-->

Makalah Istilah-istilah Tentang Filsafat Ketuhanan (Makalah Lengkap)

Filsafat menjelaskan Tuhan sebagai zat yang impersonal, sedangkan teologi melihat Tuhan sebagai zat yang personal. Filsafat Yunani dalam beberapa hal telah sampai pada kesimpulan bahwa alam disebabkan oleh Zat yang tidak tampak, esa, kekal, dan sempurna. Namun, pemikiran ini belum sampai pada taraf Zat yang disembah dan pencipta Agama Yahudi, Kristen, dan Islam sepakat mengakui Zat tersebut adalah Tuhan yang personal, yaitu Tuhan yang mencipta dan sekaligus disembah serta dapat berhubungan dengan makhluk.


FILSAFAT KETUHANAN

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Umum
Dosen Pengampu:…………………………






Disusun Oleh :
……….
……….
……….



PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARI’AH
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
2016-2017



KATA PENGANTAR

Segala puji dan rasa syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang senantiasa mencurahkan rahmatnya kepada kita semua. Shalawat dan salam juga senantiasa kiranya penulis limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen yang bersangkutan yang telah memberikan kesempatan waktu untuk penyelesaian makalah ini dan dengan limpahan rahmat dan karunia Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah pada mata kuliah Filsafat Umum yang berjudul “ Filsafat Ketuhanan “ guna untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah ini.
Penulis meyakini bahwa di dalam penulisan makalah ini tentu masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan maupun penguasaan materi. Saya sangat berharap kepada seluruh pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang membangun kemajuan dalam berfikir untuk penulis agar makalah ini dapat di buat dengan yang lebih sempurna lagi.
Akhirnya kepada Allah SWT juga lah penulis minta ampun, semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan sedikit ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan kita yang sudah ada sebelumnya. Amin

                                                                              Pamekasan, 26 April 2017

                                                                                             Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................................ i
KATA PENGANTAR...................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang...................................................................................................... 1
      B.     Rumusan Masalah................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
      A.    Filsafat Ketuhanan................................................................................................ 2
      B.     Istilah-istilah Tentang Filsafat Ketuhanan................................................................ 2
      C.     Perkembangan Konsep-konsep Ketuhanan........................................................... 3
      D.    Hubungan Konsepsi Ketuhanan dalam Ilmu Filsafat................................................ 4
      E.     Aliran-aliran dalam Konsep Ketuhanan.................................................................. 4
      F.      Argumen-Argumen Tentang Ketuhanan.................................................................. 5
BAB III PENUTUP
      A.    Kesimpulan............................................................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 8

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Dalam sejarah peradaban Yunani, tercatat bahwa pengkajian dan kontemplasi tentang eksistensi Tuhan menempati tempat yang khusus dalam bidang pemikiran filsafat. Contoh yang paling nyata dari usaha kajian filosofis tentang eksistensi Tuhan dapat dilihat bagaimana filosof Aristoteles menggunakan gerak-gerak yang nampak di alam dalam membuktikan adanya penggerak yang tak terlihat. Tradisi argumentasi filosofis tentang eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya ini kemudian secara berangsur-angsur masuk dan berpengaruh ke dalam dunia keimanan Islam. Tapi tradisi ini, mewujudkan semangat baru di bawah pengaruh doktrin-doktrin suci Islam dan kemudian secara spektakuler melahirkan filosof-filosof seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, dan secara riil, tradisi ini juga mempengaruhi warna pemikiran teologi dan tasawuf dalam penafsiran Islam.
            Filsafat tidak mengkaji suatu realitas yang dibatasi oleh ruang dan waktu atau salah satu faktor dari ribuan faktor yang berpengaruh atas alam, pencarian kita tentang Tuhan dalam koridor filsafat bukan seperti penelitian terhadap satu fenomena khusus yang dipengaruhi oleh faktor tertentu.

            1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa saja istilah-istilah tentang Filsafat Ketuhanan?
2.      Bagaimana hubungan konsepsi Ketuhanan dalam Ilmu Filsafat?
3.      Argumen apa sajakah yang ada dalam Filsafat Ketuhanan?



BAB II
PEMBAHASAN

      A.    Filsafat Ketuhanan
            Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan radikal juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup “ Ada yang tampak “ dan “ Ada yang tidak tampak “. Ada yang tampak adalah alam fisik/empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Filsafat memahami Tuhan sebagai Penyebab Pertama dalam semesta; Penyebab Pertama semua kesempurnaan yang ditemukan di dunia, tetapi filsafat tidak mampu menjelaskan Tuhan dalam diri-Nya sendiri. Filsafat ketuhanan hanya menggarisbawahi saja, bila tidak ada penyebab pertama yang tidak disebabkan, kedudukan benda-benda yang kontingen tidak dapat dipahami akal. Sedangkan teologi mencoba menjelaskan Tuhan dengan seluruh misterinya berdasarkan wahyu. Kendati demikian, diakui juga bahwa, baik teologi dan filsafat tidak pernah membahas mengenai Tuhan secara tuntas.
            Filsafat menjelaskan Tuhan sebagai zat yang impersonal, sedangkan teologi melihat Tuhan sebagai zat yang personal. Filsafat Yunani dalam beberapa hal telah sampai pada kesimpulan bahwa alam disebabkan oleh Zat yang tidak tampak, esa, kekal, dan sempurna. Namun, pemikiran ini belum sampai pada taraf Zat yang disembah dan pencipta Agama Yahudi, Kristen, dan Islam sepakat mengakui Zat tersebut adalah Tuhan yang personal, yaitu Tuhan yang mencipta dan sekaligus disembah serta dapat berhubungan dengan makhluk.[1]

      B.     Istilah-istilah Tentang Filsafat Ketuhanan
            Berikut beberapa yang menyangkut tentang Filsafat Ketuhanan :
      1.      Teodime
Pembenaran ajaran tentang kekuasaan dan aturan yang menyangkut masalah penderitaan dan adanya kejahatan dalam berbagai bentuk.
      2.      Theisma
Mempercayai bahwa Theus (Penamaan Ketuhanan dalam Bahasa Yunani) ialah awal dan akhir dari segala-galanya.
      3.      Henotheism
Dikatakan sesuatu yang paling berkuasa , bahkan satu-satunya Dewa.
      4.      Trinitheisma
Istilah yang terkenal dalam agama Hindu dengan Trimurti, dalam agama nasrani Trinitas atau Tritunggal.
      5.      Monotheisma Murni
Tiap sifat yang ditemukan pada alam, bukan sifat Tuhan. Tiap bentuk atau rupa yang ditemukan dalam alam (termasuk dalam alam imajinasi pikiran manusia) bukan bentuk atau rupa Tuhan.[2]

      C.    Perkembangan Konsep-konsep Ketuhanan
            Manusia pada dasarnya memerlukan suatu bentuk kepercayaan kepada kekuatan gaib. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna menopang budaya hidupnya. Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradisi-tradisi yang diwariskan turun menurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena itu, tradisi sangat sulit berubahnya dan kalau berubah sangat lambat.
            Dalam sejarah kepercayaan manusia yang sudah ribuan tahun, hanya tercatat beberapa perkembangan sistem kepercayaan kepada yang gaib, yaitu dinamisme, animisme, politeisme, henoteisme, dan monoteisme. Kepercayaan dinamisme dan animisme, kendati dianggap awal dari kepercayaan umat manusia, sampai sekarang kepercayaan itu masih terdapat di berbagai lapisan masyarakat. Walaupun kepercayaan itu tidak seperti masyarakat primitif, fenomenanya dan praktiknya masih mirip seperti meminta pertolongan kepada dukun dan memakai cincin tertentu agar terhindar dari berbagai bencana.
            Ada dua teori tentang perkembangan kepercayaan manusia. Teori pertama mengatakan bahwa kepercayaan manusia pada awalnya sangat sederhana dan bersahaja menuju pada kepercayaan yang lebih tinggi sesuai dengan perkembangan kemajuan peradabannya. Teori kedua berpendapat bahwa kepercayaan manusia yang pertama adalah monoteisme murni, tetapi karena perjalanan hidup manusia, maka kepercayaan tersebut menjadi kabur dan dimasuki oleh kepercayaan animisme dan politeisme. Teori ini dapat juga disebut degradasi karena pada awalnya alam diciptakan dalam keadaan utuh dan sempurna, lama kelamaan mengalami korosi dan akhirnya hancur.[3]

      D.    Hubungan Konsepsi Ketuhanan dalam Ilmu Filsafat
            Sebagai alat analisis konseptual yang terkandung di dalam hal ihwal Ketuhanan. Melalui filsafat orang mengerti bahwa kata dalam Ketuhanan tidak hanya memiliki satu arti, melainkan bermacam-macam. Filsafat ketuhanan seperti menjawab pertanyaan manusia mengenai Tuhannya, yang member bermacam-macam gambaran dan bukti-bukti tidak hanya sebatas bahwa konsep ini ada, tetapi juga bukti bahwa Tuhan itu ada. Filsafat mengajak manusia untuk berpikir, filsafat ketuhanan berarti berpikir mengenai ketuhanan.[4]

      E.     Aliran-Aliran Dalam Konsep Ketuhanan
            Aliran mengenai konsep ketuhanan berbeda dengan perkembangan konsep kepercayaan Tuhan. Kalau perkembangan konsep ketuhanan lebih menekankan pada aspek sejarah dan perubahan yang terjadi dari satu fase ke fase berikutnya, sedangkan dalam aliran tentang konsep ketuhanan tidak dilihat dari aspek sejarah, tetapi hubungan Tuhan dengan dunia dan makhluk-Nya.
            Dalam catatan sejarah ada berbagai pandangan manusia tentang Tuhan, yaitu teisme, deisme, panteisme, dan panenteisme. Untuk memahami lebih mendalam tentang paham-pahamtersebut, seseorang perlu menganalisis pandangan dunia tentang Tuhan satu persatu, agar dia bisa membedakan antara satu paham dengan paham yang lain dan sekaligus mencari titik persamaan.[5]

      F.     Argumen-Argumen Tentang Ketuhanan
      1.      Argumen Ontologis
            Argumen ontologis yang dipelapori oleh Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di dalam ini mesti ada idenya. Yang dimaksud dengan ide ialah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu, Kuda mempunyai idea tau konsep universal. Idea tau konsep universal ini berlaku bagi setiap kuda yang lain yang ada di alam nyata, baik itu kuda kecil maupun besar, jantan atau betina, berwarna hitam atau putih, pincang atau tidak, hidup ataupun sudah mati, baik itu kuda Amerika, Eropa, Afrika, maupun Australia.
            Manusia juga mempunyai ide, ide manusia adalah badan hidup dan mampu berpikir. Dengan kata lain, ide manusia ialah daya berpikir. Konsep daya berpikir bersifat universal, berlaku untuk seluruh manusia besar, kecil, tua, muda, laki-laki, perempuan, manusia Eropa, Cina, dsb.
            Demikianlah tiap sesuatu di alam mempunyai ide, dan ide inilah yang merupakan hakikat dari sesuatu itu. Ide inilah yang menjadi dasar wujud sesuatu itu, ide-ide berada dalam alam tersendiri yaitu alam ide. Alam ide berada di luar alam nyata ini ide-ide itu akal, benda-benda yang tampak di alam nyata dan senantiasa berubah ini, bukanlah hakikat tetapi hanya bayangan, gambaran dari ide-idenya yang ada dalam alam ide, yaitu zat paling sempurna. Dengan kata lain, benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indra dan berubah ini bukanlah benda-benda yang asli, bukanlah hakikat tetapi hanya bayangan. Yang hakikat dan asli adalah ide-ide yang kekal lagi tetap terdapat di alam ide. Yang sebenarnya mempunyai wujud ialah ide-ide itu dan bukannya benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indra ini. Benda-benda nyata ini adalah khayalan atau ilusi belaka, benda-benda berwujud karena ide-ide. Dan ide-ide adalah tujuan, sebab dari wujud benda-benda.

      2.      Argumen Teleologis
            William Paley (1743-1805), seorang teolog Inggris mengatakan bahwa mata adalah alat yang sempurna untuk mencapai tujuan, yaitu aktivitas melihat. Paley menganalogikan alam raya dengan sebuah jam, anggaplah asa seorang yang tidak pernah melihat jam seumur hidupnya, demikian Paley, kemudian dia menemukan benda itu di tengah padang pasir. Semua yang dia lihat pada jam itu adalah struktur mekanik yang semua bagian-bagiannya saling bekerjasama. Akhirnya, dia bisa menyimpulkan bahwa benda ini dibuat oleh seorang yang pintar dengan tujuan tertentu. Begitu juga dengan alam raya ini, demikian Paley, alam penuh dengan keteraturan. Langit yang tinggi dan membiru, matahari yang bersinar setiap hari, bintang-bintang yang bertebaran dan saling bekerjasama. Bukankah di atas semuanya itu ada Pencipta Yang Maha Kuasa.
            Dalam teleology segala sesuatu dipandang seorang organisasi yang tersusun dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan erta dan bekerjasama untuk tujuan organism itu. Jadi, dunia ini bagi seorang teleology tersusun dari bahan-bahan yang erta hubungannya satu dengan yang lain dan bekerjasama untuk tujuan tertentu. Mulai dari manusia sebagai makhluk tertinggi sampai pada bintang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lain yang bernyawa semuanya mempunyai tugas dan bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.

      3.      Argumen Moral
            Diantara argument-argumen tentang Ketuhanan, argument morallah yang lebih terpenting dan terkuat. Argumen moral ini dipelapori oleh Immanuel Kant (1724-1804),  Kant berpendapat bahwa manusia mempunyai perasaan moral yang tertanam dalam jiwa dan hati sanubarinya. Orang merasa bahwa ia mempunyai kewajiban untuk menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan menjalankan perbuatan-perbuatan yang baik. Umpamanya, seseorang mengetahui dari perasaan yang ada dalam hati sanubarinya bahwa ia tidak boleh mencuri dan bahwa ia berkewajiban untuk menjauhi perbuatan buruk ini, Kalau masih mengerjakan perbuatan mencuri dia tahu bahwa dia telah bersalah dan melanggar kewajiban yang dibisikkan hati sanubarinya kepadanya. Dan perasaan berkewajiban melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk itu tidak tergantung pada akibat yang timbul dari perbuatan itu. Ia harus berbuat baik semata-mata karena perintah yang dating dari hati sanubarinya untuk berbuat baik. Demikian pula ia berkewajiban untuk menjauhi perbuatan yang buruk semata-mata karena perintah yang timbul dalam hati sanubarinya.[6]

BAB III
PENUTUP
      
      A.    Kesimpulan
1.      Teodime, Theisma, Henotheism, Trinitheisma, Monotheisma Murni
2.      Sebagai alat analisis konseptual yang terkandung di dalam hal ihwal Ketuhanan. Melalui filsafat orang mengerti bahwa kata dalam Ketuhanan tidak hanya memiliki satu arti, melainkan bermacam-macam. Filsafat ketuhanan seperti menjawab pertanyaan manusia mengenai Tuhannya, yang member bermacam-macam gambaran dan bukti-bukti tidak hanya sebatas bahwa konsep ini ada, tetapi juga bukti bahwa Tuhan itu ada. Filsafat mengajak manusia untuk berpikir, filsafat ketuhanan berarti berpikir mengenai ketuhanan.
3.      Argumen Ontologis, Argumen Teleologis, Argumen Moral.



DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar Amsal, Filsafat Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 2012)
Zar Sirajuddin, Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004)
Hanafi Ahmad, Pengantar Filsafat Ketuhanan (Jakarta: Tiara Wacana, 1999)
Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1998)



[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 2012) hlm. 20-22
[2] Sirajuddin Zar, Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004) hlm. 72-74
[3] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Ketuhanan (Jakarta: Tiara Wacana, 1999) hlm. 92-94
[4] Gazalba Sidi, Sistematika Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1998) hlm. 73-76
[5] Ibid, hlm. 81-82
[6] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, hlm. 70-73

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel