-->

Makalah Lengkap Landasan Bimbingan dan Konseling dalam Kajian Bimbingan dan Konseling

Menurut Hornby landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari.[1] Sehingga landasan sebagai acuan atau juga dasar pelaksanaan.Tanpa adanya dasar atau bisa dikatakan juga fondasi, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan membuahkan hasil yang maksimal serta yang sesuai dengan keinginan. Ibarat sebuah bangunan tanpa fondasi yang kukuh. Maka bangunanpun tidak akan bertahan lama menahan rancangan diatasnya. Untuk itu, pada makalah ini akan share tentang “Landasan Bimbingan dan Konseling”. Yuk dibaca makalah selengkapnya dibawah ini. No copas!


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur kepada Allah SWT., yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga dapat menyelesaikan  makalah dalam  tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling.
Shalawat beserta salam  semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW., tanpa tuntunannya kita tidak akan berada dalam kecemerlangan seperti sekarang ini.
Dalam menyusun makalah Bimbingan dan Koseling dengan tema “Landasan Bimbingan dan Konseling” kami mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak.
Sebagai manusia yang tidak luput dari salah dan lupa. Kami mengucapkan mohon maaf  yang setulus-tulusnya, karena dalam penyusunan dan penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Maka dari itu pula, kami mengaharap saran dan kritikan yang membangun dalam pengembangan tema tersebut.

Pamekasan, 14 Maret 2017
Penyusun       

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang Masalah............................................................................... 1
      B.     Rumusan Masalah......................................................................................... 1
      C.     Tujuan Masalah.............................................................................................. 1

BAB II  PEMBAHASAN
      A.    Pengertian Landasan Bimbingan Dan Konseling.......................................3
      B.     Macam-macam Landasan Bimbingan Dan Konseling..............................3

BAB III PENUTUP
      A.    Kesimpulan......................................................................................................11
      B.     Saran...............................................................................................................11

DAFTAR RUJUKAN........................................................................................... 12

BAB I
PENDAHULUAN

                  A.            Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perkembangan zaman juga sejalan dengan kemajuan pendidikan dari berbagai aspek. Maka tentunya peserta didik perlu yang namanya bimbingan dan konseling karena adanya masalah-masalah yang muncul berkenaan dengan rumitnya pembelajaran. Belum lagi harus berhadapan dengan masalah-masalah pribadi seperti masalah keluarga. Terutama mengenai materi PAI yang mana siswa banyak yang kurang berminat terhadap pembelajaran PAI. Maka hal itu, perlu ditangani serius oleh guru BK. Ada apa ini, mengapa yang seharusnya pelajaran agama menjadi pedoman hidup akan tetapi ditakuti? Itu adalah pertanyaan besar yang mana masalah tersebut tidak bisa diselesaikan secara instan.
Maka dari itu, perlu adanya penanganan dan pendekatan-pendekatan yang bersifat face to face dengan siswa. Supaya akar masalahnya jelas dan bisa diselesaikan secara efektif dan efisien. Untuk itu, seorang guru yang memberikan pelayanan bimbingan dan konseling harus mengetahui landasan-landasan bimbingan dan konseling sebagai pijakan atau acuan guru bimbingan dan konseling. Dan tidak bisa seorang guru bimbingan dan konseling bicaranyaa asaal bunyi saja, tapi harus memiliki landasan dan pedoman yang benar. Supaya dalam proses pelayanan bimbingan dan konseling masalah-masalah dapat diselesaikan dan berjalan secara efektif dan efisien.
Oleh karena itu, kami sebagai kelompok 2 akan memaparkan mengenai landasan bimbingan dan konseling.

                   B.            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian landasan bimbingan dan konseling?
2.      Apa saja dan bagaimana macam-macam landasan bimbingan dan konseling?

                   C.            Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian landasan bimbingan dan konseling.
2.      Untuk mengetahui macam-macam landasan bimbingan dan konseling.

BAB II
PEMBAHASAN

       A.    Pengertian Landasan Bimbingan Dan Konseling
Menurut Hornby landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari.[2] Sehingga landasan sebagai acuan atau juga dasar pelaksanaan.Tanpa adanya dasar atau bisa dikatakan juga fondasi, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan membuahkan hasil yang maksimal serta yang sesuai dengan keinginan. Ibarat sebuah bangunan tanpa fondasi yang kukuh. Maka bangunanpun tidak akan bertahan lama menahan rancangan diatasnya.
Dikaitkan dengan bimbingan dan konseling yang merupakan suatu upaya untuk membantu individu atau kelompok orang dalam memecahkan suatu masalah kehidupannya, maka seorang konselor atau orang yang memberikan bantuan pelayanan bimbingan dan konseling. Ia seharusnya memiliki beberapa dasar atau fondasi mengenai pelayanan bimbingan dan konseling. Sehingga memudahkan konselor dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. Di karenakan masing-masing individu memiliki beragam latar belakang.
Jadi, landasan bimbingan dan konseling merupakan suatu dasar atau fondasi dalam proses pelaksanaan bimbingan dan konseling agar pelayanannya berjalan dengan efektif dan efisien.

        B.     Macam-macam Landasan Bimbingan Dan Konseling
Landasan bimbingan dan konseling sangat kompleks dan beragam sesuai dengan beragamnya latar belakang peserta didik. Menurut Abu Bakar M. Luddin mengutip pendapat Prayitno dan Erman Amti dalam bukunya Muhammad Irham, terdapat beberapa landasan dalam bimbingan dan konseling , yaitu filosofis, religius, psikologis, sosial-budaya, ilmiah dan teknologi serta landasan pedagogis.[3] Landasan pada aspek-aspek tersebut perlu dipahami untk menunjang pelaksanaan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien. Masing-masing dari landasan tersebut dapat dijabarkan, diantaranya sebagai berikut:
1.      Landasan Filosofis
Filosofis bisa bermakna cinta kebijaksanaan. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan serangkaian kegiatan atau tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tindakan yang bijaksana. Untuk itu, diperlukan pemikiran filosofis tentang berbagai hal yang menyangkut pelayanan bimbingan dan konseling. Pemikiran filosofis menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan bimbingan dan konseling secara umum, dan bagi konselor secara khusus.[4] Yaitu membantu konselor dalam memahami situasi konseling dan dalam membuat keputusan yang tepat. Selain itu, pemikiran dan pemahaman filosofis juga memungkinkan konselor menjadikan hidupnya sendiri lebih mantap, lebih fasilitatif, dan lebih efektif dalam penerapan upaya pemberian bantuannya.
Disini akan diuraikan beberapa pemikiran filosofis yang selalu terkait dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Yaitu tentang hakikat manusia, tujuan dan tugas kehidupan.
a.       Hakikat Manusia
Hakikat manusia menurut Viktor Frankl dalam bukunya Thompson dan Rudolph yang dikutip oleh Prayitno dalam bukunya Bimbingan dan Konseling, menegaskan bahwa:
“....Selain memiliki dimensi fisik dan psikologis manusia juga memiliki dimensi spiritual. Ketiga dimensi itu harus dikaji secara mendalam apabila manusia itu hendak dipahami dengan sebaik-baiknya. Melalui dimensi spiritualnsya itulah manusia mampu mencapai hal-hal yang berada diluar dirinya dan mewujudkan ide-ide nya.
“....Manusia terutama akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupan tersebut.
“....Manusia adalah unik, dalam arti bahwa manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. Manusia adalah bebas, merdeka, dalam berbagai keterbatasannya, untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu, dan akan menjadi apa manusia itu sendiri.[5]
b.      Tujuan dan Tugas Kehidupan
Menurut Jung tujuan hidup manusia adalah mencari keterpaduan, dan didalamnya terdapat dorongan instingtual kearah keutuhan dan hidup sehat. Sedangkan tugas kehidupannya adalah: spiritualitas, pengaturan diri, bekerja, persahabatan, dan cinta.[6]
1)      Spiritualitas
Dalam kategori ini terdapat agama sebagai sumber inti bagi hidup sehat. Artinya agama sebagai sumber moral, etika, dan aturan-aturan formal yang berfungsi untuk melindungi dan melestarikan kebenaran dan kesucian hidup manusia. Karakter dan gaya hidup seseorang dikembangkan dengan memperhatikan keharmonisannya dengan Sang Maha Kuasa.
2)      Pengaturan Diri
Seseorang yang mengamalkan hidup sehat artinya hidup yang benar, maka terdapat sejumlah ciri-ciri termasuk rasa dri berguna, pengendalian diri, pandangan realistis, spontanitas, kepekaan emosional, pemecahan masalah, dan kreativitas, kebugaran jasmani, serta hidup sehat dan lain-lain.[7] Dengan hal itu seseorang yang mampu mengkoordinasikan dirinya atau hidupnya bertingkah laku yang bertujuan melalui pengaturan dirinya, pengarahan, pengelolaan dirinya maka akan terjadi peningkatan pada dirinya sesuai dengan norma-norma masyarakat.
3)      Bekerja
Seseorang dengan bekerja akan mendapatkan keuntungan ekonomis untuk bekal hidupnya dan kesejahteraan hidupnya. Biasanya orang yang memiliki semangat bekerja ia akan menimbulkan rasa percaya diri, siap menghaapi tantangan, memiliki banyak teman, menggunakan waktu sebaik mungkin. Sebaliknya, bagi seseorang yang tidak mau bekerja atau tidak mampu biasanya ia adalah orang yang kurang berani menghadapi tantangan untuk mencapai kebahagiaan hidup.
Ketidakmampuan menjalani tugas kehidupan seperti itu menurut Dreikurs dianggap sebagai suatu gejala sakit yang cukup serius.[8]
4)      Persahabatan
Persahabatan merupakan hubungan sosial baik antara individu maupun dalam masyarakat secara lebih luas, yang idak adanya keterlibatan perkawinan.
Persahabatan memberikan tiga keutamaan kepada hidup yang sehat: a. Dukungan emosional (kedekatan, perlindungan, rasa aman, kegembiraan), b. Dukungan keberadaan (penyediaan kebutuahan fisik sehari-hari, bantuan keuangan), c. Dukungan informasi (pemberian data yang diperlukan, petunjuk, nasihat, peringatan).[9]
5)      Cinta
Dengan cinta hubungan seseorang dengan orang lain cenderung menjadi amat intim, saling mempercayai, saling terbuka, saing bekerjasama, dan saling memberikan komitmen yang kuat.
Penelitian Flanagan yang dikutip oleh Prayitno mengungkapkan bahwa pasangan hidup (suami istri), anak dan teman-teman merupakan tiga pilar paling utama bagi keseluruhan penciptaan kebahagiaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Perkawinan dan persahabatan secara signifikan menyumbang pada kebahagiaan hidup.[10]

2.      Landasan Psikologis
Perlu kita ketahui bahwa psikologis berarti ilmu tentang jiwa, dimana dalam pandangan ini bahwa setiap peserta didik atau individu memiliki berbagai macam keunikan  dibandingkan peserta didik yang lainnya. Seperti halnya berbeda dalam potensi bakat, minat, tingkah laku, motivasi, perhatian, kecerdasan, dan lainnya. Dan hal ini sangat penting kita ketahui sebagai konselor karena dalam pelayanan bimbingan dan konseling kita akan membahas masalah prilaku siswa yang dikarenakan perkembangannya.
Dalam perkembangan jiwa jasmani inilah seyogianya anak-anak belajar, sebab pada masa ini mereka peka untuk belajar, punya waktu untuk belajar, belum berunah tangga, belum bekerja, dan belum bertanggung jawab pada kehidupan keluarga. Masa belajar ini bertingkat-tingkat sesuai dengan fase-fase perkembangan mereka. Oleh karena itu, layanan-layanan pendidikan terhadap mereka harus pula dibuat bertingkat-tingkat agar pelajaran itu dapat dipahami oleh anak-anak.[11] Sebagai konselor harus mengetahui tingkatan fase peserta didik, agar bantuan bimbingannya lebih efektif dan efisien.
Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling seorang konselor harus memahami beberapa aspek dalam psikologi yakni: 1). Motif dan motivasi, 2). Pembawaan dasar dan lingkungan, 3). Perkembangan individu, 4). Belajar, balikan, dan penguatan, 5). Kepribadian.[12]  

3.      Landasan Sosial-Budaya
Manusia merupakan makhluk sosial. Maka dari itu, manusia membutuhkan kepada orang lain yang berarti tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Siswa atau klien juga sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial. Dimensi sosial manusia harus dipertahankan serta dikembangkan melalui layanan bimbingan dan konseling.
Selain itu, manusia juga merupakan makhluk budaya. Karena manusia hidup di lingkungan budaya, sehingga ia harus memenuhi tuntutan budaya dimana ia hidup agar sesuai dan diterima dilingkungannya. Serta untuk mengembangkan tingkah lakunya sehingga sesuai dengan pola-pola yang dapat diterima dalam budaya tersebut.
Manusia hidup berpuak-puak, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa. Relevan dengan pernyataan ini Al Qur’an menegaskan bahwa “Allah SWT., menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling kenal-mengenal”. Dan setiap suku dan bangsa memiliki lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Perbedaan itu bisa menimbulkan subjektivitas budaya sehingga akan berpengaruh pula pada upaya pemberian bantuan (bimbingan dan konseling). Proses bimbingan dan konseling merupakan proses komunikasi antara konselor dengan klien. Proses konseling yang bersifat antarbuadaya (konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda) sangat peka terhadap pengaruh dari sumber-sumber hambatan komunikasi seperti bahasa dll. Perbedaan dalam latar belakang ras atau etnik, kelas sosial, ekonomi, dan bahasa bisa menimbulkan masalah dalam hubungan konseling. Oleh sebab itu, konselor harus bisa menjaga netralitas sosial budaya dalam memberikan bantuan bimbingan dan konseling.[13]

4.      Landasan Religius
Di dalam Undang-undang yang isinya tentang tujuan pendidikan Nasional diantaranya membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta manusia yang memliki kepribadian i. Maka dari itu, perlu adanya bimbingan dan konseling yang berlandaskan religius.
Menurut Erman Amti, implementasi landasan religius dalam layanan bimbingan antara lain pembimbing diharapkan mendesain dan memasukkan unsur-unsur agama dalam kegiatan bimbingan dan konseling.[14] Akan tetapi, memberikan bimbingan dan konseling dengan unsur keagamaan haruslan dengan tataran wajar, jangan sampai membuat peserta didik merasa bahwa dirinya ditentukan nasib. Oleh karena itu, peserta didik haruslah memiliki pemahaman tentang nilai-nilai keagamaan, yang berlaku dalam kehidupan sosial, pribadi, belajar, dan karier.
Landasan religius bagi layanan bimbingan dan konseling setidaknya ditekankan pada tiga ha pokok:1) keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk Allah. 2). Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama. 3). Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk IPTEK), serta kemasyarakatan yang sesuai dan menentukan kehidupa beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah individu.[15]

5.      Landasan Pedagogis
Menurut Tirtaraharja dan La Sula, pendidikan merupakan transformasi sosial-budaya bagi masyarakat peserta didik dalam menjaga dan mempertahankan eksistensi manusia dan budayanya. Pendidikan juga merupakan lembaga sosial yang berfungsi melakukan reproduksi sosial. Selain itu, pendidikan juga memiliki fungsi pengembangan diri segenap potensi yang dimiliki peserta didik.[16] Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi pijakan dan dasar kegiatan bimbingan dan konseling. Karena pula antara pendidikan dan bimbingan dan konseling memiliki hubungan yang saling mendukung. Sebab, pendidikan merupakan proses menyiapkan peserta didik melalui kegiatan atau upaya pengajaran, bimbingan, dan pelatihan.
Landasan pedagogis pelayanan bimbingan dan konseling setidaknya berkaitan dengan: 1). Pendidikan sebagai upaya pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, 2). Pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, 3). Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan bimbingan dan konseling.[17]

6.      Landasan Ilmiah dan Teknologis
Kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang profesional yang dilakukan atas dasar keilmuan baik yang menyangkut teori-teori, pelaksanaan kegiatannya, maupun pengembangannya. Karena landasan ilmiah bimbingan dan konseling harus dilaksanakan atas dasar keilmuan. Oleh karena itu, orang yang berkecimpung dalam dunia bimbingan dan konseling harus memiliki ilmu tentang bimbingan dan konseling.
Ilmu bimbingan dan konseling bersifat multireferensial artinya suatu disiplin ilmu dengan rujukan ilmu-ilmu yang lain seperti psikologi (psikologi perkembangan, kepribadian, psikologi anak, remaja, dewasa, psikologi komunikasi dll), ilmu pendidikan, filsafat, bahkan ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi, ilmu agama, ilmu hukum, statistik, evaluasi, dan lain-lain.[18]
Selain perlu dukungan sejmlah ilmu, praktik bimbingan dan konseling juga memerlukan dukungan perangkat teknologi, seperti komputer. Digunakan untuk pembuatan instrument bimbingan dan konseling serta memperjelas materi bimbingan dan konseling sehingga meningkatkan motivasi klien untuk mengikuti kegiatan.

BAB III
PENUTUP
      A.    Kesimpulan
Landasan bimbingan dan konseling merupakan suatu dasar atau fondasi dalam proses pelaksanaan bimbingan dan konseling agar pelayanannya berjalan dengan efektif dan efisien.
Terdapat beberapa landasan dalam bimbingan dan konseling , yaitu filosofis, religius, psikologis, sosial-budaya, ilmiah dan teknologi serta landasan pedagogis. Landasan pada aspek-aspek tersebut perlu dipahami untk menunjang pelaksanaan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.

     B.     Saran
Dalam penulisan makalah ini, yang bertema “Landasan Bimbingan Dan Konseling”, merupakan suatu wacana yang beragam pendapat dari sekian referensi. Sehingga kami membutuhkan referensi lain untuk memberikan masukan atas kekurangan penulisan makalah ini.

DAFTAR RUJUKAN

Irham, Muhammad dan Novan Ardy Wiyani. 2014. Bimbingan Dan Konseling; Teori dan Aplikasi di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Prayitno. 2013. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Tohirin. 2014. Bimbingan dan Konseling; di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Intregitas). Jakarta: Rajawali Pers.
Tim Pengembang MKDP. 2012. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.


[1] Tim Pengembang MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 16.
[2] Tim Pengembang MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 16.
[3] Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, Bimbingan dan Konseling; Teori dan Aplikasi di Sekolah Dasar, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 88.
[4] Tohirin, Bimbingan dan Konseling; di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta: Raja wali Pers, 2013), hlm. 87.
[5] Prayitno, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2013), hm. 140.
[6] Ibid., hlm. 142.
[7] Ibid., hlm. 143.
[8] Ibid.
[9] Ibid., hlm. 144.
[10] Ibid.
[11] Made Pidarta, Landasan Kependidikan; Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hm. 194.
[12] Ibid., Tohirin, Bimbingan dan Konseling, hlm. 90.
[13] Ibid., hlm. 91-92.
[14] Ibid., Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, hlm. 104.
[15] Ibid., Tohirin, hlm. 89.
[16] Ibid., Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, hlm. 106.
[17] Ibid., Tohirin, hlm. 94.
[18] Ibid., 92.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel