-->

Makalah Epistimologi Irfani dan Akhlak Menurut Al-Ghazali (Makalah Lengkap)

Epistimologi irfani adalah salah satu model penalaran yang dikenal dalam tradisi keilmuan islam, di samping bayani dan burhani. Epistimologi ini dikembangkan dan digunakan dalam masyarakat sufi, berbeda dengan epistimologi burhani yang dikembangkan oleh para filsuf dan epistimologi bayani yang dikembangkan dan digunakan dalam keilmuan-keilmuan islam pada umumnya.


BAB I
PENDAHULUAN
 
     A.    Latar Belakang
Mungkin kita baru mengenal kata irfani. irfan sendiri berasal dari bahasa arab ‘arafa, semakna dengan makrifat, yang berarti pengetahuan, tetapi berbeda dengan ilmu (‘ilm). Irfan atau makrifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan (kasif) lewat olah ruhani (riyadhah) yang dilakukan atas dasar hub (cinta) atau iradah (kemauan yang kuat), sedangkan ilmu menunjukkan pada pengetahuan yang diperoleh lewat tranformasi (naql) atau rasionalitas (aql).
Kata akhlak sudah sangat akrab di tengah kehidupan kita. Mungkin hampir semua orang mengetahui arti kata akhlak karena perkataan akhlak selalu dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Akan tetapi, agar lebih jelas dan meyakinkan, kata akhlak masih perlu untuk diartikan secara bahasa maupun istilah. Dengan demikian, pemahaman terhadap kata akhlak tidak sebatas kebiasaan praktis yang setiap hari kita dengar, tetapi sekaligus dipahami secara filosof, terutama makna substansinya.
Sedangkan tasawwuf adalah membersihkan hati dari apa yang mengganggu makhluk, berjuang meninggalkan pengaruh budi yang asal kita memadamkan sifat-sifat yang merupakan kelemahan kita, menjauhkan diri dari seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat kerohanian, bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal.

      B.     Rumusan Masalah
1)      Apa yang dimaksud dengan epistimologi irfani?
2)      Apa yang dimaksud dengan akhlak menurut al-Ghazali?

      C.     Tujuan
1)      Untuk mengetahui pengertian epistimologi irfani
2)      Untuk mengetahui akhlak menurut al-Ghazali

   
BAB II
PEMBAHASAN
  
      A.    IRFANI
Epistimologi irfani adalah salah satu model penalaran yang dikenal dalam tradisi keilmuan islam, di samping bayani dan burhani. Epistimologi ini dikembangkan dan digunakan dalam masyarakat sufi, berbeda dengan epistimologi burhani yang dikembangkan oleh para filsuf dan epistimologi bayani yang dikembangkan dan digunakan dalam keilmuan-keilmuan islam pada umumnya.[1]
Secara singkat dapat dikatakan bahwa epistimologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan mengenai masalah hakikat pengetahuan. Dengan kata lain epistimologi merupakan disiplin filsafat yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan dengan pengetahuan.[2]
Dengan kepustakaan yang membicarakan epistimologi terdapat sejumlah istilah yang mempunyai pengertian sama atau hampir sama dengan pengertian yang di kandung oleh epistimologi.[3]
Secara etimologis, epistimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos biasanya dipakai untuk menunjukkkan pengetahuan sistematik. Sehingga dapat disimpulkan epistimologi adalah pengetahuan sistematik tentang pengetahuan.[4]
Istilah irfan sendiri berasal dari bahasa arab ‘arafa, semakna dengan makrifat, yang berarti pengetahuan, tetapi berbeda dengan ilmu (‘ilm). Irfan atau makrifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan (kasif) lewat olah ruhani (riyadhah) yang dilakukan atas dasar hub (cinta) atau iradah (kemauan yang kuat), sedangkan ilmu menunjukkan pada pengetahuan yang diperoleh lewat tranformasi (naql) atau rasionalitas (aql).[5]
Kemudian, kata ini lebih dikenal sebagai terminologi mistik dengan kata ma’rifah dalam pengertian “pengetahuan tentang Tuhan”. Sedangkan pengetahuan irfan (pengetahuan esoteris) adalah pengetahuan yang diperoleh qalb, melalui kasyf, dan iyan (persepsi langsung).[6]
Menurut kalangan irfaniun (para penganut nalar gnostik), pengetahuan tentang Tuhan (hakikat Tuhan) tidak dapat diketahui melalui bukti-bukti empiris rasional, tetapi dapat diketahui melalui pengalaman langsung (mubasyarah). Untuk dapat berhubungan langsung dengan Tuhan, seseorang harus mampu melepaskan diri dari segala ikatan dengan alam yang menghalanginya. Dalam konsep irfani, Tuhan dipahami sebagai realitas yang berbeda dan tidak berhubungan dengan alam. Sementara itu akal, indera dan segala yang ada di dunia ini merupakan bagian dari alam sehingga tidaklah mungkin mengetahui Tuhan dengan itu. Satu-satunya perangkat yang dapat digunakan untuk mengetahui hakikat Tuhan adalah melalui nafs, sebab ia merupakan bagian dari Tuhan yang terlempar dari alam keabadian dan terpasung kealam dunia. Ia akan kembali kepada-Nya apabila telah terbebas dari berhubungan dengan alam dan bersih dari segala dosa.[7]
Konsep irfani ini kemudian dikembangkan oleh ashab al-Akhwal wa al-Syath sebagai mauqif yaitu keadaan dimana pemahaman seseorang terhadap dirinya untuk menemukan jati diri yang sebenarnya sehingga dia mampu melepaskan diri dari alam dan menyatu dengan Tuhan. Ketika bertemu dengan Tuhan, segala hakikat yang lain tertanam dengan sendirinya di dalam kalbunya. [8]
Hal diatas tersebut, kemudian dikembangkan oleh ahli-ahli filsafat batini dan kalangan Syiah Ismailiyah menjadi teori-teori pemikiran guna memberikan interprestasi terhadap realitas alam, manusia, asal-usul, dan tujuan akhirnya. Pengetahuan ini kemudian di klaim sebagai kebenaran tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia sebab langsung diberikan oleh Tuhan.[9]

       B.     AKHLAK
Istilah akhlak sudah sangat akrab di tengah kehidupan kita. Mungkin hampir semua orang mengetahui arti kata akhlak karena perkataan akhlak selalu dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Akan tetapi, agar lebih jelas dan meyakinkan, kata akhlak masih perlu untuk diartikan secara bahasa maupun istilah. Dengan demikian, pemahaman terhadap kata akhlak tidak sebatas kebiasaan praktis yang setiap hari kita dengar, tetapi sekaligus dipahami secara filosof, terutama makna substansinya. [10]
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu jama’ dari kata “khulukun” yang secara linguistik diartikan dengan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, tatakrama, sopan santun, adab, dan tindakan. Kata akhlak juga berasal dari kata “khalaqa” atau “khalqun”, artinya kejadian, serta erat hubungannya dengan “khaliq”, artinya menciptakan, tindakan atau perbuatan, sebagaimana terdapat kata “al-khaliq”, artinya pencipta dan makhluk, artinya yang diciptakan.[11]
Sedangkan yang dimaksud ilmu akhlak dalam arti istilah adalah:
1.      Menurut al-Ghazali adalah
“sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan berbagai jenis perbuatan dengan gampang dan mudah, dengan tidak membutuhkan pertimbangan dan perenungan”.
2.      Menurut ibn Maskawih adalah
“sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan”.[12]
Dengan definisi-definisi diatas, maka akhlak dapat digambarkan sebagai berikut: pertama, akhlak adalah perbuatan yang tertancap dalam jiwa manusia secara kuat dan mendalam sehingga telah menjadi watak, karakter dan kepribadiannya. Sehingga ketika seorang mempunyai akhlak tertuntu maka dia akan memperlihatkan sifat dan perangai yang disandang kepadanya. [13]
Kedua, akhlak seseorang bersifat mudah untuk dikerjakan. Ciri ini menggambarkan bahwa seorang yang memiliki akhlak tertentu maka dia dengan mudah melakukannya tanpa di paksa dan di suruh sekalipun, karena pekerjaan itu telah menjadi kebiasaan sehari-hari.[14]
Ketiga, adalah bahwa akhlak adalah sifat, perangai yang ketika akan melaksanakannya tidak memerlukan pertimbangan dan pemikiran.[15]
Dengan demikian yang dimaksud Ilmu Akhlak adalah ilmu yang mempelajari sifat/ perbuatan/ amalan/ perilaku yang menghasilkan keutamaan dan kemuliaan serta  cara-cara yang harus ditempuh untuk mencapainya, disamping itu, dia juga mempelajari sifat/ perbuatan/ amalan/ perilaku yang mengakibatkan kehinaan dan kerendahan.[16]
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa, ketinggian dan keluhuran akhlak sangat menentukan derajat manusia baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesama manusia. Karena akhlak dapat menjadikan seseorang dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawab sebagai seorang muslim.[17]
Ada dua macam akhlak yang harus kita ketahui yaitu:
     a)      Akhlak Terpuji
Yang dimaksud dengan akhlak yang terpuji adalah sikap/perilaku dan perbuatan yang mendatangkan manfaat dan kebaikan kepada diri sendiri dan makhluk lainnya. Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa dan penyampai risalah terakhir ketauhidan menjadi mukjizat wajah dunia ( terutama bangsa Arab pada saat itu) dari kejahiliyahan menjadi bangsa yang terang benderang, beradab dan penuh dengan rasa kemanusiaan dan kecintaan antara sesama.[18]
Akhlak yang terpuji sebagaimana dipraktekkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dapat di bagi menjadi tiga yaitu:
·         Akhlak kepada Allah
Akhlak kepada Allah adalah sifat, perilaku dan perbuatan yang baik dan terpuji dalam hubungan seseorang dengan Allah. Akhlak ini mencakup segala bentuk pengabdian dan peradaban seorang hamba kepada Allah dalam bentuk keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Dalam bentuk keyakinan, akhlak kepada Allah segala bentuk kepercayaan, keyakinan dan keimanan yang benar kepada Allah SWT.
·         Akhlak kepada sesama manusia, adalah semua sifat, perilaku seseorang yang baik dengan hubungannya dengan manusia lain.
·         Akhlak kepada hewan dan lingkungan sekitar
Islam mengajarkan agar ummatnya menjaga alam sekitar dan memperlakukan hewan dengan tidak kasar.[19]
     b)      Akhlak Tercela
Yang dimaksud dengan akhlak tercela adalah sifat, perilaku dan perbuatan yang merugikan kepada diri sendiri dan orang lain. Dalam pandangan al Ghazali, akhlak yang tercela disebut dengan al mazdmumah, yaitu segala perilaku yang dicela oleh Allah dan oleh makhluk.[20]
Dalam alquran disebutkan, bahwa manusia memiliki akhlak tercela karena ia memiliki nafsu yang mengajaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah.[21]
 
Macam-macam akhlak tercela antaranya sebagai berikut:
·         Menceritakan kejelekan/kejahatan orang lain
·         Sombong
·         Iri dan Dengki.[22]

      C.    TASAWWUF
Terdapat beberapa pendapat dari para ahli tentang asal muasal kata tasawwuf, yaitu:
Pertama, mereka yang menyatakan bahwa tasawwuf berasal dari kata Ahlu Suffaah yaitu dinisbatkan kepada sebagian sahabat Rasulullah SAW yang hidupnya selalu menempati ruangan-ruangan di serambi masjid Rasulullah di Madinah. Mereka makan, minum, tidur di serambi masjid ini. Mereka memusatkan perhatian dalam hidupnya untuk beribadah kepada Allah untuk mencari keridhaannya.[23]
Kedua, kata tasawwuf berasal dari kata shafa yang berarti bersih/suci. Kata ini dinisbatkan kepada orang-orang yang selalu menjaga kebersihan dan kesucian hatinya dengan selalu menjauhi segala bentuk pelanggaran dan kemaksiyatan kepada Allah serta selalu melakukan ketaatan kepada Allah.[24]
Ketiga, mereka yang menyatakan bahwa tasawwuf berasal dari kata shaff, yang dinisbatkan kepada barisan perang. Mereka kaum Sufi, mereka yang selalu berada di shaf depan dalam sholat bersama Rasulullah.[25]
Keempat, mereka menyatakan bahwa tasawwuf berasal dari kata saufi yang berarti kebijaksanaan. Kata ini dinisbatkan kepada kaum Sufi yang selalu cinta kepada kebenaran dan kebijaksanaan.[26]

Kelima, mereka yang menyatakan bahwa kata tasawwuf berasal dari shuff yang berarti bulu domba. Kata ini dinisbatkan kepada kaum Sufi yang dalam kesehariannya selalu menggunakan kain shuff, yaitu kain kasar terbuat dari bulu domba.[27]
Keenam, mereka yang menyatakan bahwa tasawwuf berasal dari kata shaufanah, yaitu buah-buahan kecil yang berbulu banyak yang tumbuh di padang pasir. Ini juga dinisbatkan kepada kehidupan kaum Sufi yang selalu sederhana.[28]
Adapun pengertian tasawwuf dari segi istilah, Dalam perspektif ini tasawwuf dapat memiliki berbagai definisi yang bergantung kepada sudut pandang para ahli. Abu Bakar Al-Kattani menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tasawwuf adalah penyangkalannya pada pendapat bahwa tasawwuf dalam bentuk dari ilmu. Ia menyatakan bahwa tasawwuf adalah moral. Demikian juga menurut Abil Husain al Nuri yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tasawwuf bukan merupakan disiplin ilmu tapi merupakan moral, karena kalau tasawwuf merupakan suatu bentuk ilmu maka dapat dicapai dengan cara belajar. sedangkan tasawwuf  adalah berakhlak dengan akhlak. Tuhan yang tidak dapat dicapai dengan ilmu atau gambaran.[29]
Al Junaid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tasawwuf adalah membersihkan hati dari apa yang mengganggu makhluk, berjuang meninggalkan pengaruh budi yang asal kita memadamkan sifat-sifat yang merupakan kelemahan kita, menjauhkan diri dari seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat kerohanian, bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal.[30]




BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1)      Epistimologi irfani adalah salah satu model penalaran yang dikenal dalam tradisi keilmuan islam, di samping bayani dan burhani. Epistimologi ini dikembangkan dan digunakan dalam masyarakat sufi, berbeda dengan epistimologi burhani yang dikembangkan oleh para filsuf dan epistimologi bayani yang dikembangkan dan digunakan dalam keilmuan-keilmuan islam pada umumnya.
2)      Menurut al-Ghazali adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan berbagai jenis perbuatan dengan gampang dan mudah, dengan tidak membutuhkan pertimbangan dan perenungan.
B.     Saran
Saya harapkan dengan makalah ini penulis dan pembaca dapat lebih mengenal tantang irfani: 1) Akhlak, 2) Tasawwuf. Dan saya sangat berharap kritik dan sarannya karena saya juga sambil belajar dan memahami materi ini dan mengupayakan untuk menerapkan jika sudah tepat pada waktunya. 

 
DAFTAR PUSTAKA
Sholichin, Mohammad Muchlis. Ilmu Akhlak Dan Tasawwuf. pamekasan: STAIN Pamekasan, 2009
Sholichin, Mohammad Muchlis. Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer. Surabaya: Pena Salsabila, 2014
Soebani, Beni Ahmad. Ilmu Akhlak. Bandung: Pustaka Setia, 2010
Soleh, Khudori. Filsafat Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2014
Susanto, Edi. Dimensi Studi Islam Kontemporer. Jakarta: Prenadamedia Group, 2016
Wahyudi, Imam Pengantar Epistimologi, Yogyakarta: Badan Penerbit Filsafat UGM, 2007         
 


[1]  Khudori Soleh, Filsafat Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2014), hlm, 253
[2]  Imam Wahyudi Pengantar Epistimologi, (Jogyakarta: Badan Penerbit Filsafat UGM, 2007), hlm, 1
[3]  Imam Wahyudi Pengantar Epistimologi, hlm, 1
[4]  Imam Wahyudi Pengantar Epistimologi, hlm, 1
[5]  Khudori Soleh, Filsafat Islam, hlm, 253
[6]  Edi Susanto, Dimensi Studi Islam Kontemporer, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016), hlm, 116
[7]  Edi Susanto, Dimensi Studi Islam Kontemporer, hlm, 117
[8]  Edi Susanto, Dimensi Studi Islam Kontemporer, hlm, 118
[9]  Edi Susanto, Dimensi Studi Islam Kontemporer, hlm, 118
[10] Beni Ahmad Soebani, Ilmu Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm, 13     
[11]  Beni Ahmad Soebani, Ilmu Akhlak, hlm, 13                                          
[12]  Mohammad Muchlis Sholichin, Ilmu Akhlak Dan Tasawwuf, (pamekasan: STAIN Pamekasan, 2009), hlm, 3
[13] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, (Surabaya: Pena Salsabila, 2014), hlm, 4-5    
[14] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 5
[15] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 5
[16] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 6
[17] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 6
[18] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 64
[19] Mohammad Muchlis sholichin, Ilmu Akhlak Dan Tasawwuf, hlm, 75-81
[20] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 89
[21] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 89
[22] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 89-100
[23] Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 117
[24]  Mohammad Muchlis sholichin, Ilmu Akhlak Dan Tasawwuf, hlm, 106
[25]  Mohammad Muchlis sholichin, Ilmu Akhlak Dan Tasawwuf, hlm, 107
[26]  Mohammad Muchlis sholichin, Ilmu Akhlak Dan Tasawwuf, hlm, 107
[27]  Mohammad Muchlis sholichin, Ilmu Akhlak Dan Tasawwuf, hlm, 107
[28]  Mohammad Muchlis sholichin, Ilmu Akhlak Dan Tasawwuf, hlm, 108
[29]  Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 119
[30]  Mohammad Muchlis sholichin, Akhlak Dan Tasawwuf Dalam Wacana Kontemporer, hlm, 120

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel