengan auditor intern dan mengurangi jumlah lokasi atau divisi perusahaan yang akan diterapi pengujian pengendalian. Dalam mengkoordinasi pekerjaannya dengan auditor intern, auditor independen melakukan:
a.    Rapat periodik dengan auditor intern,
b.    Melakukan review jadwal kerja auditor intern,
c.    Meminta izin untuk akses ke kertas kerja auditor intern,
d.   Melakukan review terhadap laporan audit.[4]
Bilamana auditor independen melaksanakan koordinasi pekerjaan dengan auditor intern, auditor independen harus mengevalusi kualitas dan efektivitas pekerjaan auditor intern. SA Seksi 322 Pertimbangan Auditor atau Fungsi Audit Intern dalam Audit atas Laporan Keuangan memberikan panduan bagi auditor independen dalam melakukan evaluasi kualitas dan efektivitas pekerjaan auditor intern. Auditor independen harus menguji pekerjaan auditor intern dan menentukan apakah:
a.       Lingkup pekerjaan auditor intern memadai untuk memenuhi tujuan pekerjaan.
b.      Program audit memadai untuk mencapai tujuan audit.
c.       Kertas kerja ynag dibuat memadai untuk mendokumentasikan pekerjaan yang telah dilaksanakan, termasuk mencerminkan adanya supervisi dan review atas pekerjaan ynag telah dilaksanakan.
d.      Kesimpulan dibuat memadai sesuai dengan keadaan.
e.       Laporan sesuai dengan pekerjaan yang telah dilaksanakan.
       2.      Bantuan Langsung
Menurut SA Seksi 322 Pertimbangan Auditor atas Fungsi Audit intern dalam Audit atas Laporan Keuangan, auditor independen dapat meminta audior intern untuk memberikan bantuan langsung yang berkaitan dengan pekerjaan yang secara spesifik diminta oleh auditor independen dari auditor intern untuk menyelesaikan beberapa aspek pekerjaan auditor independen.
Bila bantuan langsung disediakan, auditor harus:
a.       Menetukan kompetensi objektivitas auditor intern dan melakukan supervisi, review, evaluasi, serta pengujian pekerjaan yang dilaksanakan oleh auditor intern ynag luasnya disesuaikan dengan keadaan.
b.      Memberitahu auditor intern mengenai tanggung jawab auditor intern tersebut, tujuan prosedur yang dilaksanakan oleh auditor intern, serta hal-hal yang mngkin berdampak terhadap sifat, ssat, dan lingkup prosedur audit, seperti masalah akuntansi dan auditing.
c.       Memberitahu auditor intern bahwa semua masalah akuntansi dan auditing yang signifikan yang ditemukan selama audit harus diberitahukan kepada auditor independen.
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Penaksiran risiko pengendalian pengendalian untuk asersi merupakan faktor penentu tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk suatu asersi, yang pada gilirannya akan berdampak terhadap tingkat pengujian substantif yang direncanakan (yang mencangkup sifat, saat, dan lingkup pengujian substantif) yang harus dilakukan untuk menyelesaikan audit. Jika risiko penggendalian ditaksir terlalu rendah, risiko deteksi dapat terlalu tinggi ditetapkan dan auditor dapat melaksanakan pengujian substantif yang tidak memadai, sehingga auditnya tidak efektif. Sebaliknya, jika risiko pengendalian ditaksir terlalu tinggi, auditor dapat melakukan pengujian substantif melebihi dari jumlah yang diperlukan, sehingga auditor melakukan audit yang tidak efisien.
Pengujian pengendalian adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan efektivitas desain dan/atau operasi pengendalian intern. Berbagai pengujian pengendalian dapat dipilih oleh auditor dalam pelaksanaan auditnya:
1.      Pengujian pengendalian bersamaan, yang terdiri dari prosedur untuk memperoleh pemahaman dan sekaligus untuk mendapatkan bukti tentang efektivitas pengendalian intern.
2.      Pengujian pengendalian tambahan, yang merupakan pengujian yang biasanya dilaksanakan oleh auditor jika, berdasarkan hasil pengujian pengendalian bersamaan yang memperlihatkan pengendalian intern yang efektif, auditor kemudian mengubah strategi auditnya dari pendekatan terutama substantif ke pendekatan risiko pengendalian rendah.
3.      Pengujian pengendalian yang direncanakan, yang merupakan pengujian yang dilaksanakan untuk menentukan taksiran awal risiko pengendalian moderat atau rendah sesuai dengan tingkat pengujian substantif yang direncanakan.
4.      Pengujian dengan tujuan ganda, yang merupakan pengujian yang desain sedemikian rupa sehingga auditor dapat mengumpulkan bukti tentang kekeliruan moneter dalam akun.


DAFTAR PUSTAKA
Gondodiyoto, Sanyoto, Audit Sistem Informasi, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2007.
Mulyadi, Auditing,Ed. 4, Jakarta: Salemba Empat, 2014.
Valery G. Kumaat, Internal Audit, Bandung: Erlangga, 2011.



[1] Gondodiyoto, Sanyoto, Audit Sistem Informasi, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2007), hlm. 177.
[2] Mulyadi, Auditing,Ed. 4, (Jakarta: Salemba Empat, 2014), hlm. 226.
[3] Ibid, hlm. 229.
[4] Valery G. Kumaat, Internal Audit, (Bandung: Erlangga, 2011), hlm. 29-30.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel