-->

Kajian Singkat tentang Epistemologi dalam Pendidikan Islam

A.   Kajian Singkat tentang Epistemologi dalam Pendidikan Islam
1.    Pentingnya Epistemologi Dalam Pendidikan Islam
Perlu diketahui bahwa umat Islam secara tidak langsung dan tidak nampak telah dijajah oleh epistemologi pendidikan Barat, artinya secara teori mereka lebih mengikuti dan mengandalkan epistemologi pendidikan Barat daripada epistemologi pendidikan Islam. Yang mana epistemologi Barat orientasinya hanya melihat seberapa jauh pengetahuan yang diserap oleh peserta didik, tidak memperhatikan apakah tumbuh kesadaran diri pada peserta didik untuk bertindak dan berprilaku sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Maka dari itu, epistemologi pendidikan Islam sangat penting dilihat dari fungsinya bahwa dengan adanya epistemologi ini akan membangkitkan umat Islam untuk mencapai kemajuan ilmu pengetahuan serta peradaban.
Disamping itu pula, epistemologi ini bisa dimanfaatkan untuk meluruskan para ilmuwan muslim dalam menggali, menemukan, dan mengembangkan pengetahuan supaya tidak terjebak dalam kesesatan yang mengikuti epistemologi pendidikan Barat.

2.    Pengertian Dan Sasaran Epistemologi Pendidikan Islam
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti knowledge atau science (pengetahuan). Jadi, epistemologi dapat diartikan sebagai teori pengetahuan yang valid, membahas sumber, proses, syarat, batas, dan hakikat pengetahuan.
Dalam epistemologi ini yang akan dibicarakan ada dua hal yakni apa itu pengetahuan?, serta bagaimana cara memperoleh pengetahuan?. Artinya, apa terkait dengan teori dan ilmu sedangkan bagaimana terkait dengan metodologinya. Namun, epistemologi pendidikan Islam bukan sekedar membahas masalah tersebut, tetapi epistemologi pendidikan Islam membahas semua aspek diantaranya: hakikat pendidikan Islam, asal-usul pendidikan Islam, sumber pendidikan Islam, metode membangun pendidikan Islam, unsur pendidikan Islam, serta sasaran pendidikan Islam, macam-macam pendidikan Islam dan sebagainya.
Sehingga jelas bahwa epistemologi pendidikan Islam merupakan ilmu tentang pengetahuan. Yang ditekankan pada cara atau upaya atau langkah untuk mendapatkan pengetahuan pendidikan Islam untuk menjadi sebuah teori pendidikan Islam.

3.    Hakikat Pengetahuan Dalam Islam
Istilah-istilah yang sering dipakai dalam menyebutkan ilmu pengetahuan diantaranya ilmu, pengetahuan, al’ilm, dan sains. Walaupun keempatnya bisa dikatakan sama, namun mereka memiliki perbedaan dalam substansi makna yang terkandung.
a.    Ilmu adalah seperangkat rumusan pengembangan pengetahuan yang dilaksanakan secara objektif, sistematis, baik dengan pendekatan deduktif maupun induktif yang dimanfaatkan untuk memperoleh, keselamatan, kebahagiaan, dan pengamanan manusia yang berasal dari Tuhan, dan disimpulkan oleh manusia melalui hasil penemuan pemikiran dari para ahli.
b.    Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui akal, pancaindera, dan sebagainya mengenai sesuatu hal.
c.    Sains adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu sistem yang berasal dari pengamatan, studi, dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang sesuatu yang dipelajari.
d.    Alilm merupakan istilah yang tepat untuk mendefinisikan pengetahuan. Karena dua komponen: Pertama, sumber asli seluruh pengetahuan adalah Al Qur’an yang mengandung kebenaran absolut. Kedua, metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid, menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas, bagian yang bermanfaat untuk memecahkan masalah. Serta akar sandarannya lebih kuat dibandingkan sains versi Barat.
Hakikat pengetahuan dalam epistemologi Islam dan Barat sangat berbeda. Epistemologi Islam menjawab bahwa pengetahuan ilmiah adalah segala sesuatu yang bersumber dari alam fisik dan non-fisik. Sedangkan epistemologi Barat menjawab bahwa pengetahuan ilmiah itu bersumber dari alam fisik saja. Karena non-fisik, merupakan objek yang tidak dapat diketahui secara ilmiah.
      Sumber utama ilmu dalam Islam adalah Allah SWT., sedangkan sumber secara umum ada 5, yakni: melalui indera, akal, intuisi, ilham, dan wahyu ilahi. Antara intuisi, ilham dan  wahyu ilahi, secara substantif bisa dikatakan wahyu, karena merupakan sama-sama pemberian dari kekuatan spiritual. Islam dan Barat dalam hal indera dan akal sehat tidak ada perbedaan. Dalam hal intuisi ada perbedaan, Barat mengatakan bahwa jika seseorang memberikan penilaian tanpa didahului perenungan dan tidak terdapat langkah-langkah yang sistematik dan terkendali, sehingga pengetahuan yang  dicapai melalui intuisi sulit dipercaya. Sedangkan Islam, intuisi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu saluran ilmu yang bisa diperoleh manusia.
Pemikiran Islam dalam proses memperoleh pengetahuan, diantara cara pemerolehannya tersebut saling membutuhkan dan menyempurnakan.
Menurut pola Al Qur’an, pengetahuan diperoleh melalui wahyu, pengetahuan yang absolut (haqq al- yaqin), rasionalisme atau kesimpulan yang didasari pada keputusan dan penilaian fakta-fakta (al-‘ilm al-yaqin), dan melalui empirisme dan persepsi, yakni dengan observasi, eksperimen, laporan sejarah, deskripsi pengalaman-pengalaman kehidupan (‘ain al-yaqin). Dan ketiganya tersebut berbentuk hierarki, artinya haqq al-yaqin lebih tinggi dari pada al-‘ilm al-yaqin dan al’ilm al-yaqin lebih tinggi dari pada ‘ain al-yaqin.
Dalam pandangan Islam bahwa Ilmu berasal dari Allah SWT., jadi, dalam Islam tidak dikenal adanya Islam religius dan sekuler. Karena pada hakikatnya semua ilmu berasal dari Allah SWT.

4.    Upaya membangun Epistemologi Pendidikan Islam
Untuk membangun dan mengembangkan pendidikan Islam yang bermutu dan berdaya saing yang tinggi. Maka, kita harus memiliki dasar atau fondasi yang dapat mengukuhkan pendidikan Islam yakni epistemologinya. Cara kerja epistemologi inilah yang akan menentukan isi teori dalam pendidikan Islam.
 Karena pendidikan Barat banyak diadopsi oleh Islam yang mana orientasinya hanya seberapa jauh peserta didik menangkap pengetahuan, tidak pada sejauh mana peserta didik berprilaku sesuai dengan pengetahuan yang dikuasainya. Hal ini yang menjadi masalah yang semestinya pendidikan itu menjadikan manusia berprilaku sesuai dengan pengetahuannya bukan hanya cara memperoleh pengetahuan itu. Akan tetapi, bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan.
Untuk itu, perlunya membangun epistemologi ini merupakan langkah awal untuk membenahi masalah-masalah yang ada. Dengan cara:
1.    Merumuskan konseptual untuk menemukan syarat-syarat dalam mengetahui pendidikan berdasarkan ajaran-ajaran Islam.
2.    Menyiapkan sarana dan potensi yang dimiliki para ilmuwan atau pemikir, dalam kapasitasnya sebagai penggali khazanah dan temuan pendidikan Islam.
Sehingga melalui epistemologi pendidikan Islam para ilmuan bisa melakukan:
1.    Penyusunan teori-teori atau konsep pendidikan pada umumnya maupun pendidikan yang diklaim sebagai Islam dapat dikritisi dengan menggunakan pendekatan yang dimilikinya.
2.    Memberikan pemecahan terhadap problem-problem pendidikan, baik secara teoritis maupun praktis.
3.    Penemuan konsep-konsep baru tentang pendidikan Islam.
4.    Mengembangkan hasil temuan itu secara lebih optimal.
Serta tidak lupa pula bahwa epistemologi pendidikan Islam orientasinya pada peserta didik untuk mencapai ketaqwaan atau pendekatan diri kepada Allah.

      B.   Analisis Tentang Epistemologi Dalam Pendidikan Islam
Dalam buku karangan Siswanto yang berjudul “Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam”, di sisi lain, bentuk pendidikan tradisional yang menghabiskan banyak energi bukan dalam bidang pemiiran yang kreatif, tetapi dalam hal “mengingat” dan “mengulang” itu tidak dapat menghasilkan gerakan intelektual. Padahal, semestinya pendidikan yang baik dan strategis tentu mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang berkapasitas intelektual, sebab kaum intelektual adalah anggota-anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya pada pengembangan ide-ide orisinal dan terikat dalam pencarian pemikiran-pemikiran kreatif. Di tengah merekalah dapat digantungkan harapann adanya gagasan dan terobosan baru untuk memecahkan problem-problem yang dihadapi umat.[1]
Dalam kalimat tersebut penulis setuju bahwa pendidikan tradisonal yang polanya mengingat dan mengulang atau bisa dikatakan hafalan. Hal tersebut memang menjadi problem dalam pendidikan dengan berkembangnya zaman. Penulis menemukan di dalam referensi lain yang menguatkan pada kalimat tersebut.
Bergesernya praktik pendidikan menjadi identik dengan mengajar ini menimbulkan penekanan yang tidak seimbang pada aspek pengetahuan (kognitif) semata. Siswa hanya belajar tentang materi pengetahuan tertentu melalui proses transfer of knowledge (panyampaian pengetahuan) dari orang yang dipandang lebih tahu, yakni guru. Idiom guru itu “diguru dan ditiru” termanivestasi dalam pengetahuannya yang dianggap final, bahwa apa yang disampaikan oleh guru itu mestilah benar. Sementara dimensi sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) kurang diperhatikan. Penekanan pada aspek kognitif inilah yang menyebabkan proses pendidikan itu berjalan monoton, intelektualisme, dan verbalisme. Padahal, pendidikan itu sendiri berdimensi ketiga ranah tersebut. Bukan hanya transfer of knowledge, melainkan juga transfer of values (internalisasi nilai) dan transfer of methodology (aplikasi metodologi). Makna pendidikan hakikatnya adalah menyeimbangkan antara belajar untuk tahu (learning to know), belajar untuk menjadi (learning to be), belajar untuk berbuat (learning to do), dan belajar untuk hidup bersama (learning to live together).[2]
Terdapat kalimat “.......dalam konteks ini epistemologi membicarakan dua hal yakni apa itu pengetahuan?, serta bagaimana cara memperoleh pengetahuan?. Artinya, apa terkait dengan teori dan ilmu sedangkan bagaimana terkait dengan metodologinya.[3]
Menurut referensi yang penulis temukan, bahwa terdapat tiga hal pokok dalam bidang ini (epistemologi), Pertama, apakah sumber-sumber pengetahuan itu?, Dimanakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya? Kedua, apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar-benar berada diluar pikiran kita, kalau ada apakah kita mengetahuinya? Ini persoalan tentang apa yang kelihatan (phenomena atau appearance) versus hakikat (noumena atau essence). Ketiga, apakah pengetahuan kita itu benar atau valid? Serta bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Ini adalah soal tentang mengkaji kebenaran atau verifikasi.[4]
Di dalam buku karangan Siswanto yang berjudul “Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam”. Yang isinya bahwa sumber pengetahuan dalam Islam adalah akal, indera, intuisi, ilham dan wahyu ilahi.[5] Penulis juga dapatkan bahwa sumber pengetahuan itu ada 5: pengetahuan wahyu, pengetahuan intuitif, pengetahuan rasional, pengetahuan empiris, dan pengetahuan otoritas.[6]
Dalam hal ini sebagai penulis memberikan saran, alangkah sebaiknya berhubungan dengan sumber-sumber tersebut agar lebih valid dan dikarenakan kajian yang dibahas merupakan kajian tentang Islam yang seharusnya memang berkaitan dengan ayat-ayat Al Qur’an. Diantarnya sebagai berikut:
1.    Akal
Banyak sekali ditemukan di dalam Al Qur’an ayat-ayat yang menganjurkan manusia untuk mempergunakan akalnya. Bahkan, Al Qur’an mencemooh manusia yang tidak menggunakan akalnya. QS. Al Nahl ayat 11-12, merupakan diantara ayat yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya, yaitu bahwa kenyataan empiris di alam ini seharusnya menjadi sarana bagi manusia untuk menggunakan akalnya untuk membina sebuah ilmu pengetahuan.
Demikian pula, QS. Ali-Imran ayat 190-191, QS. Al-Ghasyiyah ayat 17-20, dan QS. Al-Baqarah ayat 164, memerintahkan manusia untuk berpikir menggunakan akalnya. Bagi manusia yang tidak menggunakan akalnya, dicemooh Al Qur’an (QS. Al-Anfal ayat 22), sebagai sama dengan binatang. Demikian manusia yang mampu menggunakan akalnya, baik melalui proses pikir, proses perenungan, maupun proses intelektualnya, akan melahirkan teori-teori pembentuk ilmu pengetahuan, yang selanjutnya berfungsi untuk mengakui kebesaran Allah.[7]
2.    Indera
Di dalam QS. Al-Nahl ayat 78. Demikian halnya dengan indera manusia telah diakui ayat tersebut sebagai sumber pengetahuan, dengan tegas menyatakan bahwa manusia telah dianugerahi Allah penglihatan, pendengaran, dan hati. Ketiga sarana ini merupakan potensi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Penglihatan dan pendengaran merupakan sarana utama untuk observasi, yang dengan bantuan akal, manusia dapat mengamati dan memahami fenomena empiris sehingga memunculkan proses generalisasi.[8]
3.    Wahyu (intuisi dan ilham)
Ilmu dalam Islam selain menngandalkan akal dan indera, Islam juga bertopang pada kesadaran dan keimanan kepada kekuasaan Allah. Inilah ilmu pengetahuan yang menjadi hidayah dan cahaya Tuhan. Baik rasio maupun indera tanpa dibarengi hidayah dan cahaya Tuhan tidak akan sempurna. Maka dari itu, wahyu menjadi sumber ilmu pengetahuan dalam Islam selain akal dan indera. Terdapat di dalam QS. Al-Hajj ayat 8, yang berbunyi:

“Dan diantara kamu manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya”.
Artinya, ilmu pengetahuan dalam Islam, selain bersumber pada akal dan indra, juga bersumber pada wahyu atau kitab suci. Pengetahuan yang bersumber pada ketiga sarana inilah yang menjadi petunjuk hidayah bagi segala ilmu pengetahuan.[9]
Siswanto berpendapat mengenai pengertian epistemologi, yang mengutip pendapat Bromeld sebagaimana yang dikutip oleh Noor Syam mendefinisikan epistemologi dengan “it is epistemology that gives the teacher the assurance that he is conveying the truth to his student” (Epistemologi memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran pada murid-muridnya).[10]
Dari yang penulis pahami bahwa jika seorang guru menggunakan epistemologi dalam mengajarkan siswanya, maka ia akan diberikan jaminan dan kepercayaan bahwa ia mampu mendidik sesuai tujuan pendidikan Islam. Istilah lainnya bisa disebut dengan janji dari epistemologi kepada guru. Akan tetapi, dalam buku tersebut tidak memaparkan konsekuensi-konsekuensi logis dari epistemologi. Karena dengan mengetahui konsekuensi logis dari epistemologi seorang guru akan lebih paham untuk proses KBM nya. Dan menumbuhkan peningkatan dalam KBM.
Maka dari itu, alangkah sebaiknya diterakan. Dan dibawah ini merupakan hasil yang penulis temukan dalam referensi lain.
Karena epistemologi merupakan pendekatan yang berbasis proses maka, epistemologi melahirkan konsekuensi-konsekuensi logis, sebagai berikut:[11]
a.    Menghilangkan paradigma dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, ilmu tidak bebas nilai, tetapi bebas untuk dinilai, mengajarkan agama lewat bahasa ilmu pengetahuan, dan tidak mengajarkan sisi tradisional saja, tetapi sisi rasional.
b.    Mengubah pola pendidikan Islam indoktrinasi menjadi pola partisipatif antara guru dan murid.
c.    Mengubah paradigma ideologis menjadi paradigma ilmiah yang berpijak pada wahyu Allah SWT.
d.    Guna menopang dan mendasari pendekatan epistemologi ini, perlu dilakukan rekonstruksi kurikulum yang masih sekuler dan bebas nilai spiritual ini, menjadi kurikulum yang berbasis tauhid.
e.    Epistemologi Islam diorientasikan pada hubungan yang harmonis antara akal dan wahyu. Maksudnya, orientasi pendidikan Islam ditekankan pada pertumbuhan yang integratif antara iman, ilmu, amal, dan akhlak. Bisa dikatakan bahwa hasil dari integrasi ini adalah manusia yang beriman Tauhidiyah, berilmu Amaliyah, beramal ilmiah, bertaqwa Ilahiyah, berakhlak Rabbaniyah, dan berperadaban Islamiyah.
f.     Mengubah pendekatan dari teoritis atau konseptual menjadi kontekstual atau aplikatif.
g.    Adanya peningkatan profesionalisme tenaga pendidik dan penguasaan materi yang komprehensif tentang materi ajar yang terintegrasi antara ilmu dan wahyu.
Terdapat kalimat “.....Tampaknya, sistem pendidikan yang ada sampai saat ini masih menampakkan berbagai permasalahan berat dan serius yang memerlukan penanganan dengan segera. Dalam menangani permasalahan ini (pengaruh Barat terhadap pendidikan Islam) tidak bisa dilakuakan secara parsial, tapi harus dilakukan secara total, holistik, dan integratif berdasarkan petunjuk-petunjuk wahyu ilahi untuk menjamin arah pemecahan yang benar. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, para pakar ilmuwan pendidikan Islam dan para pengambil kebijakan dalam pendidikan Islam harus mengadakan pembaharuan-pembaharuan secara komperehensif agar terwujud pendidikan Islam ideal yang mencakup berbagai dimensi. Pada dimensi pengembangan terdapat kesadaran bahwa cita-cita mewujudkan pendidikan Islam ideal itu baru bisa dicapai bila ada upaya membangun epistemologinya.”[12]
Dalam hal ini penulis setuju, agar ada upaya pengembangan epistemologinya. Namun, dalam upaya tersebut bisa dengan dua jalan bukan nya harus total tetapi dengan:
Merevisi teori yang ada dalam pendidikan Islam berarti menyempurnakan teori yang telah ada agar sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan membuat teori berarti merancang teori yang sama sekali baru.
Secara teori pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu merupakan konsep pendidikan yang mengandung berbagai teori yang dapat dikembangkan dari hipotesa-hipotesa yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits baik dari segi sistem, proses, dan produk yang diharapkan mampu memberdayakan umat manusia agar bahagia dan sejahtera dalam hidupnya.[13]

      C.   Kesimpulan
Epistemologi pendidikan Islam bisa dimanfaatkan untuk meluruskan para ilmuwan muslim dalam menggali, menemukan, dan mengembangkan pengetahuan supaya tidak terjebak dalam kesesatan yang mengikuti epistemologi pendidikan Barat. Sehingga para ilmuwan harus memahami hakikat pengetahuan Islam lebih mendalam agar dapat mewujudkan pendidikan Islam yang sesuai dengan epistemologi dan metodologinya dalam upaya pengembangannya.
Dalam pengembangan epistemologi dalam pendidikan Islam, ia harus menngembangkan pendekatan atau metode dikarenakan lebih dekat dengan upaya pengembangan epistemologi pendidikan Islam.
Sumber utama ilmu dalam Islam adalah Allah SWT., sedangkan sumber secara umum ada 5, yakni: melalui indera, akal, intuisi, ilham, dan wahyu ilahi. Antara intuisi, ilham dan  wahyu ilahi, secara substantif bisa dikatakan wahyu, karena merupakan sama-sama pemberian dari kekuatan spiritual.
Kesimpulan umum bahwa penulis setuju akan karangan Dr. Siswanto, M. Pd, I dalam bukunya Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam, hanya saja terdapat segelintir wacana yang penulis masukkan dari referensi lain. Sebagai acuan perbandingan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan.


       D.   Daftar Rujukan
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
Assegaf, Abd. Rachman. 2014. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Masruroh, Ninik dan Umiarso. 2011. Modernisasi Pendidikan Islam Ala Azyumardi Azra. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta.
Siswanto. 2015. Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam. Surabaya: Pena Salsabila.
Suharto, Toto. 2014. Filsafat Pendidikan Islam; Menguatkan Epistemologi Islam Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
                                   

[1] Siswanto, Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Surabaya: Pena Salsabila, 2015), hlm. 68.
[2] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm.  23-24.
[3] Ibid., Siswanto, hlm. 70.
[4] Ninik Masruroh dan Umiarso, Modernisasi Pendidikan Islam Ala Azyumardi Azra, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 40.
[5] Ibid., Siswanto, hlm. 76.
[6] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: CV. Alfabeta, 2003), hlm. 30.
[7]  Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam; Menguatkan Epistemologi Islam Dalam Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 34.
[8] Ibid.
[9] Ibid., hlm. 35.
[10] Ibid., Siswanto, hlm. 69.
[11] Ibid., Ninik Masruroh dan Umiarso, hlm. 43-46.
[12] Ibid., Siswanto, hlm. 80-81.
[13] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 9-10.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel