-->

Makalah Konsep Dasar, Ruang Lingkup dan Sejarah Manajemen Strategi

Mengelola aktifitas-aktifitas internal perusahaan hanya sebagian dari tanggung jawab eksekutif yang modern. Eksekutif modern harus juga menanggapi tantangan-tantangan yang diakibatkan oleh lingkungan eksternal yang cepet berubah dan juga tidak bersahabat. Lingkungan eksternal yang cepat berubah terdiri atas pesaing pemasok, sumber daya yang semakin jarang, lembaga pemerintahan dengan peraturan yang beraneka ragam, dan pelanggan yang preferensinya sering berubah dengan tidak dapat dipahami/ dijelaskan. untuk lebih jelasnya silahkan baca makalah lengkapnya berikut ini:


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.
Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT pemelihara sekalian alam. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan pada jungjungan kita Nabi Muhammad SAW. Dengan rahmad Allah, taufik, inayah serta hidayahnya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Konsep Dasar, Ruang Lingkup dan Sejarah Manajemen Strategiini dengan baik tanpa suatu halangan apapun.
Kami juga berharap, semuga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya teman-teman dan mudah-mudahan dapat di jadikan sarana untuk meningkatkan keberhasilan belajar pada masa yang akan datang.
Dengan senang hati, kami menanti kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan makalah kami. Semoga rahmat Allah SWT dan berkahnya senantiasa tercurahkam kepada kita semua. Aamiin…
Wassalamualaikum wr.wb.



Penulis, 14 Maret 2017





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................
DAFTAR ISI............................................................................................................
BAB I: PENDAHULUAN......................................................................................
      A.    Latar Belakang...............................................................................................
      B.     Rumusan Masalah..........................................................................................
      C.     Tujuan............................................................................................................
BAB II: KAJIAN PUSTAKA.................................................................................
      A.    Kajian Terdahulu............................................................................................
      B.     Kajian Teori....................................................................................................
BAB III: PEMBAHASAN......................................................................................
      A.    Konsep Dasar Manajemen Strategi...............................................................
      B.     Ruang Lingkup Manajemen Strategi.............................................................
      C.     Sejarah dan Perkembangan Manajemen Strategi......................................
BAB IV: PENUTUP................................................................................................
      A.    Kesimpulan........................................................................................................
      B.     Saran................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
Mengapa perusahaan-perusahaan bahkan BUMN sering dimerger? Merger adalah bukti kegagalan! Pada umumnya hal ini disebabkan oleh manajemen yang tidak tepat khususnya pada manajemen strateginya. Bahkan ada juga pengusaha yang tidak menggunakan manajemen strategi pada khususnya, tampa melihat masa depan usaha mereka, hal ini akan sulit bagi pengusaha akan tercapai tujuannya.Dengan demikian, ilmu manajemen strategi sangat diperluka dalam usaha sekecil apapun usaha yang kita jalankan.
Macam-macam ilmu manajemen tentu banyak, namun manajemen strategi dijadikan puncak konvengensi dari berbagai ilmu manajemen, dengan tujuan lebih terintegrasi dalam mencapai tujuan organisasi. Dengan ilmu strategi suatu organisasi akan mengantarnya pada kemenangan[1].
Waktu yang sudah berlalu adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak bisa kita mengulangnya kembali, namun hal yang sangat penting dan berpeluang adalah mempelajari masalalu, baik itu kesalahan, kegagalan maupun kesuksesan yang sudah kita alami. Dengan demikian, akan mendatangkan masa depan yang lebih baik dari sebelumnya. Maka penting pula mempelajari sejarah manajemen strategi, karena sejarah menjadikan seseorang terinspirasi dan termotivasi.
B.       Rumusan masalah
1.         Apa konsep dasar manajemen strategi?
2.         Apa saja ruang lingkup manajemen strategi?
3.         Bagaimana sejarah manajemen strategi?
C.       Tujuan
Sangat diharapkan bagi pembaca dan pendengar dapat mengerti apa konsep dasar dan ruang lingkup manajemen strategi, dan mengetahui tentang sejarah manajemen strategi.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.     Kajian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Parnell dalam jurnalnya yang berjudul: “Generic Srategies After  Two Decades: A Reconceptualization Of Competitive Strategy 2006”, yang kesimpulannya adalah bagaimana konsep keunggulan kompetitif menjadi prinsip kunci kesuksesan perusahaan untuk dapat bertahan dengan menggunakan model porter dan RBV (Resourc Basic View) merupakan model pengembangan atau perolehan sumber daya dan kapabilitas yang berharga dan sulit untuk ditiru pesaing. Dimana penelitian menemukan bahwa kapabilitas perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki memiliki pengaruh positif pada kinerja strategi bisnis.[2]

B.       Kajian Teori
1.        Konsep Dasar Manajemen Strategi
a.         Sifat dan Nilai Manajemen Strategi
Mengelola aktifitas-aktifitas internal perusahaan hanya sebagian dari tanggung jawab eksekutif yang modern. Eksekutif modern harus juga menanggapi tantangan-tantangan yang diakibatkan oleh lingkungan eksternal yang cepet berubah dan juga tidak bersahabat. Lingkungan eksternal yang cepat berubah terdiri atas pesaing pemasok, sumber daya yang semakin jarang, lembaga pemerintahan dengan peraturan yang beraneka ragam, dan pelanggan yang preferensinya sering berubah dengan tidak dapat dipahami/ dijelaskan. Lingkungan eksternal yang tidak bersahabat terdiri dari kondisi ekonomi dan social, politik, dan pengembangan tekhnologi yang semuanya harus di antisipasi, dinilai dan dan digabungkan kedalam pengambilan keputusan eksekutif.[3]
MenurutJohn A Pearce II dan Ricard B. Robinson, Jr, manajemen strategi adalah kumpulan keputusan dan tindakan yang merupakan hasil dari formulasi dan implementasi, rencana yang didesain untuk mencapai tujuan suatu perusahaan, manajemen strategi terdiri atas 9 tugas kritikal sebagai berikut:
1)        Memformulasi misi (mission) perusahaan, termasuk pernyataan yang luas mengenai maksud, falsafah, dan sasaran.
2)        Mengembangkan suatu profil perusahaan (company profile) yang merefleksi kondisi internalnya dan kemampuan.
3)        Menilai lingkungan eksternal perusahaan, termasuk faktor kompetitif maupun faktor yang berhubungan dengan konteks umum.
4)        Menganalisis opsi perusahaan dengan menandingi sumber daya perusahaan dengan lingkungan eksternalnya.
5)        Mengidentifikasi opsi yang paling diinginkan dengan menilai setiap opsi dipandang dari sudut misi perusahaan.
6)        Memilih sekumpulan tujuan jangka panjang dan strategitotal yang akan mencapai opsi yang paling diinginkan.
7)        Mengembangkan tujuan tahunan dan strategi jangka pendek yang sesuai dengan kumpulan tujuan jangka panjang yang dipilih dari strategi secara keseluruhan.
8)        Mengimplementasikan pilihan strategi dengan alat alokasi sumber daya yang di anggarkan, yaitu memadani tugas-tugas manusia, struktural, tekhnologi, dan menekankan sistem ganjaran.
9)        Menilai keberhasilan proses strategi sebagai masukan untuk pengambilan keputusan masa yang akan datang.[4]
Seperti yang ditunjukkan kesembilan tugas diatas, manajemen strategi mencakup perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, dan pengendalian keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan strategi perusahaan, melalui “strategi” manajer mengartikan rencana berskala dasar dan berorientasi masa depan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan yang kompetitif untuk mencapai tujuan perusahaan. Suatu strategi merupakan rencana permainan suatu perusahaan.
b.         Karakteristik  Manajemen Strategi
              Berangkat dari kenyataan bahwa manjemen strategik mencakup manajemen organisasi secara keseluruhan, maka manjemen strategik cenderung menjadi suatu pokok bahasan yang dapat dipandang dari berbagai perspektif yang berbeda, yaitu:
1)        Manajemen strategik meningkatkan efektivitas organisasi.
              Dalam suatu organisasi terdapat dua persyaratan yang sangat esensial untuk sukses, yaitu: efesiensi dan efektivitas. Efesiensi berhubungan dengan bagaimana sebaiknya suatu aktifitas dilakukan untuk mencapai efesiensi, suatu organisasi perlu menetaapkan suatu metode, prosedur, sistem, aturan, dan lainnya untuk melaksanakan suatu aktivitas. Pendekatan efesiensi memastikan bahwa suatu organisasi melaksanakan aktivitas atau tindakan dengan benar (doing things right). Efektivitas  berhubungan dengan pelaksanaan aktivitas yang benar. Efektivitas terutama ditentukan oleh hubunggan antara suatu organisasi dan lingkungan eksternalnya. Pendek kata, efektivitas memastikan bahwa suatu organisasi melaksanakan aktifitas yang benar.[5]
2)        Manajemen strategik berorientasikan ke arah jangka panjang.
              Secara umum strategi berbicara mengenai isu-isu yang menjangkau lebih dari satu periode anggaran atau jangka pendek. Manajemen strategik membahas persoalan organisasi yang berdimensi masa depan, bukan masa kiini atau masa lalu. Banyak faktor atau variabel yang mempengaruhi perencanaan atau manajemen strategik dalam jangka panjang antara lain:
a)        Faktor-faktor pasar misalnya persaingan, prediksi permintaan masa yang akan datang, ancaman produk atau jasa substitusi, realibilitas dan sebagainya.
b)        Faktor manusia misalnya kapabilitas, preferensi manjemen.
c)        Faktor kinerja. Organisasi yang selalu mempertahankan atau memelihara kinerja atau kondisi yang sedang di capai berarti hanya fokus pada jangka pendek.
d)       Manajemen strategik berkenaan dengan keputusan-keputusan manajemen puncak atau manajer senior.
              Walaupun suatu karyawan terlibat dalam implementasi keputusan strategik, kebanyakan keputusan-keputusan strategik berasal dari manajer puncak. Namun para manajer puncak dapat berkonsultasi atau mendapatkan masukan para karyawan sebelum mengambil keputusan yang bersifat strategis. Dengan melakukan konsultasi dengan para karyawan, manajer tidak hanya akan menghasilkan keputusan-keputusan yang berkualitas, tetapi juga akan meningkatkan komitmen karyawan karena karyawan akan merasa telah menjadi bagian dalam proses pengambilan keputusan. Sehingga para karyawan akan merasa mempunyai tanggung jawab dalam mengimplementasikan keputusan;keputusan strategik tersebut.
3)        Manajemen strategik terdapat pada setiap level organisasi.
       Strategi dapat dianalisa pada tiga level atau tingkatan organisasi, yaitu:
a)        Strategi tingkat korporasi yang membahas mengenai tipe dan pilihan bidang usaha yang dipilih.
b)        Strategi tingkat bisnis atau strategi kompetitif yang membahas tentang bagaimana organisasi bisnis unit akan bersaing atau beroperasi dalam industri atau pasar.
c)        Strategi tingkat fungsional atau tingkat operasional yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi bisnis mengimplementasikan keputusan-keputusan strategiknya.[6]
4)        Manjemen strategik masyarakat pengetahuan yang luas tentang organisasi.
              Sifat keputusan-keputusan strategik yang biasanya menyangkut perubahan kebiasaan dan perilaku di perlukan pandangan atau spektrum yangg lebih luas tentang aktivitas-aktivitas lintas fungsi dalam suatu organisasi.

c.         Manfaat Manajemen Strategi
Dengan menggunakan manajemen strategik sebagai suatu kerangka kerja(frame work) untuk menyelesaikan setiap masalah strategik didalam perusahaan, terutama yang berkaitan dengan persaingan, maka para manajer diajak untuk berpikir lebih kreatif atau berpikir secara strategik.
              Adapun beberapa manfaat yang diperoleh oleh organisasi jika mereka menerapkan manajemen strategik yaitu:[7]
1)        Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.
2)        Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.
3)        Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif.
4)        Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam lingkungan yang semakin beresiko.
5)        Aktivitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan untuk mencegah munculnya masalah dimasa datang.
6)        Keterlibatan karyawan dan pembuatan strategi akan lebih memotivasi mereka pada tahap pelaksanaannya.
7)        Aktivitas yang tumpang tindih akan dikurangi.
8)        Sifat untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi.
d.        Resiko Manajemen Strategik
Keterlibatan para manajer dalam proses perencanaan strategik akan menimbulkan beberapa resiko yang perlu diperhitungkan sebelum melakukan proses manajemen strategik.
1)        Waktu yang digunakan para manajer dalam proses manajemen strategik mungkin mempunyai pengaruh negatif pada tanggung jawab operasional.
2)        Apabila para pembuaat strategi tidak dilibatkan secara langsung dalam penerapannya, maka mereka dapat mengelak tanggung jawab pribadi untuk keputusan-keputusan yang diambil dalam proses perencanaan.
3)        Akan timbul kekecewaan dari para bawahan yang berpartipasi dalam penerapan strategi karena tidak tercapainya tujuan dan harapan mereka.
              Untuk mengatasi resiko-resiko tersebut maka para manajer perlu dilatih untuk mengamankan atau memperkecil timbulnya resiko ini dengan cara:
1)        Melakukan penjadwalan kewajiban-kewajiban para manajer agar mereka dapat mengalokasikan waktu dengan lebih efesien.
2)        Membatasi para manajer, dalam proses perencanaan, untuk membuat janji-janji mereka terhadap kinerja yang benar-benar dapat dilaksanakan oleh mereka dan bawahannya.
3)        Mengantisipasi dan menanggapi keinginan-keinginan bawahan, usulan atau peningkatan dalam ganjaran.[8]

e.         Dimensi-Dimensi Manajemen Strategi
Berdasarkan pengertian dan karakteristiknya dapat disimpulkan bahwa manajemen strategik memiliki beberapa dimensi. Dimensi-dimensi yang dimaksud ialah:
1)        Dimensi Waktu dan Orientasi Masa Depan
Manajemen strategik dalam mempertahankan dan mengembangkan eksistensi suatu organisasi berpandangan jauh ke masa depan, dan berperilaku proaktif dan antisipatif terhadap kondisi masa depan yang diprediksi akan dihadapi. Antisipasi masa depan tersebut dirumuskan dan ditetapkan sebagai visi organisasi yang akan diwujudkan 10 tahun atau lebih dimasa depan.
2)        Dimensi Internal dan Eksternal
             Dimensi internal adalah kondisi organisasi pada saat sekarang, berupa kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan, yang harus diketahui secara tepat untuk merumuskan rencana strategik yang berjangka panjang.untuk itu perlu dilakukan kegiatan evaluasi diri antara lain dengan menggunakan analisis kuantitatif dengan menggunakan perhitungan-perhitungan statistik, menggunakan data kuantitatif yang tersedia dalam sistem informasi manajemen atau menggunakan analisis kualitatif dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu diantaranya dengan menggunakan analisis SWOT.
3)        Dimensi Pendayagunaan Sumber-Sumber
              Manajemen strategik sebagai kegiatan manajemen tidak dapat melepaskan diri dari kemampuan mendayagunakan berbagai sumber daya yang akan dimiliki, agar secara terintegrasi terimplementasikan dalam fungsi-fungsi manajemen ke arah tercapainya sasaran yang ditetapkan didalam setiap rencana operasional, dalam rangka mencapai tujuan strategik melalui pelaksanaan misi untuk mewujudkan visi organisasi.
4)        Dimensi Keikutsertaan Manajemen Puncak
              Manajemen strategik yang dimulai dengan menyusun rencana strategik merupakan pengendalian masa depan organisasi, agar eksistensi sesuai dengan visinya dapat diwujudkan, baik pada organisasi. Rencana strategik harus mampu mengakomodasi seluruh aspek kehidupan organisasi yang berpengaruh pada eksistensinya dimasa depan merupakan wewenang dan tanggung jawab manajemen puncak.

5)        Dimensi Multi Bidang
              Manajemen strategik sebagai sistem pengimplementasiannya harus didasari dengan menepatkan organisasi sebagai satu sistem. Berarti sebuahh organisasi akan dapat menyusun rencana strategik dan rencana operasional. Jika tidak memiliki keterikatan atau ketergantungan sebagai bawahan pada organisasilain sebagai atasan. Dalam kondisi sebagai organisasi bawahan berarti tidak memiliki kewenangan penuh dalam memilih dan menetapkan visi, misi, tujuan dan strategi.
              Manjemen strategik berdimensi multi bidang, kegiatan awalnya dimuali dari menyusun rencana strategik sampai pada pelaksanaan pekerjaan yang mengharuskan dilakukannya pengintegrasian program berkelanjutan dengan proyek tahunan yang berbeda-beda, agar terus menerus terarah pada sasaran dan tujuan strategik guna meujudkan visi yang diinginkan organisasi.

2.        Ruang Lingkup Manajemen Strategi[9]
Pada prinsipnya manajemen stratejik merupakan suatu proses dimana informasi mengenai masa lalu, sekarang, prediksi dimasa yang datang dari sutu internal ataupun ekternal perusahaan mengalir melalui tahap-tahap yang saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan. Informasi tersebut biasanya menyangkut dalam berbagai hal, sepertisumber dayamanusia, selera konsumen, perkembangan teknologi, dan sebagainya.
Dalam menajemen srategi yang berdasarkan ketiga interaksi fungsi manajemen, yaitu perencanaan strategi, melaksankan strategi, berarti terdapat 3 tahap proses dalam manajemen stratejik, sebagaiberikut:
a.       Perumusan atau perencanaan stratejik (strategic planning)
Pada tahapan inisuatu perusahaanakan menentukankegiatan yang meliputu kekuatanapa saja yang dimiliki oleh suatuperusahaandimana kekuatan yang dimiliki bukan hanyaterletak padadana perusahaantetapi jugapada kualitassumber daya manusianyadan teknologi lainya,kekuatan perlu jugadilihat kelemahan-kelemahan serta peluang yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Setelah hal-haltersebut telah diketahui maka perusahaanakan melakukanperencanaan strategi. Perencanaan strategidisini biasanyadisusun olehpemimpin atas yang dibantu oleh para ahli perencanaan strategi.
b.      Pelaksanaan stratejik (strategicimplementing)
Sebelum melakukanpelaksanaan strategi, maka harusmembuat kegiatanuntuk mengarahkan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan, mulai dari dana,sumber daya manusia, mesin, dan lain-lain.
c.       Pengawasan stratejik (strategiccontrolling/evaluating)
Pada tahapan terahiradalah pengawasan, dimana perusahaanakanmenilai setiap aktivitas agar sluruh kegiatan stratejik yang dilaksanakansesuai dengan yang telah direncanakan.
              Dalam sebuahorganisasi/perusahaan memilikitantangan-tantangan. Tentangan terbesardari sebuah organisasiadalah mengelolalingkungan baik internal maupun ekternal. Krakteristik dari lingkungan iniadalah dinamisdan tidak dapatditebak. Ketidakpastian lingkunganinilah yang menuntun sebuahorganisasimempunyai kemampuanuntuk menyelesaikannya sendiri. Alasannya, apabila sebuah organisasi terlambatatau bahkantidak dapat melakukanadaptasi terhadap perubahan, maka organisasi tersebut akan mengalami kebangkrutan. Proses adaptasidapat diwujudkan apabilasebuah organisasimempunyai manajemen yang sangat strategik. Prosesnya dapatdimulai dari kajiandan analisis menejerpuncak terhadaplingkungan organisasi. Dari analisis itulahdirumuskan sebuahrencana-rencana yang strategis untukmenghadapi tangtangankedepan. Dengan demikian, dalam kondisi yang penuh dengan ketidakpastian pun sebuah organisasidapat mencapaitujuannyadengan menerapkanmanajemen strategis. Dalam melaksanakan manajemen strategi,manajemen puncaktidak dapatmelepaskan diri dari tingkat manajerlainnya. Semua harusberpartisipasidalam menyusundanmenjalankan keputusan yang telah diambil termasukmengontrolnya. Disamping kerjasama di internal organisasi, perlu ditekankan agar oerganisasi melakukankerja sama denganlingkungan ekternal. Untuk organisasi publikmungkin perludiadakan sebuahkerjasama denganorganisasi lainyaseperti pihak suwasta, LSM, akademisi, maupunstekeholderslainnya.

3.        Sejarah dan Perkembangan Manajemen Strategi[10]
Perencanaan strategi merupakan proses sistematis yang berkesinambungan, melalui proses pembuatan keputusan dengan memanfaatkan sebanyak mungkin pengetahuan antisipatif, mengorganisasi secara sistematis berbagai kegiatan untuk melaksanakan keputusan tersebut, dan mengukur hasilnya melalui umpan balik yang sistematis pula. Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa perencana strategik merupakan bagian terpenting dalam penyelenggaraan manajemen strategik.
Untuk pertama kalinya manajemen strategik dikembangkan dalam kalangan militer Indonesia pada masa dawarsa tujuh puluhan, guna mewujudkan suatu tatanan kekuatan nasional yang berperan melindungi kebutuhan teritori serta kedaulatan bangsa dan negara. Tatanan tersebut hingga saat ini dikenal sebagai sistem manajemen sumber daya pertahanan dan keamanan dengan sistem Perencanaan Strategis Pertahanan Keamanan Negara (Sisrentra Hamkamneg) sebagai perwujudan rencana tindakan dan kegiatan mendasar dalam pola implementasi.
Ketika itu ada kecenderungan strategi versi ABRI ini hendak dijadikan model untuk mendukung perencanaan strategis pembangunan nasional versi pemerintah, akan tetapi hal ini tidak berkembang sebagai keputusan manajerial, kecuali pro dan kontra kehendak masing-masing. Ketika lingkungan mendadak berubah dalam suatu era reformasi menujupemerintahan demokratis (democratic governance) yang mengandaikan semua itu di rumuskan dan dilaksanakan dengan parameter prinsip supremasi otoritas politik (civilin supremacy).  Mekanisme checks and balances dan tersediamyam instrumen transparansi kebijakan yang membagi peluang bagin akuntanbilitas publik, maka berkembanglah pemahaman dan pengetahuan praktis tentang perencaan startegis sehingga banyak pihak yang mulai melihat secara terbuka dan meragukan kontribusi riil yang disumbangkan oleh manajemen strategis untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi yang overlap dengan tujuan ABRI.
Lalu mulai dikeluhkan tentang fungsi dan efektifitas perencanaan strategis, disaat yang sama juga mulai di rasakan sulitnya melakukan eksekusi strategi seperti yang telah di rencanakan. Manajemen strategik hanya memberi peratian pada faktor internal organisasi (ABRI), khususnya manajemen keuangan. Dengan kata lain, baik dalam wilayah perencanaan strategik maupun implementasi strategik, posisi manajemen strategik di kalangan TNI saat ini sedang dipertanyakan terlebih dengan semakin meningginya turbulensi lingkungan strategis dan intensitas pembaruan.
Sementara itu sebagai buah reformasi telah terbentuk dasar-dasar perubahan dibidang manajemen pemerintahan dan pembangunan yang terwujudkan dalam UU No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, Kolusi dan Nepotisme, kemudian ditindak lanjuti oleh pemerintah dengan menerbitkan Inpres No. 7 tahun 1999 tentang Akuntanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dari sinilah di awali tahap baru dimana manajemen startegik berusaha memperoleh posisinya seirama dengan kompleksitas permasalahan negara. Sekalipun hingga saat ini hasilnya belum sepenuhnya di capai. Dalam arti bahwa belum sepenuhnya instansi pemerintah, termasuk Dephan dan TNI mampu melaksanakannya, akan tetapi tanda-tanda positif tampak terlihat secara transparan. Konsep, asumsi, proses dan teknik analisis di coba di perbarui dan sedapat mungkin di kembangkan untuk memperoleh perannya sebagai alat bantu pengambilan keputusan manajerial yang handal.[11]
Semua itu menggambarkan bahwa dalam era reformasi ini manajemen strategis berada dalam nuansa transisi, termasuk di dalamnya manajemen sumber daya pertahanan dan keamanan sebagai manajemen strategik TNI yang saat ini menghadapi turbulensi perubahan lingkungan strategik demikian cepat. Seharusnya di perlukan juga mencari bentuk baru, tidak dengan cara slow motion akan tetapi proaktif dengan menyikapi perubahan lingkungan strategik.
Model manajemen strategik yang canggih seperti kita jumpai saat ini, dengan analisis lingkungan, analisis profit jati diri, strategi, misi dan visi organisasi di mana hubungan dan keterkaitan dapat memberi indikasi pada apa yang di inginkannya (what is desired). Pemikiran strategi ini tidak begitu saja mmuncul sekali jadi.
Pada mulanya pikiran strategis dalam pengelolaan organisasi amat sederhana sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya. Ketika lingkungan organisasi cenderung stabil dan selalu seirama dengan kepentingan organisasi maka  model perencanaan strategik yang ada amat sederhana hanya memberikan titik berat pada peenuhan standar-standar operasional yang telah di tentukan oleh manajemen, khususnya standar keuangan dan produktivitas (output).[12]
Berbeda halnya dengan ketika lingkungan organisasi telah sering berubah dan cenderung memiliki tingkat turbulensi yang tinngi, seperti yang terjadi sekarang ini. Lingkungan organisasi berubah secara tidak terduga dan dengan arah yang tidak jelas.
Perhatian manajemen tidak hanya terfokus pada manajemen keuangan tetapi tampaknya harus lebih di arahkan pada manajemen produksi (mengembangkan kemampuan / kekuatan), pemasaran (sosialisasi) dan jasa pelayanan (publik) khususnya dalam perumusan dan eksekusi strategi bersaingyang kompetitif. Dengan penyederhanaan yang agak berlebihan, sejarah dan perkembangan manajemen strategik, dengan menggunakan tolak ukur waktu di negara maju dapat di kelompokkan dalam empat tahapan berikut ini:[13]
a.       Anggaran dan pengawasan keuangan.
b.      Perencanaan jangka panjang.
c.       Perencaan strategik.
d.      Manajemen strategik.
Anggaran organisasi dan pengawasan keuangan (internal) adalah model perencanaan organisasi yang di kenal pertama kali oleh para pemimpin/ eksekutif organisasi. Model ini di temukan pada awal dawarsa empat puluhan yang lalu, ketika pada masa itu lingkungan organisasi masih cenderung memiliki tingkat stabilitas yang tinggi, hal ini tidak berarti bahwa model semacam ini tidak lagi di jumpai.
Biasanya model ini masih digunakan oleh organisasi yang relatif muda dan berukuran kecil. Dengan demikian jangan heran jika kadang kala proses dan hasil perencanaan yang telah ada hanya berada dan bersumber dari pikiran eksekutif manajemen, belum diwujudkan dalam bentuk tertulis, perencanaan hanya melakukan esttimasi kegiatan dan biaya untuk masa satu tahun yang akan datang, oleh karena itu, sebenarnya belum dapat di sebut perencanaan strategis karena masih berdimensi waktu amat pendek, dan belum dijumpai anggaran investasi jangka panjang.
Jika di kaitkan dengan tren ketika itu yang di warnai revolusi industri yang ditujukan pada usaha untuk memproduksi sebanyak-banyaknya dengan biaya yang serendah-rendahnya (era produksi masal), maka perhatian manajemen lebih ditujukan pada terbentuknya mekanisme produk yang efesien, dengan semangat yang dianut manajemen pada tahap ini adalah pengendalian manajemen.
Model tahap kedua dikenal sebagai perencanaan jangka panjang, pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan model yang ada pada tahapan pertama. Semua konsep teknik, dan alat analisa yang digunakan pada model tahap pertama tetap digunakan, hanya saja pada tahapan kedua ini organisasi sudah mulai menerapkannya untuk jangka waktu panjang. Oleh karenanya secara teknis dilakukan peramalan kedepan, namun teknik analisisa peramalan yang digunakan masih sepenuhnya mendasarkan diri pada data historis. Dengan demikian, anggapan linieritas juga masih berlaku. Yang khas dari tahapan ini adalah, mulai dikenalnya pemrograman dan penganggaran, model kedua ini dikenal setelah perang dunia II berakhir, tahun lima puluhan ketika ekonomi dunia sedang tumbuh.
Dalam model ketiga yang amat berbeda dengan sebelumnya, mengetengahkan berbagai konsep dan analisa baru yang disebabkan karena lingkungan organisasi telah banyak berubah, khususnya sejak dawarsa enam puluhan dimana ekonomi tumbuh tidak sepesat sebelumnya. Tingkat persaingan antar organisasi semakin tajam, sehingga diperlukan analisa perkembangan lingkungan strategik. Disinilah sesungguhnya pola pokok pikir strategis dalam manajemen dimulai, dan dasar-dasar dari model manajemen strategik mulai terbentuk. Pada dawarsa tujuh puluhan diperkenalkan konsep segmentasi, dimana misi organisasi yang semakin luas diakomonikasikan dalam struktur kemandirian divisionalsebagai unit usaha strategik yang digunakan untuk memahami proses organisasi dihadapkan dengan analisa lingkungan strategik. Dan disaat yang sama, juga diintrodusir berbagai strategi pokok (grand strategy) seiring dengan diperkenalkan profil/ postur organisasi.
Pada tahap akhir perkembangan model yang ketiga ini, muncul kekhawatiran akan berkurangnya sifat perencanaan yang komprehensif, seiring dengan kemandirian unit strategis yang dapat berakibat perbedaan kepentingan organisasi secara menyeluruh dengan kepentingan unit strategis (model divisional). Oleh sebab itu untuk perencanaan perlu disusun dari dua arah secara bersamaan. Jadi tidak hanya berdasar pada prinsip perencaan dari bawah (bottom up planning) tapi juga perencanaan dari atas (top down planning).[14]
Di saat yang sama pula mulai timbul kekhawatiran tentang adanya penekanan yang berlebihanpada aspek rasional dan analisis yang melekat pada perencanaan yang mulai meninggalkan aspek seni (art) dan kepemimpinan (leadership), yang mengakibatkan pemberdayaan fungsi tertinggal atau tidak diperhatikan, ada kecenderungan untuk secara berlebihan memberikan perhatian pada pentingnya fungsi perencanaan, seolah hanya dengan perencanaan yang tepat, organisasi dengan sendirinya akan berjalan mencapai tujuannya. Perencanaan memang merupakan fungsi penting oleh karena gagasan / pemikiran dan keputusan serta tanggung jawab eksekutif berada didalamnya. Akan tetapi itu saja belum menjadikan jaminan adanya mobilisasi seluruh sumber daya dan dana yang ada dalam organisasi.
Perlu adanya dukungan fungsi manajemen yang lain, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan dan pengawasan antara lain struktur organisasi , sistem imbalan/ kompensasi, informasi dan komunikasi, motivasi dan iklim kerja,sistem nilai dan budaya organisasi, serta pengendalian dan pengawasan, pemikiran inilah yang melandasi munculnya apa yang kini disebut dengan proses manajemen strategik (strateguc manajemen), artinya berpikir cerdas, strategik digabung dengan proses manajemen. Segala sesuatu yang bersifat strategis tidak hanya berhenti sampai pada perencanan, sekalipun perencanaan tersebut bersifat global. Strategi operasi juga sangat diperlukan, sebab mobilisasi daya dan dana yang diperlukan untuk menggerakkan roda organisasi baru akan terwujud bila perencanaan diikuti oleh tindakan / eksekusi dan pengendalian yang konsisten. Bahkan dua fungsi manajemen yang disebut belakangan itulah yang lebih menentukan kegagalan atau keberhasilan institusi. Jadi pada dasarnya manajemen strategik adalah perkembangan lebih jauh dari model-model manajemen yang sudah ada khususnya model tahap ketiga atau dikatakan manajemen stratgik adalah manajemen modern.[15]


BAB III
PEMBAHASAN
A.      Konsep Dasar Manajemen Strategi
Manajemen strategi adalah kumpulan keputusan dan tindakan yang merupakan hasil dari formulasi dan implementasi, rencana yang didesain untuk mencapai tujuan suatu perusahaan, manajemen strategi terdiri atas 9 tugas kritikal sebagai berikut:
1.      Memformulasi misi (mission) perusahaan, termasuk pernyataan yang luas mengenai maksud, falsafah, dan sasaran.
2.      Mengembangkan suatu profil perusahaan (company profile) yang merefleksi kondisi internalnya dan kemampuan.
3.      Menilai lingkungan eksternal perusahaan, termasuk faktor kompetitif maupun faktor yang berhubungan dengan konteks umum.
4.      Menganalisis opsi perusahaan dengan menandingi sumber daya perusahaan dengan lingkungan eksternalnya.
5.      Mengidentifikasi opsi yang paling diinginkan dengan menilai setiap opsi dipandang dari sudut misi perusahaan.
6.      Memilih sekumpulan tujuan jangka panjang dan strategitotal yang akan mencapai opsi yang paling diinginkan.
7.      Mengembangkan tujuan tahunan dan strategi jangka pendek yang sesuai dengan kumpulan tujuan jangka panjang yang dipilih dari strategi secara keseluruhan.
8.      Mengimplementasikan pilihan strategi dengan alat alokasi sumber daya yang di anggarkan, yaitu memadani tugas-tugas manusia, struktural, tekhnologi, dan menekankan sistem ganjaran.
9.      Menilai keberhasilan proses strategi sebagai masukan untuk pengambilan keputusan masa yang akan datang.[16]
Seperti yang ditunjukkan kesembilan tugas diatas, manajemen strategi mencakup perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, dan pengendalian keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan strategi perusahaan, melalui “strategi” manajer mengartikan rencana berskala dasar dan berorientasi masa depan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan yang kompetitif untuk mencapai tujuan perusahaan. Suatu strategi merupakan rencana permainan suatu perusahaan.
Adapun beberapa karakteristik  manajemen strategik yaitu sebagai berikut:[17]
1.      Manajemen strategik meningkatkan efektivitas organisasi.
2.      Manajemen strategik berorientasikan ke arah jangka panjang.
3.      Manajemen strategik terdapat pada setiap level organisasi.
4.      Manjemen strategik masyarakat pengetahuan yang luas tentang organisasi.
            Adapun beberapa manfaat yang diperoleh oleh organisasi jika mereka menerapkan manajemen strategik yaitu:[18]
1.      Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.
2.      Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.
3.      Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif.
4.      Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam lingkungan yang semakin beresiko.
5.      Aktivitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan untuk mencegah munculnya masalah dimasa datang.
6.      Keterlibatan karyawan dan pembuatan strategi akan lebih memotivasi mereka pada tahap pelaksanaannya.
7.      Aktivitas yang tumpang tindih akan dikurangi.
8.      Sifat untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi.


B.       Ruang Lingkup Manajemen Strategi[19]
Dalam menajemen srategi yang berdasarkan ketiga interaksi fungsi manajemen, yaitu sebagai berikut:
1.      Perumusan atau perencanaan stratejik (strategic planning).
2.      Pelaksanaan stratejik (strategicimplementing).
3.      Pengawasan stratejik (strategiccontrolling/evaluating).
Dalam sebuahorganisasi/perusahaan memilikitantangan-tantangan. Tentangan terbesardari sebuah organisasiadalah mengelolalingkungan baik internal maupun ekternal. Krakteristik dari lingkungan iniadalah dinamisdan tidak dapatditebak. Ketidakpastian lingkunganinilah yang menuntun sebuahorganisasimempunyai kemampuanuntuk menyelesaikannya sendiri. Alasannya, apabila sebuah organisasi terlambatatau bahkantidak dapat melakukanadaptasi terhadap perubahan, maka organisasi tersebut akan mengalami kebangkrutan. Proses adaptasidapat diwujudkan apabilasebuah organisasimempunyai manajemen yang sangat strategik. Prosesnya dapatdimulai dari kajiandan analisis menejerpuncak terhadaplingkungan organisasi. Dari analisis itulahdirumuskan sebuahrencana-rencana yang strategis untukmenghadapi tangtangankedepan. Dengan demikian, dalam kondisi yang penuh dengan ketidakpastian pun sebuah organisasidapat mencapaitujuannyadengan menerapkanmanajemen strategis.
C.       Sejarah dan Perkembangan Manajemen Strategi[20]
Untuk pertama kalinya manajemen strategik dikembangkan dalam kalangan militer Indonesia pada masa dawarsa tujuh puluhan, guna mewujudkan suatu tatanan kekuatan nasional yang berperan melindungi kebutuhan teritori serta kedaulatan bangsa dan negara. Tatanan tersebut hingga saat ini dikenal sebagai sistem manajemen sumber daya pertahanan dan keamanan dengan sistem Perencanaan Strategis Pertahanan Keamanan Negara (Sisrentra Hamkamneg) sebagai perwujudan rencana tindakan dan kegiatan mendasar dalam pola implementasi.
Ketika itu ada kecenderungan strategi versi ABRI ini hendak dijadikan model untuk mendukung perencanaan strategis pembangunan nasional versi pemerintah, akan tetapi hal ini tidak berkembang sebagai keputusan manajerial, kecuali pro dan kontra kehendak masing-masing. Ketika lingkungan mendadak berubah dalam suatu era reformasi menujupemerintahan demokratis (democratic governance) yang mengandaikan semua itu di rumuskan dan dilaksanakan dengan parameter prinsip supremasi otoritas politik (civilin supremacy).  Mekanisme checks and balances dan tersediamyam instrumen transparansi kebijakan yang membagi peluang bagin akuntanbilitas publik, maka berkembanglah pemahaman dan pengetahuan praktis tentang perencaan startegis sehingga banyak pihak yang mulai melihat secara terbuka dan meragukan kontribusi riil yang disumbangkan oleh manajemen strategis untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi yang overlap dengan tujuan ABRI.
Lalu mulai dikeluhkan tentang fungsi dan efektifitas perencanaan strategis, disaat yang sama juga mulai di rasakan sulitnya melakukan eksekusi strategi seperti yang telah di rencanakan. Manajemen strategik hanya memberi peratian pada faktor internal organisasi (ABRI), khususnya manajemen keuangan. Dengan kata lain, baik dalam wilayah perencanaan strategik maupun implementasi strategik, posisi manajemen strategik di kalangan TNI saat ini sedang dipertanyakan terlebih dengan semakin meningginya turbulensi lingkungan strategis dan intensitas pembaruan.[21]
Sementara itu sebagai buah reformasi telah terbentuk dasar-dasar perubahan dibidang manajemen pemerintahan dan pembangunan yang terwujudkan dalam UU No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, Kolusi dan Nepotisme, kemudian ditindak lanjuti oleh pemerintah dengan menerbitkan Inpres No. 7 tahun 1999 tentang Akuntanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dari sinilah di awali tahap baru dimana manajemen startegik berusaha memperoleh posisinya seirama dengan kompleksitas permasalahan negara. Sekalipun hingga saat ini hasilnya belum sepenuhnya di capai. Dalam arti bahwa belum sepenuhnya instansi pemerintah, termasuk Dephan dan TNI mampu melaksanakannya, akan tetapi tanda-tanda positif tampak terlihat secara transparan. Konsep, asumsi, proses dan teknik analisis di coba di perbarui dan sedapat mungkin di kembangkan untuk memperoleh perannya sebagai alat bantu pengambilan keputusan manajerial yang handal.
Semua itu menggambarkan bahwa dalam era reformasi ini manajemen strategis berada dalam nuansa transisi, termasuk di dalamnya manajemen sumber daya pertahanan dan keamanan sebagai manajemen strategik TNI yang saat ini menghadapi turbulensi perubahan lingkungan strategik demikian cepat. Seharusnya di perlukan juga mencari bentuk baru, tidak dengan cara slow motion akan tetapi proaktif dengan menyikapi perubahan lingkungan strategik.
Model manajemen strategik yang canggih seperti kita jumpai saat ini, dengan analisis lingkungan, analisis profit jati diri, strategi, misi dan visi organisasi di mana hubungan dan keterkaitan dapat memberi indikasi pada apa yang di inginkannya (what is desired). Pemikiran strategi ini tidak begitu saja mmuncul sekali jadi.
Pada mulanya pikiran strategis dalam pengelolaan organisasi amat sederhana sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya. Ketika lingkungan organisasi cenderung stabil dan selalu seirama dengan kepentingan organisasi maka  model perencanaan strategik yang ada amat sederhana hanya memberikan titik berat pada peenuhan standar-standar operasional yang telah di tentukan oleh manajemen, khususnya standar keuangan dan produktivitas (output).[22]

BAB IV
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Manajemen strategi adalah kumpulan keputusan dan tindakan yang merupakan hasil dari formulasi dan implementasi, rencana yang didesain untuk mencapai tujuan suatu perusahaan.
manajemen strategi mencakup perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, dan pengendalian keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan strategi perusahaan, melalui “strategi” manajer mengartikan rencana berskala dasar dan berorientasi masa depan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan yang kompetitif untuk mencapai tujuan perusahaan. Suatu strategi merupakan rencana permainan suatu perusahaan.Dalam menajemen srategiada tiga fungsi manajemen, yaitu sebagai berikut:
1.      Perumusan atau perencanaan stratejik (strategic planning).
2.      Pelaksanaan stratejik (strategicimplementing).
3.      Pengawasan stratejik (strategiccontrolling/evaluating).
Manajemen strategik dikembangkan dalam kalangan militer Indonesia pada masa dawarsa tujuh puluhan, guna mewujudkan suatu tatanan kekuatan nasional yang berperan melindungi kebutuhan teritori serta kedaulatan bangsa dan negara.
B.       Saran
Demikianlah hasil makalah yang kami susun, semoga makalah ini memberikan informasi yang akan memperdalam ilmu pembaca, dan tidak menjadi satu-satunya rujukan pembaca, karena kami menyadari akan kekurangan makalah ini, akan tetapi makalah ini segalanya berlandasan dari buku-buku dan internet terpercaya. Demi kesempurnaan makalah ini dan makalah selanjutnya, kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca. Demikian kami ucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA

Suryadi Prawirosentono, Manajemen Stratejik dan Pengambilan Keputusan Korporasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014).
M. Taufiq Amir, Manajemen Strategik (Konsep dan Aplikasi), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2011).
Iwan Purwanto, Manajemen Strategi, (Bandung: CV. Yrama Widya, 2006).
Nawawi Hadari, Manajemen Strategi, (Yogyakarta: Gajah Mada Pers,2005).
http://jurnalskripsi.com/perumusan-strategi-pada-pt-pesona-remaja-industri-malang/



[1] Suryadi Prawirosentono, Manajemen Stratejik dan Pengambilan Keputusan Korporasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014).
[2] http://jurnalskripsi.com/perumusan-strategi-pada-pt-pesona-remaja-industri-malang/
[3] Suryadi Prawirosentono, Manajemen Stratejik dan Pengambilan Keputusan Korporasi.2014
[4] M. Taufiq Amir, Manajemen Strategik (Konsep dan Aplikasi), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2011).
[5] M. Taufiq Amir, Manajemen Strategik (Konsep dan Aplikasi), 2011.
[6] M. Taufiq Amir, Manajemen Strategik (Konsep dan Aplikasi), 2011.
[7] Suryadi Prawirosentono, Manajemen Stratejik dan Pengambilan Keputusan Korporasi, 2014.
[8] Iwan Purwanto, Manajemen Strategi, (Bandung: CV. Yrama Widya, 2006).
[9]Suryadi Prawirosentono, Manajemen Stratejik dan Pengambilan Keputusan Korporasi, 2014.
[10]Nawawi Hadari, Manajemen Strategi, (Yogyakarta: Gajah Mada Pers,2005).
[11]Nawawi Hadari, Manajemen Strategi,2005.
[12]Nawawi Hadari, Manajemen Strategi,2005.
[13]Iwan Purwanto, Manajemen Strategi, 2006.
[14]Iwan Purwanto, Manajemen Strategi, 2006.
[15]Iwan Purwanto, Manajemen Strategi, 2006.
[16]M. Taufiq Amir, Manajemen Strategik (Konsep dan Aplikasi), 2011.
[17]M. Taufiq Amir, Manajemen Strategik (Konsep dan Aplikasi), 2011.
[18]Suryadi Prawirosentono, Manajemen Stratejik dan Pengambilan Keputusan Korporasi, 2014.
[19]Suryadi Prawirosentono, Manajemen Stratejik dan Pengambilan Keputusan Korporasi, 2014.
[20]Nawawi Hadari, Manajemen Strategi,2005.
[21]Nawawi Hadari, Manajemen Strategi,2005.
[22]Nawawi Hadari, Manajemen Strategi,2005.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel