-->

Rokok prespektif Islam makalah lengkap

dibawah ini adalah makalah tentang Rokok Prespektif Islam (makalah lengkap), semoga makalah ini bermanfaat bagi rekan pembaca semua. jika ingin mendapatkan makalah dibawah ini, hubungi kami. atau klik download diatas. terima kasih.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Banyak pendapat yang tidak memperbolehkan dan diperbolehkannya rokok. Sedangkan rokok adalah sesuatu yang tidak dicantumkan dalam Al-Qur’an hanya saja diterangkan tentang tidak diperbolehkannya sesuatu yang membuat rusak. Sedangkan menurut ulama NU hukumnya rokok adalah mubah, makruh, dan haram. Sedangkan menurut MUHAMMADIYAH adalah haram hukumnya.
Oleh sebab itu makalah ini disusun untuk mengetahui diperbolehkan atau tidaknya rokok.Jika ada kesalahan atau pemikiran dalam makalah ini mohon maaf sebesar-besarnya.
1.2  Rumusan masalah
         1.      Bagaimana rokok menurut hukum islam?
         2.      Apa alasan mereka memperbolehkan rokok?
         3.      Apa pandangan rokok menurut NU dan MUHAMMADIYAH?
         4.      Apa faktor perilaku merokok?
         5.      Apa faktor merokok dikalangan remaja saat ini?
         6.      Apa hukum rokok?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Rokok menurut hukum islam
Tumbuhan yang dikenal dengan nama tembakau ditemukan orang pada abad ke -10 Hijriah,kemudian penggunaannya mulai menyebar luas .Kenyataan itu mendorong para ulama berbicara menerangkan hukum-hukumnya menurut syari’at.Karena tembakau pada masa itu baru saja dikenal,ketentuan hukum syari’atnya tidak terdapat masa-masa sebelum itu.Para ulama fiqih ahli ijtihad pada masa itu dan masa sesudahnya,tidak ada yang dalam mazdhabnya (termasuk pendiri mazdhab empat) masing-masing melarang, membolehkan atau membenarkan orang menghisab rorok.[1]
Fihak-fihak yang mengharamkan rokok mendasarkan pada sejumlah huku syara’ yang pokok-pokoknya.
1.      Unsur memabukkan diantara mereka berpendapat bahwa tembakau mengandung unsur memabukkan, dan semua yang memabukkan adalah haram.Menurut mereka,asap tembakau dapat menghamburkan akal pikiran,sama dengan sam dengan mabuk meskipun tidak disertai perasaan gemetar.
2.      Unsur mengurangi stamina dan melemahkan badan
Mereka mengatakan juga,jika rokok tidak dapat dikatak mengandung unsur memebukkkan,yang sudah jelas mengurangi stamina dan melemahkan badan.
3.      Rokok berbahaya
Yang dimaksud bebahaya dalam hal menjadi dua macam:
a.       Membahayakan kesehatan badan
Rokok membuat badan penghisapnya menjadi lemah, kekuatannya sangat berkurang, seperti seperti saluran pernafasan dan sebagainya. Semua yang memhayakan haram dikonsumsi, seperti firman Allah SWT Q.S An-Nisa’.

b.      Membahayakan harta
Yang di maksud ialah bahwa rokok sama artinya dengan membuang harta.Allah SWT dalam firman-Nya menegaskan.
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا۝
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا ۝
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.(Q.S Al-Israa’26-27)
Alasan yang memakkruhkan rokok
1.      Rokok mengandung bahaya,terutam terlampau banyak dihisap.Kedati mulanya sedikit menghisap rokok,tetapi akhirnya ia menjadi pecandu rokok.
2.      Mengurangi harta,jika tidak dapat dikatakan merokok itu perbuatan membuang-buang uang,dan pemborosan,maka sekurang-kurangnya kebiasaan merokok mengakibatkan berkurangnya harta atau uang.
3.      Baunya yang sangat mengganggu orang laintidak merokok.Semua yang seperti itu adalah makkruh.
4.      Pada suatu ketika penghisap rokok tidak memperoleh kegemaran yang dibutuhkan.Dalam keadaan demikian ia akan merasa gelisah dan merana.
2.2  Alasan mereka yang memperbolehkan merokok
Golongan ini berpegang pada qoidah, tembakau yang digunakan rokok tidak di kenal di masa nabi,sehingga tidak bisa diterangkan halal dan haramnya. Tetapi segala  sesuatu pada asalnya adalah mubah atau halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya, atau Nampak adanya bahaya yang kemudian bisa ditetapkan hukum haramnya. Seperti firma Allah SWT Q.S Al-baqarah:29
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”(Q.S Al-baqarah:29)
Dengan demikian,mereka mengatakan hukum awalnya mubah.jika sekiranya rokok itu dapat menimbulkan bahaya baginya terhadap kesehatan dirinya maka hukumnya haram.Dan jika  bahaya yang ditimbulkan sedikit maka hukumnya makkruh.[2]
2.3  Pandangan Rokok Menurut  NU dan MUHAMMADIYAH
            1.      Muhammadiyah
Hukum islam (fiqh), sebagaimananya kita ketahui bersama,dapat berubah tergantung dengan situasi dan kondisi dimana hukumitu diterapkan. Demikian dengan halnyadengan fatwa dikeluarkan oleh Muhammadiyah tentang hukum rokok. Bahwa pada tahun 2005 Majelis Tarjih dan Tajdid memfatwakan mubah dikarenakan belum cukupnya data-data dan informasi yang diterima oleh para perumus fatwa.Dan setelah dilakukan kembali beberapa kajian dengan mengundang para ahli keshatan, demografi dan sisiologi maka Majlis Tarjih dan Tajdid merubah fatwa bahawa merokok mubah menjadi haram. Dengan dikeluarkan fatwa baru ini, maka fatwa sebelimnya tentang merokok adalah mubah menjadi tidak berlaku. Dalam amar fatwa haram rokok yang dikeluarkan Muhammadiyah disebutkan bahwa:Wajib hukumnya mengupayakan pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya suatu kondisi hidup sehat yang merupakan hak setiap orang dan merupakan bagian dari tujuan syariah (maqhasid asy-syari’ah).[3]

Adapun dalil atau dasar diharamkannya rokok,adalah:
Pertama, bahwa merokok termasuk katagori perubahan melakukan kbaba’its yang dilarang  yang dilarang dalam Islam, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur‘an yaitu.
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿١٥٧﴾
 orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu  yang  ada  pada  mereka.  Maka  orang-orang  yang  beriman  kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (al-A‘raf: 157).
2.    Nahdhatul Ulama
Hukum merokok menurut sebagian besar ulama NU makruh. NU menyadari bahwa kebiasaan merokok baru dikenal di dunia Islam semenjak awal abad XI hijriyah dan sejak itu hukum rokok atau merokok telah dibahas oleh para ulama di berbagai negeri, baik secara kolektif maupun pribadi. Di sebabkan tidak ada dalil dari al-Qur‘an maupun hadis yang secara khusus menjelaskan masalah hokum merokok, maka perbedaan mengenai hukum merokok pun tidak dapat dihindarkan. Hukum merokok berkutat pada perbedaan haram, mubah dan makruh.[4]
Membaca artikel yang ditulis KH Arwani Faishal di situs resmi NU berjudul Bahstul Masail tentang Hukum Merokok tidak didapatkan keterangan yang secara tegas mengatakan  bahwa merokok hukumnya ini atau itu; mubah, haram, atau makruh.   KH   Arwani,   wakil   ketua   lembaga   Bahstuhl   Masail   ini   mencoba memandang dari bebagai perspektif tentang fatwa-fatwa seputar hukum rokok, tidak secara tegas memilih pendapat mana yang paling kuat.
Ia menyatakan bahwa pengharaman rokok pasti akan mendapat penolakan dari orang-orang yang tidak sepaham.  Ia menulis: “Seandainya muncul fatwa, bahwa korupsi itu hukumnya haram berat karena termasuk tindak sariqah (pencurian), maka semua
orang akan sependapat termasuk koruptor itu sendiri. Akan tetapi persoalannya akan lain ketika merokok itu dihukumi haram. Akan muncul pro dari pihak tertentu dan muncul pula kontra serta penolakan dari pihak-pihak yang tidak sepaham. Dalam tinjauan fiqh terdapat beberapa kemungkinan pendapat dengan berbagai argumen yang bertolak belakang.”
Memang terdapat nash al-Qur‘an dan sunnah yang melarang manusia untuk berbuat kerusakan, kemudharatan dan kemafsadatan. Namun begitu dalil tersebut memiliki sifat yang umum sehingga sangat niscaya Ulama menafsirkannya berbeda-beda.
Dalam surat al-Baqarah Allah berfirman:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(Al-Baqarah: 195).
    1.4  Faktor perilaku merokok
Perilaku meroko merupakan perilaku yang berbahaya bagi kesehatan, tetapi masih banyak orang yang melakukannya.Bahkan orang mulai merokok ketika masih remaja. Asal mulanya,orang yang menghisap rokok merasa tidak nyaman, misalnya kepala pening mulut kering dan bau. Akan tetapi lama-kelamaan jika diteruskan berkali-kali dan dibiasakan maka perokok merasa nikmat dan enak.Setelah itu menjadi ketagihan, kecanduan dan tergantung, baik secara fisik maupun psikis. Secara umum menurut Kurt Lewin, bahwa perilaku merokok merupakan fungsi lingkungan dan individu, artinya perilaku merokok selain disebabkan factor dalam diri, juga disebabkan oleh factor lingkungan.[5]
1.      Adapun factor dari individu yaitu:
a.       Factor biologis
Banyak penelitian menunjukkan bahwa nikotin dalam rokok merupakan salah satu bahan kimia yang berperan penting pada ketergantungan merokok.
b.      Factor psikologis
Merokok dapat bermakna untuk meningkatkan konsentrasi, menghalau rasa kantuk, mengakkrabkan suasana sehingga timbul persudaraan, juga dapat memberikan kesan moderen dan berwibawa, sehingga bagi individu yang sering bergaul dengan orang lainperilaku merokok sangat sulit tuk dihindari.
c.       Faktor demografis
Factor ini meliputi umur dan jenis kelamin. Orang yang merokok pada usia dewasa semakin banyak akan tetapi pengaruh jenis kelamin zaman sekarang tidak terlalu berperan karena baik pria maupun wanita sekarang sudah merokok.
2.      Factor lingkungan yaitu:
a.       Faktor lingkungan social
Lingkungan social berpengaruh terhadap sikap,kepercayaan dan perhatian individu terhadap perokok.
b.      Faktor social kultural
Kebiasaan budaya,kelas social,tingkat pendidikan,penghasilan dan gengsi pekerjaan akan mempengaruhi prilaku merokok pada individu.
c.       Faktor social politik
Menambahkan kesadaran umum berakibat pada langkah-langkah politik yang bersifat melindungi bagi orang-orang yang tidak merokok dan usaha melancarkan kampanye promosi kesehatan untuk menurangi perilaku merokok.Merokok menjadi masalah yang bertambah besar di Negara-negara berkembang seperti di Indonesia.
2.5  Perilaku merokok di kalangan remaja saat ini
Berdasarkan penelitian melaluai observasi, wawancara, dokumentasi dan pengolahan data dan angket terhadap 40 siswa SMK insan Cendekia, yaitu 15 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan kelas X dan XI pada hari kamis tanggal 6 Desember 20011,berikut ini adalah hasilnya.[6]
1.      Siswa  yang Merokok
Berdasarkan wawancara dan data yang diperolehkan dari angket denag siswa/siswi SMK Insan Cendekia di ketahui bahwa terdapat 52,5% siswa  yang pernah merokok,sedangkan yang belum pernah merokok sebanyak 47,5%. Dari angket ditemukan bahwa tidak hanya siswa laki-laki yang pernah merokok tapi juga siswa perempuan.Sejumlah 21 siswa yang merokok, terdiri dari siswa laki-laki dan 6 siswa permpuan.
Penelitian mengatagorikan siswa menjadi 3 yaitu: Perokok pasif, Perokok aktif, Perokok pecandu. Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok tapi ikut terpaksa menghirup asap rokok karena tidak bisa menghindari lagi. Adapun indicator dari perokok pasif: belum pernah merokok, merasa terganggu terhadap lingkunga perokok, mengetahui bahaya rokok. merokok tidak menjadi kebutuhan, setiap hari pasti merokok, dapat menahan menahan diri jika tidak mempunyai rokok. Perokok pecandu adalah orang yang merokok karena kecanduan sudah menjadi kenutuhan.Adapun indicator dari rokok pecandu yaitu: merokok merupakan kebutuhan, setiap hari pasti merokok, jika kehabisan rokok maka tidak tahan sampi memperolehnya.
2.      Merokok menambah percaya diri dan mudah bergaul
Merokok menambah percaya diri dan mudah bergaul, seperti kata siswa yang merokok “gak ngerokok gak gaul”. iya juga sering diejek temennya jika gak ngerokok gak gaul. Namun meski demikian iya tetap tidak merokok. ”gak gaul kalau gak ngerokok itu cuma masalah gengsi. Yang setuju bahwa merokok dapat menabah percaya diri dan mudah bergaul sepertiga saja. Dengan realita ini menunjukkan bahwa hubungan antara meokok dengan percaya diri dan pergaulan sekalipun prosentasenya tidak terlalu besar.

2.6  Hukum rokok
Tembakau dan cengkeh menjadi bahan utama pembuatan rokok adalah benda-benda yang berhukum mubah.Sebab,tidak ada satupun nash sharih yang mengharamkan keduanya, baik dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Dalam keadaan seperti ini; status hukum tembakau dan cengkeh harus di kembalikan pada hukum asalnya, yakni mubah.

BAB III
KESIMPULAN

          Dalam islam rokok adalah suatu barang yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist. Akan tetapi ada beberapa ulama yang berbeda pendapat tentang rokok, ada yang mubah  dan ada juga haram. Didalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa jika sesuatu yang merugikan kepada diri sendiri maupun orang lain maka tinggalkanlah, itulah kesimpulan dari semua ayat.



DAFTAR PUSTAKA
https://konsultasisyariah.com/13753-hukum-rokok-dalam-islam.html
http://dedyenha.blogspot.co.id/2012/03/makalah-perilaku-merokok-pada-remaja.html
M. Yusuf Amin Nugroho, Fiqih Al-Ikhtilaf NU-Muhammadiyah, e-book, 2010.                                              


[1] https://konsultasisyariah.com/13753-hukum-rokok-dalam-islam.html, Pada tanggal 05 Desember 2016 Pukul 16.34
[2] Ibid
[3] M. Yusuf Amin Nugroho, Fiqih Al-Ikhtilaf NU-Muhammadiyah, e-book, 2010.
[4] Ibid
[5] http://dedyenha.blogspot.co.id/2012/03/makalah-perilaku-merokok-pada-remaja.html

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel