-->

Makalah Mutu Jasa Pendidikan, Konsep Total Quality Manajemen, Implementasi Manajemen Mutu Terpadu, dan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah

Seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi yang  semakin cepat dan mutakhir, konsep dan strategi baru sangat dimungkinkan terus bermunculan. Akan tetapi hanya sedikit konsep yang mampu mendapat perhatian dan terbukti merupakan pendekatan yang ampuh untuk mengatasi berbagai persoalan menejerial. Satu diantara konsep yang berhasil menyita banyak perhatian para akademisi dan praktisi yaitu TQM (Total Quality Management).

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Banyak orang berfikir bahwa Total Qualty Menegement (TQM) hanya menjadi urusan dunia bisnis, padahal TQM bisa diterapkan dalam dunia pendidikan yang berkecimpung dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi yang  semakin cepat dan mutakhir, konsep dan strategi baru sangat dimungkinkan terus bermunculan. Akan tetapi hanya sedikit konsep yang mampu mendapat perhatian dan terbukti merupakan pendekatan yang ampuh untuk mengatasi berbagai persoalan menejerial. Satu diantara konsep yang berhasil menyita banyak perhatian para akademisi dan praktisi yaitu TQM (Total Quality Management).[1]
Manajemen peningkatan mutu terpadu meruapakan konsep manajemen sekolah sebagai inovasi dalam menyelenggarakan pendidikan di sekolah yang diharapkan dapat memberikan perubahan yang lebih baik sesuai dengan perkembangan, tuntutan, dan dinamika masyarakat dalam menjawab permasalahan-permasalahan pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah. Komponen terkait untuk meningkatkan mutu tersebut ialah mutu sekolah, guru, siswa, kurikulum, dukungan dan sarana prasarana, serta peran orang tua siswa. Diantara komponen diatas, komponen yang paling berperan dalam meningkatkan mutu ialah meningkatkan peran dan fungsi guru serta peran kepemimpinan kepala sekolah agar semakin profesional dalam melaksanakan tugasnya. Dalam meningkatkan profesionalitas guru, diperlukan suatu pendekatan  pembinaan menejemen mutu terpadu dalam pendidikannya proses dimulai dengan mengembangakan suatu visi mutu tersebut. Kepala sekolah dan guru diharapkan mampu meningkatkan kemampuannya, dalam emningkatkan kinerjanya sesuai dengan  bidangnya masing-masing.[2]

B. Rumusan Masalah
1.  Apa yang dimaksud dengan mutu (jasa) pendidikan?
2.  Bagaiman konsep total quality manajemen?
3.  Bagaimana implementasi manajemen mutu terpadu dalam pendidikan?
4.  Bagaimana rencana pengembangan sekolah/madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan?

C.        Tujuan
1.  Untuk menjelaskan yang dimaksud dengan mutu (jasa) pendidikan.
2.  Untuk menjelaskan konsep total quality manajemen.
 3.    Untuk menjelasakan implementasi manajemen mutu terpadu dalam pendidikan.
4.  Untuk menjelasakan rencana pengembangan sekolah/madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan.

  
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Mutu (Jasa) Pendidikan
Mutu atau kualitas adalah ukuran baik buruk suatu benda. Kadar taraf atau derajat berupa kepandaian,  kecerdasan, kecakapan dan sebagainya.  (KBBI, 1991). Sallis (200;56), menjelaskan bahwa mutu atau kualitas adalah sesuatu yang memuaskan dan melampaui keinginan dan kebutuhan seseorang atau sekelompok orang.[3]
Kata kualitas masuk ke dalam bahasa indonesia dari bahasa inggris yaitu, quality. Kata ini sesungguhnya berasal dari bahsa latin, yaitu qualitas yang masuk ke dalam bahasa inggris melalui bahasa Prancis kuno, yaitu qualite. Dalam kamus-kamus lengkap (kamu kompherensif) bahasa inggris, kata itu mempunyai banyak arti tiga diantaranya; (1) suatu sifat atau aribut yang khas dan membuat berbeda; (2) standar tertinggi sifat kebaikan; (3) memiliki sifat kebaikan tertinggi.[4]
Mutu juga dapat didefinisikan sebagai totalitas keistimewaan dan karekteristik sebuah produk atau jasa yang berhubungan dengan kemampuannya untuk memuasakan kebutuhan yang telah diberikan. Definisi bersifat umum yang memfokoskan pada karekteristik dari semua prodak atau jasa yang berhubungan dengan persyaratan yang telah ditentukan. Definisi ini dimulai dan diakhiri dengan dengan karakter prodak atau jasa. Pendidikan mutu akan menjadi satu yang karakteristiknya memenuhi kebutuhan yang telah teridentifikasi. Dua definisi mutu ini menyarankan kontrol eksternal mutu oleh para perancang yang tidak dikenal. Kedua definisi tersebut juga menyarankan bahwa mutu juga berada di dalam produk atatu jasa sebagai suatu ukuran hasil desain atau kontrol pasca produksi yang telah dipercaya.[5]
Pembicaraan pengertian atau definisi kualitas dapat berbeda makna bagi setiap orang karena kualitas memiliki banyak kriteria dan sangat tergantung pada konteksnsnya. Dalam mendefinisikan kualitas ada lima pakar utama dalam TQM (Total Quality Management) yang saling berbeda pendapat tetapi maksudnya sama.[6]
Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang diterima  secara universal, dari definisi-definisi yang ada terdapat beberapa persamaan. Artinya dalam mendefinisikan mutu/kualitas memerlukan pandangan yanng komprehensif. Ada beberapa elemen bahwa suatu dikatakan berkualitas,[7] yakni sebagai berikut.
1.   Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
2.   Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.
3.  Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saat ini mungkiun dianggap kurang berkualitas pada sat yang lain).
4.  Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan
Dalam Mutu Total (TQ), mutu didefinisikan sebagai setiap orang yang merasa terikat untuk memenuhi dan melampaui harapan pelanggan. Definisi tersebut mengidentifikasikan tidak hanya yang menentukan kebutuhan  atau merancang spesifikasi, tetapi juga memberi target kepada mereka yang menjanjikannya untuk memenuhi kebutuhan atau desain. Definisi berorientasi pada manusia; ia dimulai dengan manusia dan diakhiri dengan manusia. Mutu Total Pendidikan (TQE) akan menjadi satu dimana setiap orang berjanji untuk melayani satu sama lain menurut persyaratan pendidikannya maisng-masing. Definisi ini menekankan pada keluwesan desain menurut persyaratan pelanggan, baik secara internal maupun eksternal. Ia mendefinisikan persyaratan internal maupun eksternal manusia sebagai faktor kendali mutu.[8]
Keberhasilan jasa pendiidkan  ditentukan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas  kepada para pengguna jasa pendidikan  tersbut (siswa ata mahasiswa/ peserta didik). Sebelum lebih jauh membahas mengenai kualitas jasa pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas mengenai pengertian jasa termasuk jasa pendidikan dari beberapa ahli sehingga kualitas jasa pendidikan yang dimaksud dalam pembahasan ini dapat dipahami secara kompherensif.[9]

B. Konsep Total Quality Management (TQM)
Manajemen mutu terpadu yang diterjemahkan dari Total Quality Management (TQM) atau disebut pula Pengelolaan Mutu Total (PMI) adalah suatu pendekatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu komponen terkait. M. Jusuf Hanafiah mendefinisikan Pengelolaan Mutu Total (PMT) adalah suatu pendekatan yang sistematis, praktis, dan strategis dalam menyelengarakan suatu organisasi, yang mengutamakan kepentingan pelanggan. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu.[10]
Adapun yang dimaksud dengan Pengeloalaan Mutu Total (PMT) pendidikan tinggi (bisa pula sekolah adalah) cara mengelola lembaga pendidikan berdasarkan filosofi bahwa meningkatkan mutu harus diadakan dan dilakuakan oleh semua unsur lembaga sejak dini secara terpadu berkesinambungan sehingga pendidikan sebagai jasa yang berupa proses pembudayaan sesuai dengan, bahkan melebihi kebutuhan patra pelanggan, baik masa kini maupun yang akan datang.[11]
Pada dasarnya Total Quality Management (TQM) merupakan suatu pendekatan pengendalian mutu melalui penumbahan partisipsi karyawan. TQM merupakan mekanisme formal dan dilembagakan yang bertujuan untuk mencari pemecahan persoalan dengan memberikan tekanan pada partisipasi dan kreativitas diantra karyawan.[12]
Komponen yang terkait dengan mutu pendidikan yang termuat dalam buku Panduan Menejemen Sekolah (1) siswa; kesiapan dan motivasi belajarnya; (2) guru; kemampuan profesional, moral kerjanya (kemampuan personal), dan kerjasamanya; (3) kurikulum; relevansi konten dan operasionalisasi proses pembelajarannya; (4) sarana dan prasarana; kecukupan dan keefektifan dalam mendukung proses pembelajaran; dan (5) masyarakat (orang tua, pengguna lulusan, dan perguruan tinggi);  partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan sekolah. Mutu komponen-komponen tersebut diatas menjadi fokus perhatian sekolah. Sedangkan prinsip MMT dalam buku tersebut, yaitu selama ini sekolah dianggap sebagai suatu Unit produksi. Dalam MMT, dipahami sebagai Unit Layanan Jasa, yakni pelayanan dalam pembelajaran.[13]
Sebagai Unit Pelayanan Jasa, yang dilayani sekolah (pelanggan sekolah) adalah (1) pelanggan internal; guruu, pustakawan, laboran, teknisi, dan tenaga administrasi; (2) pelanggan eksternal terdiri atas pelanggan primer (siswa), pelanggan skunder (orang tua, pemerintah dan masyarakat) dan oelanggan tersier (pemakai/penerima lulusan baik dari perguruan tinggi maupun dunia usaha).[14]

C. Implementasi Menejemen Mutu Terpadu dalam Bidang Pendidikan
Dalam ajaran Total Quality Menejement (TQM). Lembaga pendidikan (sekolah) harus menempatkan siswa sebagai “klien” atau dalam istilah perusahaan stakeholders yang terbesar. Maka, suara siswa harus disertakan dalam setiap pengambilan keputusan strategis langkah organisasi sekolah. Tampa suasana demokratis, manajemen tidak mampu menerapkan TQM, yang terjadi adalah kualitas pendidikan didominasi oleh pihak-pihak  tertentu yang sering memiliki kepentingan yang bersimpangan dengan hakikat pendidikan.[15]
Menejemen peeningkatan mutu madarasah berkaitan erat dengan pembentukan madrasah yang efektif. Madarasah yang efektif mempunyai karekteristik sebagai berikut, (1) proses belejar mengajar mempunyai efektivitas yang tinggi, (2) kepemimpinan kepala madrsah yang kuat, (3) lingkungan madrasah yang aman dan tertib, (4) pengelolaan tenaga pendidikan yang efektif (5) memiliki budaya mutu, (6) memeliki team work yang kompak, cerdas dan dinamis, (7) memiliki kewenangan (kemandirian) (8) partisipasi yang tinggin dari warga madrasah dan masyarakat, (9) memiliki keterbukaan (transparansi menejemen, (10) memiliki kemauan untuk berubah (baik secara psikologis maupun fisik), (11) melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan, (12) responsif dan antisipasif terhadap kebutuhan, (13) memiliki komunikasi yang baik, (14) memiliki akuntabilitas, (15) memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas.[16]
Penerapan TQM berarti pula adanya kebebasan berpendapat. Kebebasan berpendapat akan menciptakakn iklim yang dialogis antara siswa dan guru, antara siswa dan kepala sekolah, antara guru dan  kepala sekolah. Singkatnya adalah kebebasan berpendapat dan keterbukaan antara seluruh warga sekolah. Pernstranferan ilmu pengetahuan tidak lagi bersifat one way communication, tetapi two way communication. Proses dua arah ini merupakan bagian  substabsi Total Quality Management (TQM) dalam meningkatkan kualitas lembaga pendidikan.[17]
Sejalan dengan tuntutan nasional dan global, pendidikan harus mampu menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu. SDM yang bermutu tidak mungkin dapat diraih tanpa adanya pengendalian mutu terpadu yang dilaksanakan melalui penerapan menejemen mutu terpadu (Total Quality Management/TQM) dalam pendidikan secara konsisten. Untuk mencapai tujuan tersebut, TQM yang paling penting justru terjadi pada ruang lingkup satuan pendidikan sebagai ujung tombak dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, yang disebut oleh Arcoro (1995)  dengan Total Quality School (TQS). Ia menyebutkan lima pilar TQS, yaitu (1) terfokus pada  customer (pengguna jasa pendidikan), (2) adanya keterlibatan total dari semua unsur (total involvement), (3) adanya ukuran tertentu (standard), (4) adanya komitmen, (5), adanya perbaikan yang berkelanjutan (continous improvement). Kelima pilar itu dilandasi oleh empat unsur, yakni keyakinan (beliefs), kepercayan (trus), kerja sama (cooperation), dan kepemimpinan (leadership).[18]

D. Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Mutu pendidikan di sekolah atau madrasah harus diperhatikan dan ditingkatkan menjadi lebih baik dan berkualitas. Hal ini merupakan tantangan yang harus direspons secara positif oleh lembaga pendidikan islam. Mutu dalam bidang pendidikan meliputi mutu Input, proses, output, dan outcome. Input pendidikan dinyatakan bermutu apabila siap berproses yang sesuai dengan standars minimal nasional dalam bidang pendidikan. Prosespendidikan dapat dinyatakan bermutu apabila mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan sehingga tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik. Output dinyatakan bermutu apabila hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik baik dalam bidang akademik maupun non akademik tinggi. Outcome dinyatakan bermutu apabila lulusan cepat terserap dalam dunia kerja maupun lemabaga-lemabaga yang membutuhkan lulusan tersebut dan stakeholders merasa puas terhadap lulusan dari lembaga pendidikan tersebut.[19]
Sekolah atau madrasah pada saat ini harus mulai berbenah diri untuk mengahadapi tuntutan dunia global dalam mempersiapkan sumber manusia yang berkualitas. Tuntutan dan harapan inin harus secepatnya direspon dengan baik, agar semua pengguna jasa lembaga pendidikan menjadi puas dan memberikan dukungan yang bauik terhadap proses pelaksanaan pendidikan yang bermutu dan berdaya saing tinggi. Dukungan dan parsitipasi yang tinggi dari masyarakat pengguna sekolah sangat dibutuhkan dalam mewujudkan pendidikan bermutu. Tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat, lembaga pendidikan akan menjadi sulit dan terhambat dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikannya. Peningkatan mutu ini harus dimulai dengan komitmen yang tinggi dari seluruh civitas akademik lembaga pendidikan dan didukung oleh masyarakat pengguna pendidikan. Komitmen yang tinggi merupakan prasyarat pertama yang harus dimiliki oleh sekolah atau madrasah dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu.[20]

BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Mutu atau kualitas adalah ukuran baik buruk suatu benda. Kadar taraf atau derajat berupa kepandaian,  kecerdasan, kecakapan dan sebagainya. Dalam Mutu Total (TQ), mutu didefinisikan sebagai setiap orang yang merasa terikat untuk memenuhi dan melampaui harapan pelanggan.
Menejemen mutu terpadu yang diterjemahkan dari Total Quality Menegement (TQM) atau disebut pula Pengelolaan Mutu Total (PMI) adalah suatu pendekatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu komponen terkait.
Dalam ajaran Total Quality Menejement (TQM). Lembaga pendidikan (sekolah) harus menempatkan siswa sebagai “klien” atau dalam istilah perusahaan stakeholders yang terbesar.
Mutu pendidikan di sekolah atau madrasah harus diperhatikan dan ditingkatkan menjadi lebih baik dan berkualitas. Hal ini merupakan tantangan yang harus direspons secara positif oleh lembaga pendidikan islam.

            B.    SARAN
Sebagai seorang manusia tentulah mempunyai kelebihan dan kekurangan.Oleh sebab itu, dalam memandang segala sesuatu kami sarankan agar dengan hati yang jernih sehingga mudah bagi kita menerima kebenaran.Karena segala sesuatu mempunyai manfaat.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, untuk itu kami masih mengharapkan banyak masukan yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah ini.  

DAFTAR PUSTAKA

[1] Eti Rochaety,  Sistem Informasi Manajemen Pendidikan ( Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 96.
[2] Sri Minarti,  Manajemen Sekolah( Jogjakarta: Ar-Russ Media, 2011), hlm. 321.
[3] Onisimus Omtu,  Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah ( Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 118.
[4] Sri Minarti,  Manajemen Sekolah ( Jogjakarta: Ar-Russ Media, 2011), hlm. 325.
[5] Veithzal Rival, Total Quality Management For Education (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm 490.
[6] Sri Minarti,  Manajemen Sekolah( Jogjakarta: Ar-Russ Media, 2011), hlm. 325.
[7] Ibid.327.
[8] Ibid.491.
[9] Eti Rochaety,  Sistem Informasi Manajemen Pendidikan ( Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 96.
[10] Sri Minarti,  Manajemen Sekolah( Jogjakarta: Ar-Russ Media, 2011), hlm. 326.
[11] Ibid.
[12] Veithzal Rival, Total Quality Management For Education (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm 478.
[13] Sri Minarti,  Manajemen Sekolah( Jogjakarta: Ar-Russ Media, 2011), hlm. 354.
[14] Ibid. 355.
[15] Ibid. 342.
[16] Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013), hlm. 129.
[17] Sri Minarti,  Manajemen Sekolah( Jogjakarta: Ar-Russ Media, 2011), hlm. 342.
[18] Eti Rochaety,  Sistem Informasi Manajemen Pendidikan ( Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 54
[19] Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2013), hlm. 135.
[20] Ibid. 136.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel