-->

Pentingnya Menuntut Ilmu

Apabila kita memperhatikan isi al-Qur’an dan al-Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi ummat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menurut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu baik dengan jalan menanya, melihat dan mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW:
Artinya: “Menuntut ilmu adalah wajib bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari).


     A.   Pengertian Ilmu
Dalam bahasa Inggris ilmu dipadakan dengan “science” , sedang pengetahuan dipadakan dengan “knowledge”. Dalam bahasa Indonesia kata “science”  umumnya diartikan ilmu, tapi sering juga diartikan ilmu pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu pada makna yang sama.
Ibnu Munir mengatakan : ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan bernilai kecuali dengan ilmu, maka ilmu harus ada sebelum perkataan dan perbuatan, karena ilmu merupakan pembenaran niat, sedangkan amal tidak akan diterima kecuali dengan niat yang benar. [1]
Menurut sebagian pendapat, kata ilmu itu merupakan isim jinis yang berati pengetahuan. kemudian pengertian kata ilmu ini berkembang dalam berbagai istilah dan dipakai sebagai nama dari pengetahuan tentang al-Qur’an.
Kata ilmu didefinisikan para ahli teologi adalah suatu sifat yang dengan sifat itu orang yang mempunyainya akan menjadi jelaslah baginya sesuatu urusan.
Di dalam kitab al- Maqaashid, Imam Asy-Sya’bi mengatakan: ilmu yang telah dibukukan adalah merupakan kumpulan gambaran sesuatu atau kata-kata tunggal yang makna-maknanya digambarkan oleh akal pikiran, terhimpun dalam satu arah ( satu disiplin ilmu pengetahuan).[2]

      B.   Hadits-hadist yang menjelaskan pentingnya menuntut ilmu dan keutamaannya
1.    Hadist hadist
Hadist-hadist yang menjelaskan pentingnya ilmu sangat banyak, tidak mungkin disebutkan semuanya dalam makalah ini. Para ulama ahli hadist pada umumnya menjelaskan pentingnya menuntut ilmu. Salah satunya sebagai berikut :
a.    وعن معاوية, رضي الله عنه, قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من يرد الله به خيرا يفقهه في الد ين. متفق عليه
Dari Mu’awiyah ra. Berkata: Rasulullah SAW Bersabda: ” Barang siapa yang dikehendaki bagi Allah untuk memperoleh kebaikan, maka Allah membuat ia menjadi pandai dalam hal agama. (Muttafaq’alaih).
Penjelasan
Hadist ini adalah hadist yang urgen, dimana seolah-olah Allah menggantungkan kebaikan seseorang terhadap agama, dalam arti kualitas dan kuantitas ilmunya dalam masalah agama. Dari sini dapat diketahui bahwa ilmu adalah penting, karena ia menjadi penentu baik-buruknya seseorang. Dengan ilmu ia akan membedakan baik dan buruk, akan membedakan salah dan benar, dan halal dan haram.[3]

b.    وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (لا حسد ٳلا في اثنتين: رجل اتا ه الله ما لا فسلطه على هلكته في الحق, ورجل اتاه الله الحكمة فهو يقضي بها, ويعلمها). متفق عليه. والمراد با لحسد: الخبطة, وهو ٲ ن يتمنى مثله.
Dari Ibn mas’ud ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ tidak boleh iri kecuali kepada dua hal: kepada orang yang Allah beri harta lalu ia menafkahkan untuk kebenaran, dan kepada orang yang dikaruniai hikmah oleh Allah, lalu ia memberikan keputusan dengannya serta mengajarkannya“.
c. وعن ٲبي هريرة رضي الله عنه ٲن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:( ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما, سهل الله له به طريقا ٳلى الجنة). رواه مسلم.                                                       
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencarin ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga”. (H.R.Muslim)
  Penjelasan:
a     “Menempuh jalan“ disini mencakup: jalan secara indrawi yaitu jalan yang dilalui kedua kaki, seperti seseorang pergi dari rumahnya menuju tempat untuk menimba ilmu baik berupa masjid, madrasah, ataupun universitas dan lain sebagainya. Dan termasuk hal ini adalah rihlah (mengadakan perjalanan) dalam rangka mencari ilmu yaitu seseorang yang rihlah dari negerinya ke negeri lain untuk mencari ilmu, maka hal ini adalah termasuk menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu.
b     Jalan secara maknawi, yaitu mencari ilmu dari pendapat dan perkataan para ulama’ dan kitab-kitab.
Maka orang yang menelaah kitab-kitab untuk mengetahui dan mendapatkan hukum permasalahan syari’at walaupun ia duduk di atas kursinya maka ia telah menempuh satu jalan mendapatkan ilmu. Barang siapa duduk di hadapan seorang syaikh (Ahlul ilmi) dia belajar darinya, maka ia telah menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu walaupun ia duduk.


2.    Keutamaan menuntut ilmu
Tidak ada seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu, karena ilmu itu khusus hanya dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, bisa dimiliki manusia dan bisa juga dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan, Allah SWT mengangkat Nabi Adam as. Diatas para malaikat. Oleh karena itu, malaikat diperintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi adam as.
Ilmu itu sangat penting karena ia sebagai perantara (sarana) untuk bertaqwa. Dengan taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat disisi Allah, dan keuntungan yang abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin al-Hasan bin Abdullah dalam syairnya: “Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghiasa bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna”. Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan taqwa, ilmu paling lurus untuk dipelajari. Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk. Tuhan yang bisa menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu, orang yang ahli ilmu yang bersifat wara’ lebih berat bagi setan daripada mengoda seribu orang ahli ibadah tapi bodoh.
Keutamaan-keutamaan ilmu:
1.    Ilmu adalah pusaka para nabi
2.    Pemilik ilmu banyak temannya
3.    Ilmu semakin diamalkan semakin bertambah
4.    Ilmu bisa menerangi hati
5.    Ilmu tidak akan berkarat dan rusak karena umur.[4]

      C.   Menuntut Ilmu Itu Wajib
Apabila kita memperhatikan isi al-Qur’an dan al-Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi ummat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menurut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu baik dengan jalan menanya, melihat dan mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW:
Artinya: “Menuntut ilmu adalah wajib bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari).
Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemaslahatan dan jalan bermanfaat, menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapat oleh ummat yang lalu, baik yang berhubungan dengan aqaid dan ibadah, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.
 Adapun ilmu yang memberikan manfaat bagi umat Islam seperti kedokteran yang mampu menyelamatkan jiwa manusia, ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti pembuatan tank dan pesawat tempur agar ummat Islam bisa mempertahankan diri dari serangan musuh adalah fardu kifayah. Paling tidak ada segolongan muslim yang menguasainya.
Bagaimanakah sikap kita terhadap kewajiban kita itu? Apakah sebab umat Islam mengalami kemunduran dalam ilmu pengetahuan? Mari kita lihat sejumlah sebab secara saksama:
 Pertama: kita tidak lagi menghormati ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak lagi berharga dalam kehidupan kita. Karena itu, kita mengimpornya dan merasa cukup dengan apa yang kita impor. Padahal, para ulama’ dari ilmuan dalam tubuh umat Islam memiliki kedudukan yang membuat Khalifah Harun al-Rasyid mengucurkan air ulama ke tangan seorang ulama untuk mencucikannya sebagai bentuk penghormatan.
Kedua : Ilmu pengetahuan di negeri kita hanya berupa selembar ijazah, bukan segudang manfaat untuk umat. Setiap murid belajae sekadar untuk lulus atau naik jenjang, tidak lebih.
  Ketiga : Tidak ada lagi orang yang mempelajari atau mengetahui sesuatu yang di sukainya. Kita tidak mengetahui apa potensi dan kemahiran yang menjadi keunggulan kita. Karena itu banyak pemuda kita, setelah lulus, mengubah haluan dalam pekerjaan, sehingga tahun-tahun study meraka terbuang percuma.
Keempat : Ini adalah inti permasalahan, yaitu pemahaman keliru para pemuda tentang islam. Sebagian mereka menggambarkan Islam hanya bertempat di masjid, sehimgga ketika menjadi orang taat, prestasi akademik mereka menurun. Akhirnya mereka gagal dan menjadi potret buruk dari sosok muslim dan citra Islam secara keseluruhan.
 Kelima : Sebab yang sangat penting. Kita menjadi umat yang tidak gemar membaca, padahal berbagai bacaan sudah demikian mudah untuk di akses, baik lewat internet maupun buku, bagi siapa saja. [5]

      D.   Manfaat Menuntut Ilmu
1.    Untuk mencari ke ridhoan Allah SWT.
2.    Untuk menghilangkan kebodohan
3.    Untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat, sebagaimana sabda Nabi SAW.
Artinya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya maka wajib baginya memilki ilmu”. (HR. Tirmidzi).
4.    Menuntut ilmu termasuk ibadah.
5.    Untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat.
6.    Menuntut ilmu dapat mengarahkan manusia pada akhlak yang baik dan benar.
7.    Kedudukan manusia baik di dunia maupun di akhirat nantinya akan berada pada kedudukan yang paling tinggi.
8.    Untuk mengetahui sesuatu hal yang tadinya belum tahu.
9.    Dapat melakukan berbagai banyak hal dalam berbagai aspek kehidupan.
10. Menjalin kehidupan dengan aman dan nyaman.[6]



[1] Havidzasyk,” makalah pendidikan agama islam: pentingnya menuntut ilmu”, tempat belajar, diakses dari https://hvdzasyk. Wordpress.com/2014/12/29/makalah-pendidikan-agama-islam-pentingnya-menuntut-ilmu, diakses pada tanggal 29 Maret 2017 pukul 20:10
[2] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an( Surabaya: CV Dunia Ilmu, 2013), hlm. 2-3.
[3] An-Nawawi, Al-Majmu’ala Syarh al-Muhadzab(Kairo: Maktabah al-muniriyah,tt), hlm.40-41
[4] Syaikh Az-Zamuji, Terjemahan Ta’lim Muta’allim(Surabaya: Mutiara Ilmu Surabaya, 1995), hlm. 6-7.
[5] Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak(Jakarta: NusantaraLestari Ceria Pratama, 2010), hlm.255-257.
[6] Vivit Fitriyani, Contoh Makalah Hadist 1 Tarbawi Tentang Menuntut Ilmu, Vivitfitriyani.blogspot.com, di akses dari http://vivitfitriyani/2 blogspot.com/2016/02/contoh-makalah-hadist-1-tarbawi-tentang. Html?, pada tanggal 30 maret 2017 pukul 19:34.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel