-->

Makalah Syarat-Syarat Atau Standart Seorang Konselor



Kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang menentukan jalannya konseling. Tidak hanya ilmu dan teknik-teknik yang harus dimiliki oleh seorang konselor. Fakta dilapangan menunjukkan, bahwa konseli (klien) tidak mau ke ruangan konselor untuk memanfaatkan konseling karena kepribadian konselor yang mereka anggap judes, keras, dan menakutkan. Oleh karena itu selain ilmu seorang konselor juga harus mempunyai kepribadian yang baik, berkualitas dan dapt dipertanggung jawabkan.


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

     Bimbingan dan Konseling, khususnya bimbingan dan konseling dalam setting sekolah dipandang merupakan profesi. Namun, pandangan mengenai status profesi ini masih terbelah, ada pihak yang mengatakan bimbingan merupakan profesi dan sudah terprofesikan, sebaliknya ada pihak yang menyatakan bukan. Lepas dari itu, di Indonesia bimbingan dan konseling merupakan bidang pekerjaan baru, menjadi salah satu dan berada di tengah bidang- bidang pekerjaan lain yang ada. Karena sifatnya baru, status profesi bimbingan dan konseling masih menjadi bahan perbincangan akademis, sementara itu di Indonesia bidang pekerjaan bimbingan dan konseling terus mengalami perkembangan.
     Kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang menentukan jalannya konseling. Tidak hanya ilmu dan teknik-teknik yang harus dimiliki oleh seorang konselor. Fakta dilapangan menunjukkan, bahwa konseli (klien) tidak mau ke ruangan konselor untuk memanfaatkan konseling karena kepribadian konselor yang mereka anggap judes, keras, dan menakutkan. Oleh karena itu selain ilmu seorang konselor juga harus mempunyai kepribadian yang baik, berkualitas dan dapt dipertanggung jawabkan.[1]
Etika berasal dari kata etik yang berarti standar tingkah laku seseorang ataupun dalam yang berdasar pada nilai-nilai yang disepakati oleh kelompok tersebut. Standar kelompok tingkah laku yang biasa disepakati,  diterjemahkan dari nilai-nilai masyarakat tertentu menjadi rencana terstruktur dalam hubungan dengan orang lain, klien dan masyarakat secara umum.
       Landasan agama dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya ingin memposisikan konseli pada posisi yang sebenarnya, yaitu manusia sebagai makhluk (ciptaan Tuhan) yang memiliki amanah sekaligus diberi kemulyaan-kemulyaan sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Pembahasan landasan agama disini terkait dengan pengintegrasian nilai-nilai agama dengan kehidupan sehari-hari dalam proses bimbingan konseling.

B. Rumusan Masalah
    1.Syarat-Syarat Atau Standart Seorang Konselor
1.1. Seperti Apa Prilaku Dan Pribadi Seorang Konselor?
1.2. Bagaimana Kompotensi Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Konselor?
1.3. Seperti Apa Nilai-Nilai Konselor Dan Klien ?
1.4. Bagaimana  Etika Profesional Konseling + Konfindensialitas?
1.5 Bagaimana Agama Dan Keyakinan Dalam Konseling?
C. Tujuan Penulisan     
    1.Syarat-Syarat Atau Standart Seorang Konselor
1.1. Untuk Mengetahui Prilaku Dan Pribadi Seorang Konselor
1.2. Untuk Mengetahui Kompotensi Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Konselor
1.3. Untuk Mengetahui Nilai-Nilai Konselor Dan Klien
1.4. Untuk Mengetahui Etika Profesional Konseling + Konfindensialitas
1.5 Untuk Mengetahui Agama Dan Keyakinan Dalam Konseling



BAB II
PEMBAHASAN
A. Prilaku Dan Pribadi Konselor
Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku social tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan. Di dalam proses konseling, konselor adalah orang yang amat bermakna bagi seorang konseli. Semua pendekatan dan ahli konseling menganggap bahwa konselor adalah pihak yang amat menentukan bagi keberhasilan proses konseling. Mengingat pentingnya peran yang diemban konselor, maka untuk menopang tugasnya konselor harus memiliki kualifikasi kepribadian yang memadai, yaitu pribadi yang penuh pengertian dan selalu mendorong orang lain untuk bertumbuh.
 Kepribadian konselor merupakan titik tumpu yang berfungsi sebagai penyeimbang antara pengetahuan mengenai dinamika perilaku dan ketrampilan. Ketika titik tumpu ini kuat, pengetahuan dan ketrampilan bekerja secara seimbang  dengan kepribadian akan berpengaruh pada perubahan perilaku positif dalam konseling. Keberhasilan konseling lebih bergantung pada kualitas pribadi konselor dibanding kecerrmatan teknik. Konselor harus memiliki pribadi yang berbeda dengan pribadi-pribadi petugas helper lain. Konselor adalah pribadi yang penuh pengertian dan mampu mendorong orang lain tumbuh. Carlekhuff menyebutkan 9 ciri kepribadian yang harus ada pada konselor, yang dapat menumbuhkan orang lain; empati (empaty), rasa hormat (respect), keaslian (genuiness), konkret (concreteness), konfrontasi (confrontation), membuka diri (self disclosure), kesanggupan (potency), kesiapan (immediacy) dan aktualisasi diri (self actualization).
Perilaku terpuji merupakan perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai, perilaku terpuji dapat menjadi teladan bagi siapapun. Maka dari itu sebagai calon konselor hendaknya dituntut untuk mempunyai perilaku terpuji karena konselor mempunyai kewajiban untuk membantu memperbaiki perilaku orang lain dan sebelum membantu memperbaiki orang lain seharusnya konselor tersebut memperbaiki perilakunya sendiri. Dengan mempunyai perilaku terpuji tersebut, konselor dapat memberikan contoh-contoh yang dapat dikatakan sebagai perilaku terpuji yang harapanya adalah agar konseli dapat tergugah motivasinya untuk berperilaku terpuji.[2]

B. Kompetensi yang Harus dimiliki Oleh Seorang Konselor
  Kegiatan bimbingan dan konseling dalam pendidikan sekolah, diselenggarakan oleh pejabat fungsional yang secara resmi dinamakan guru pembimbing. Dengan demikian, kegiatan bimbingan dan konseling disekolah merupakan kegiatan atau pelayanan fungsional yang bersifat profesional atau keahlian dengan dasar keilmuan dan teknoligi.
    Rumusan Standar Kompetensi Konselor telah dikembangkan dan dirumuskan atasdasar kerangka  fikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Namun bila ditata dalam keempat kompetensi akademik dan profesional konselor dapat dipetakan dan dirumuskan ke dalam empat kompetensi yaitu :
            1.      Kompetensi Pedagogik
   a.   Menguasai teori dan praktis pendidikan
   b.   Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseling
   c.  Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang            satuan pendidikan
2.  Kompetensi Kepribadian
   a.   Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
   b. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas dan                      kebebasan memilih
   c.   Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat
   d.   Menampilakan kinerja berkualitas tinggi
3.  Kompetensi Sosial
   a.   Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat kerja
   b.   Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbinhan dan konseling
   c.   Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi
4.  Kompetensi Profesional
   a. Menguasai konsep dan praktis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan               masalah konseling
   b.   Menguasai kerangka teoritik dan praktis bimbingan dan konseling
   c.    Menganalisis kebutuhan konseling
   d.   Mengimplementasikan program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif
   e.   Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling
   f.    Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional
   g.  Menguasai konsep dan praktis penelitian dalam bimbingan dan konseling[3]

C.  Nilai-nilai Konselor dan Klien
a.  Nilai-nilai konselor
Selaku konselor profesional harus memiliki kesadaran dalam melakukan pekerjaan dengan menampilkan keutuhan pribadi seorang konselor. Seorang konselor dalam menjalankan tugasnya harus dalam keadaan sadar dan menampilkan kepribadian yang sesuai dengan keprofesionalitasnya. Syarat petugas bimbingan, dalam hal ini adalah seseorang konselor di sekolah diantaranya adalah sifat kepribadian konselor. Seorang konselor harus meemiliki kepribadian yang baik. Kepribadian konselor sangat berperan dalam usaha membantu siswa untuk tumbuh. Banyak penelitian telah dilakukan oleh sejumlah ahli tentang ciri-ciri khusus yang dibutuhkan oleh seorang konselor.
1.  Sifat-sifat kepribadian konselor diantaranya :
   a.  Konselor adalah pribadi yang intelegen
   b.  Konselor menunjukkan minat kerja sama dengan orang lain
   c. Konselor menampilkan kepribadian yang dapat menerima dirinya dan tidak akan               menggunakan kliennya untuk kepuasan kebutuhan pribadinya melebihi batas yang                  ditentukan oleh kode etik profesionalnya.
   d. Konselor mmiliki nilai-nilai yang diakui kebenarannya sebab nilai-nilai ini akan                   mempengaruhi perilakunya dalam situasi konseling dan tingkah lakunya secara umum.
2.  Kepriadian konselor yang menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan            sebagai berikut, memiliki kemampuan :
   a.   Membedakan perilaku yang menggambarkan pendangan positif
   b.   Membedakan perilaku yang menggambarkan pandangan negatif
   c.    Membedakan individu yang berpotensi dalam layanan bimbingan dan konseling

3. Konselor yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia antara lain memiliki             kemampuan :
   a.  Menerapkan perbedaan budaya yang berperspektif gender dalam pelayanan bimbingan                  dan konseling.
b. Menerapkan perbedaan budaya yang berperspekktif hak asasi manusia dalam                     pelayanan bimbingan dan konseling
c Menerapkan perbedaan responsif perbedaan budaya konselor dengan konseli dalam            pelayanan bimbingan dan konseling.
4.  Konselor yang memiliki kesadaran terhadap komitmen profesional antara lain memiliki        kemampuan :
   a.  Dapat menjelaskan dan mengelola kekuatan dan keterbatasan pribadi dan professional
   b. Dapat menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan                                               kewenangan profesional konselor
   c.  Berupaya meningkatkan kopetensi akademik dan profesional diri
5. Komitmen profesional konselor terhadap komitmen etika profesional antara lain                  memiliki kemampuan:
   a.   Mendahulukan kepentingan konseli dari pada kepentingan pribadi konselor
   b.   Menjaga kerahasiaan klien.
        b.  Nilai-nilai klien
Kepribadian klien cukup menentukan keberhasilan proses konseling. Aspek-aspek kepribadian klien adalah sikap, emosi, intelektual, motivasi dan sebagainya. Seorang klien yang cemas akan tampak pada perilakunya dihadapan konselor. Seorang konselor yang efektif akan mengungkap perasaan-perasaan cemas klien semaksimal mungkin dengan cara menggali atau eksplorasi sehingga keluar dengan leluasa bahkan mungkin diiringi oleh air mata klien.
Jika perasaan-perasaan klien sudah dikeluarkan dengan leluasa baik secara verbal maupun dalam bentuk perilaku nonverbal, dengan jujur, maka kecemasan klien akan menurun, dia merasa lega. Bila keadaan ini terjadi berarti jiwa klien sudah tenang dan pikirannya jadi jernih. Pada situasi seperti ini konselor akan menemukan intelektuaal klien. Terutama jika konselor meminta padanya rencana, ide, tanggapan, pikiran, dan sebagainya. Akan tetapi dalam keadaan tegang, stress, kesulitan, marah, sedih, atau keadaan emosional lainnya yang negatif, sudah tentu klien akan gelap pikirannya. Jadi jika konselor ingin mengetahui tanggapan, tujuan, maksud dan sebagainya, sebaiknya setelah semua perasaan negatif tadi telah dikeluarkan, dinyatakan secara verbal oleh klien, juga dapat diamati melalui bahasa tubuh.
Sebagai mana konselor, klien juga dilatarbelakangi oleh sikap, nilai-niali, pengalaman, perasaan, hidayah, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Semua itu membentuk kepribadiannya. Saat berhadapan dengan konselor di dalam proes konseling, maka latarbelakang tersebut akan muncul baik dengan sengaja dimunculkan maupun muncul dengan sendrinya, seperti sikap. Ada klien yang bersikap curiga terhadap konselor sehingga tidak mau terrbuka dalam pembicaraan, ada lagi klien emosional, marah, dan menyerang konselor denga kata-kata. Dibalik itu ada yang diam saja, mengangguk-angguk saja, dan sedikit sekali kalimat yang keluar dari mulutnya. Ada juga klien ynag acu tak acu alias cuek, tapi akan ditemukan pula yang angkuh, manja, dan tergantung pada konselor, dan banyak pula yang menolak.[4]
D.        Etika Profesional Konseling+Konfidensialitas
      a.   Etika profesional konselor
Etika adalah suatu sistem prinsip moral, etika suatu budaya. Aturan tentang tindakan yang dianut berkenaan dengan perilaku suatu kelas manusia, kelompok, atau budaya tertentu.
Etika profesi bimbingan dan konseling adalah kaidah-kaidah periaku yang menjadi rujukan bagi konselor dalam melaksanakan tugas atau tanggung jawabnya memberi layanan bimbingan dan konseling kepada klien. Kaidah-kaidah perilaku yang dimaksud adalah :
a. Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan penghargaan sebangai manusia ; dan                         mendapatkan layanan konseling tampa melihat suku bangsa, agama, atau budaya.
b.  Setiap orang/individu memiliki hak untuk mengembangkan dan mengarahkan diri.
c.  Setiap orang memiiki hak untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap keputusan                                yang diambilnya.
d.  Setiap konselor membantu perkembangan setiap konseli, melalui layanan bimbingan dan konseling secara profesional.
e. Hubungan konselor-konseli sebagai hubungan yang membantu yang didasarkan kepada kode etik (etika profesi).
       b.  Konfiden
Menrut Siti Hartinah (2006) mengemukakan masalah lain yang berkaitan dengan kegiatan konseling adalah menyangkut soal konfidensial (kerahasiaann) klien. Konfidensial ini berkaitan dengan apakah hal-hal yang di bicarakan dalam konseling bersifat kerahasiaan atau tidak. Konfidensial iu berbeda dengan privasi yaitu sesuatu yang bersifat pribadi dan tidak perlu diketahui atau dikemukakan kepada pihak lain.
Menurut Ruebhasen dan Brim (caroll, 1995) privasi adalah kebebasan individu untuk memilih dan menentukan sikap keyakinan, tingkalh laku dan opini untuk dirinya, baik yang akan di diskusikan atau di asampaikan keada orang lain. Dengan kata lain, privasi itu berhubungan baik dengan hak untuk kehidupannya sendiri tanpa ikut campur dengan pihak lain. Sementara konfidensialitas itu berhubungan dengan pengendalian informasi yang diterima dari seseorang. Sebuah informasi dikatakan tidak di sampaikan kepihak atau publik.
Secara umum dinyatakan bahwa informasi yang dibicarakan oleh klien baik menyangkut diri bersifat konfidental, tidak dapat disampaikan secara terbuka oleh konselor kepada siapapun, termasuk kolega-koleganya. Pada dasarnya klien melakukan self-disclosure karena klien percaya bahwa konselor akan merahasiakan segalanya.[5]

E. Agama dan Keyakinan Dalam Konseling
Seorang konselor yang telah lama dilingkungi referensi dari Barat, besar kemungkinan akan mempengaruhi perilakunya, terutama terhadap agama. Mungkin dia tidak akan mempercayai bahwa jika seorang konselor yang muslim akan bisa mengembangkan konseling islami. Padahal banyak sekali ayat-ayat Allah dan Hadis Rasulullah yang dapat memberikan banyak konstribusi terhadap proses konseling, dan terhadap klien. Sebagai contoh, Allah berfirman dalam surat Saba’ ayat 28 : “dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa gembira dan peringatan”.
Dari firman ini dapat kita ambil makna bahwa :
1. Ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah sebagai bimbingan kepada       seluruh umat manusia.
2. Dalam bimbingan Rasul tersebut, pertama kali haruslah dengan memberi             kegembiraan. Arti kegembiraan adalah bahwa orang yang dibimbing itu harus merasa senang dengan pembimbing. Jika dia sudah merasa senang, maka dia akan suka atau senang mengemukakan semua perasaannya, termasuk masalahnya dan           potensinya.
3.  Selanjutnya Rasulullah akan diberikan bantuan sesuai dengan masalah saatnya   diberi peringatan, mungkin berupa nasihat, pikiran, atau aturan-aturan agama      harus dipatuhinya.
    Jadi dalam hubungan konseling, sebaiknya konselor tidak memulai perlakuan (tretment) kepada kelemahan, masalah, atau kesulitan klien. Akan tetapi sebaliknya dimulai dari hal-hal yang membahagiakan klien seperti keberhasilan diri dan keluarga, prestasi hobi (seni dan olahraga), bakat dan minat klien tersebut. Perlakuan seperti ini akan memberikan dorongan kepada klien untuk berbicara bebas dan terbuka serta penuh minat. Akan tetapi jika konselor memulai memberikan perlakuan (tretment) kepada kelemahan, kesulita, dan masalah klien yang amat dirahasiakannya maka dia akan tertutup (disclosed) dan amat sulit untuk diajak berbicara oleh konselor apalagi untuk mengungkap perasaan klien lebih mendalam, terutama mengenai rahasianya.
         Landasan Agama merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi keagamaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Dalam proses pelayanan yang diberikan pada setiap individu/siswa, konselor harus memperhatikan dimensi keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai dengan apa yang mereka yakini, tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang mereka anut. Seorang konselor sangatlah penting untuk memahami landasan agama secara baik karena konselor tidak hanya sekedar menuangkan pengetahuan ke otak saja atau pengarahan kecakapannya saja tetapi agama penting untuk menumbuh kembangkan moral, tingkah laku, serta sikap siswa yang sesuai dengan ajaran agamanya. Sehingga kepribadian serta sikap jiwanya harus dapat mengendalikan tingkah lakunya dengan cara yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan aganmanya.
                        Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan                    pada tiga hal pokok, yaitu:
a.  manusia sebagai makhluk Tuhan.
b. sikap yang mendorong perkembangan dari peri kehidupan manusia berjalan ke arah  dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama.
c. upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. [6]




BAB  III
PENUTUP
A. Kesimpulan
         Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku social tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan. Di dalam proses konseling, konselor adalah orang yang amat bermakna bagi seorang konseli. Semua pendekatan dan ahli konseling menganggap bahwa konselor adalah pihak yang amat menentukan bagi keberhasilan proses konseling. Mengingat pentingnya peran yang diemban konselor, maka untuk menopang tugasnya konselor harus memiliki kualifikasi kepribadian yang memadai, yaitu pribadi yang penuh pengertian dan selalu mendorong orang lain untuk bertumbuh.
Kegiatan bimbingan dan konseling dalam pendidikan sekolah, diselenggarakan oleh pejabat fungsional yang secara resmi dinamakan guru pembimbing. Dengan demikian, kegiatan bimbingan dan konseling disekolah merupakak kegiatan atau pelayanan fungsional yang bersofat profesional atau keahlian dengan dasar keilmuan dan teknoligi.
Selaku konselor profesional harus memiliki kesadaran dalam melakukan pekerjaan dengan menampilkan keutuhan pribadi seorang konselor. Seorang konselor dalam menjalankan tugasnya harus dalam keadaan sadar dan menampilkan kepribadian yang sesuai dengan keprofesionalitasnya. Syarat petugas bimbingan, dalam hal ini adalah seseorang konselor di sekolah diantaranya adalah sifat kepribadian konselor. Seorang konselor harus meemiliki kepribadian yang baik.
Kepribadian klien cukup menentukan keberhasilan proses konseling. Aspek-aspek kepribadian klien adalah sikap, emosi, intelektual, motivasi dan sebagainya. Seorang klien yang cemas akan tampak pada perilakunya dihadapan konselor. Seorang konselor yang efektif akan mengungkap perasaan-perasaan cemas klien semaksimal mungkin dengan cara menggali atau eksplorasi sehingga keluar dengan leluasa bahkan mungkin diiringi oleh air mata klien.
Jadi dalam hubungan konseling, sebaiknya konselor tidak memulai perlakuan (tretment) kepada kelemahan, masalah, atau kesulitan klien. Akan tetapi sebaliknya dimulai dari hal-hal yang membahagiakan klien seperti keberhasilan diri dan keluarga, prestasi hobi (seni dan olahraga), bakat dan minat klien tersebut. Perlakuan seperti ini akan memberikan dorongan kepada klien untuk berbicara bebas dan terbuka serta penuh minat. Akan tetapi jika konselor memulai memberikan perlakuan (tretment) kepada kelemahan, kesulita, dan masalah klien yang amat dirahasiakannya maka dia akan tertutup (disclosed) dan amat sulit untuk diajak berbicara oleh konselor apalagi untuk mengungkap perasaan klien lebih mendalam, terutama mengenai rahasianya.

B. Saran
Setelah penulis menguraikan kesimpulan diatas maka penulis membutuhkan saran-saran dari pembaca, yang mana dari saran tersebut dapat membantu adanya perbaikan makalah ini. Dan disarankan kepada semua pembaca untuk mencari informasi-informasi mengenai profesional dalam BK dan syarat-syarat seorang konselor.





DAFTAR RUJUKAN


Sofyan  Willis , Konseling Individual Teori Dan Praktek, Bandung : Alfabeta, 2013..
G, Corey . Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung :PT. Refika Aditama.,2009.
Latipun. Psikologi Konseling;  Malang :UNM Press,2008.
A, Yeo. Konseling Suatu Pendekatan Pemecahan Masalah.PTBPK Gunung Mulia: Jakarta.2001.
Sukardi, Dewa Ketut . Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Bina Aksara.1988.
Arifin. Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama. Jakarta: Golden Trayon, Jakarta: 1994.



[1]  Sofyan  Willis , Konseling Individual Teori Dan Praktek,( Bandung : Alfabeta, 2013).Hlm.57.


[2] Corey G. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. (Bandung :PT. Refika Aditama.,2009).Hlm.97-98.
[3] Latipun. Psikologi Konseling; ( Malang :UNM Press,2008).Hlm.128-129.

[4] Yeo, A. Konseling Suatu Pendekatan Pemecahan Masalah.(PTBPK Gunung Mulia: Jakarta.2001).Hlm.160-162


[5] Dewa Ketut Sukardi. Bimbingan dan Konseling.( Jakarta: Bina Aksara1988).Hlm.87-89.

[6] Arifin. Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama.( Jakarta: Golden Trayon, Jakarta: 1994), hlm. 28.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel