-->

Pendidikan islam dalam keluarga makalah lengkap




BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Anak termasuk individu unik yang mempunyai eksistensi dan memiliki jiwa sendiri, serta mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanaya masing-masing yang khas. Masa kehidupan anak sebagian besar berada pada lingkungan keluarga. Karena itu, keluargalah yang paling menentukan terhadap masa depan anak, begitu pula corak anak dilihat dari perkembangan soaial, psikis, fisik, dan relegiusitas juga ditentukan oleh keluarga. Rasulullah SAW bersabdah, yang artinya: “tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang membuatnya yahudi, nasrani, maupun majusi”. (H.R. Bukhari Muslim). Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mengantarkan putra-putrinya menjadi orang yang sukses dan bagi orang tua penting memahami dan memperhatikan perkembangan anak.
Oleh karena itu anak harus diberi bekal pendidikan agama terutama pendidikan agama islam sejak dini. Pendidikan agama telah diajarkan di sekolah dan lingkungan keluarga, namun yang paling berpengaruh pada anak adalah pendidikan agama yang diberikan di lingkungan keluarga sejak dini. Penanaman pendidikan agama sejak dini dapat mempengaruhi pandangan hidup anak saat mereka telah tumbuh dewasa serta dapat menjadikan pegangan hidup saat mereka bergaul di lingkungan masyarakat yang lebih luas agar tidak mudah terpengaruh oleh perbuatan negatif.

B.            Rusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pendidikan islam dalam keluarga?
2.      Apa fungsi keluarga dalam mendidik anak?
3.      Apa peran keluarga dalam mengasuh anak?
4.      Bagaimana metode pendidikan yang diterapkan keluarga dalam mendidik anak?

C.           Tujuan
1.             Untuk mengetahui pendidikan islam dalam keluarga.
2.             Untuk mengetahui fungsi keluarga dalam mendisik anak.
3.             Untuk mengetahui peran keluarga dalam mengasuh anak.
4.             Untuk mengetahui metode pendidikan dalam keluarga.


BAB II
PEMBAHASAN

1.             Pendidikan Islam Yang Diterapkan Dalam Keluarga
Lingkungan pertama dalam pendidikan islam adalah lingkungan keluarga ajaran islam menekankan agar setiap manusia dapat memelihara keluarganya dari bahaya api siksa neraka, juga termasuk menjaga anak dan harta agar tidak menjadi fitnah yaitu dengan cara mendidik anak dengan sebaik-baiknya. pendidikan anak mutlak dilakukakan oleh orang tuanya untuk menciptakan pribadi anak yang maksimal. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6:
ياايها الذين امنوا قوا انفسكم واهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملئكة غلاظ شداد لايعصون الله ما امرهم ويفعلون ما يؤمرون.
Artinya:
 wahai orang yang beriman! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada allah terhadap apa yang dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[1]

Dalam islam, keluarga dikenal dengan istilah usyrah, nasl, ‘ali, dan nasb. keluarga dapat diperoleh melalui keturunan (anak, cucu), perkawinan (suami, istri), persusuan, dan pemerdekaan. keluarga (kawula dan warga) dalam pandangan antropologi adalah suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk soaial yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerja sama ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, merawat, dan sebagainya. Anggota  inti keluarga adalah ayah, ibu, anak.[2]
Ayah merupakan sumber kekuasaan yang memberikan pendidikan anakanya tentang manajemen dan kepemimipinan, sebagai penghubung antara keluarga dan masyarakat dengan memberikan pendidikan anaknya komunikasi terhadap sesamanya, memberi perasaan aman dan perlindungan, sehingga ayah memberikan pendidikan sikap yang bertanggung jawab dan waspada. Sedangkan ibu sebagai sumber kasih sayang yang memberikan pendidikan sifat ramah tamah, mengasuh anak, pengasuh dan pemelihara keluarga yang memberikan pendidikan berupa kesetiaan dan tanggung jawab, sebagai tempat pencurahan isi hati yang memberikan pendidikan berupa sikap keterusterangan, terbuka, dan tidak suka menyimpan derita atau rasa pribadi.[3]
Sebagai pendidik anak-anaknya, ayah dan ibu mempunyai kewajiban dan memiliki bentuk yang yang berbeda karena keduanya berbeda kodrat. Ayah berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya melalui pemanfaatan karunia Allah SWT dimuka bumi, dan selanjutnya dinafkahkan pada anak-istrinya. Sedangkan ibu berkewajiban menjaga, memelihara, dan mengelola keluarga dirumah suaminya, terlebih lagi mendidik dan merawat anak.
Anak merupakan amanat Allah SWT, bagi kedua orang tuanya. Ia mempunyai jiwa yang suci dan cemerlang, apabila ia sejak kecil dibiasakan baik, dididik, dan dilatih dengan kontinu, maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik pula. Sebaliknya jika anak tidak dilatih ataupun di didik dengan baik maka nantinya akan terbiasa berbuat buruk dan menjadikan ia celaka dan rusak.
Sebagai pendidikan yang pertama dan utama, pendidikan keluarga dapat mencetak anak agar mempunyai kepribadian yang kemudian dapat dikembangkan dalam lembaga-lembaga berikutnya. Sehingga wewenang lembaga-lembaga tersebut tidak diperkenankan mengubah apa yang dimilikinya, tetapi cukup dengan mengkombinasikan antara pendidikan yang diperoleh dari keluarga dengan pendidikan lembaga tersebut, sehingga masjid, pondok, pesantren, dan sekolah merupakan tempat peralihan dari pendidikan keluarga.  
Adapun dasar-dasar pendidikan yang diberikan kepada anak didik dari orang tuanya adalah:
a.             dasar pendidikan budi pekerti; memberi norma pandangan hidup tertentu walaupun masih dalam bentuk yang sederhana kepada anak.
b.             dasar penddikan sosial; melatih anak dalam tata cara bergaul yang baik terhadap lingkungan sekitar.
c.             dasar pendidikan intelek; anak diajarkan kaidah pokok dalam percakapan, bertutur bahasa yang baik.
d.            dasar pembentukan kebiasaan; pembinaan kepribadian yang baik dan wajar, yaitu membiasakan anak untuk hidup teratur, bersih, tertib dan disiplin.
e.             dasar pendidikan agama; melatih dan membiasakan ibadah kepada Allah SWT, sembari meningkatkan aspek keimanan dan ketakwaan anaknya kepada-Nya.
Dengan demikian, orang tua di tuntut untuk menjadi pendidik yang memberikan pengetahuan pada anak-anaknya, serta memberikan sikap dan keterampilan yang memadai, memimpin keluarga, dan mengatur kehidupannya, memberikan contoh sebagai keluarga yang ideal, dan bertanggung jawab dalam kehidupan keluarga, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.[4]
2.             Fungsi Keluarga Dalam Mendidik Anak
a)             Fungsi Proteksi (melindungi), dalam hal ini anak dalam keluarga selalu mendapat perlindungan, perawatan, serta selalu dijaga dari gangguan keamanan yang mengancam keselamatan jiwa dan raganya.
b)             Fungsi Rekreasi, yaitu keluarga sebagai pemberi rasa damai terhadap anak, rasa tentram, gembira bersama, dengan anggota keluarga lainnya, sehinngga kehidupan keluarga menjadi sarana hiburan bagi anak.
c)             Fungsi Inisiasi (perkenalan) dalam hal ini anak diperkenalkan dengan sejumlah nama-nama benda, binatang, dan orang yang ada disekitarnya, seperti anggota family, para tetangga, dan anggota masyarakat lainnya.
d)            Fungsi Sosialisai, dalam hal ini anak diwarisi nilai-nila, norma kebiasaan dan adat istiadat yang dimiliki keluarga dan masyarakat.
e)             Fungsi Edukasi dalam hal ini anak diberi pengalaman belajar untuk bisa berkembang seluruh daya dan potensinya sehingga nantinya akan menjadi sosok manusia yang berkepribadian utuh. [5]
3.             Peran Keluarga Dalam Mengasuh Anak
Beberapa peran keluarga dalam pengasuhan anak adalah sebagai berikut:
1)             Terjalinnya hubungan yang harmonis dalam keluarga melalui penerapan pola asuh islami sejak dini, yakni;
a)             pengasuhan dan pemeliharaan anak dimula sejak pra konsepsi pernikahan.
b)            pengasuhan dan perawatan anak saat dalam kandungan.
c)             memberikan pendidikan yang terbaik pada anak, terutaa pendidikan agama.
2)             Kesabaran dan ketulusan hati, sikap sabar dan ketulusan hati orang tua dapat mengantarkan kesuksesan anak. Begitu pula memupuk kesabaran anak sangat diperlukan sebagai upaya meningkatkan pengendalian diri. Kesabaran menjadi hal yang penting dalam hidup manusia, sebab bila kesabaran tertanam dalam diri seseorang dengan baik maka seseorang akan mampu mengendalikan diri dan berbuat yang terbaik untuk kehidupannya.
3)             Orang tua wajib mengusahakan kebahagiaan bagi anak dan menerima keadaan anak apa adanya, mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT, serta mengembangkan potensi yang dimiliki anak.
4)             Mendisiplinkan anak dengan kasih sayang serta bersikap adil.
5)             Komunikatif dengan anak. membicarakan hal yang ingin diketahui anak, dengan menjawab pertanyaan anak secara baik.
6)             Memahami anak dengan segala aktifitasnya, termasuk pergaulannya.[6]


4.             Metode Pendidikan Dalam Keluarga
Untuk menyampaikan pendidikan dalam keluarga biasanya orang tua menggunakan beberapa metode antara lain:
a)             Metode Directive Learning, metode ini memberikan peluang kepada orang tua untuk mengajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan kepada anak, baik melalui pemberian informasi, ceramah, penjelasan, dll. Orang tua dapat memberikan informasi kepada anak dari buku, surat kabar, majalah, internet, dll.
b)             Metode Pemberian Contoh, dengan pemberian contoh akan terjadi proses imitasi atau peniruan sifat dan tingkah laku orang dewasa. proses imitasi ini dapat terjadi secara sadar dan tidak sadar. proses imitasi disini mungkin saja bisa mengakibatkan hal-hal yang negatif seperti apa yang dilakukan orang tua. Akan tetapi metode memberi contoh yang dimaksud disini, memberi contoh dengan baik kepada anak, sehingga anak meniru tindakan baik orang tua tersebut.
c)             Metode Penberian Hadiah dan Hukuman, tingkah laku anak yang baik sesuai dengan harapan orang tua biasanya mendapat ganjaran berupa material seperti uang, makanan, mainan, buku, dll. Dan Non-material seperti pujian, ciuman, perlakuan khusus, dll. Hal ini dimaksudkan agar anak termotifasi untuk meningkatkan apa yang telah dicapai dan diraih. Adapun kelemahan dari metode ini adalah adanya ketergantungan anak kepada orang tua apabila ganjaran tidak sesuai dengan prestasi yang diraihnya. Adapun metode pemberian hukuman manakala dilakukan ketika tingkah laku anak kurang baik, tercela, dan sesuatu yang  tidak bisa diterima oleh orang tua. metode ini bisa dilakukan dengan cara dipukul, dan ada yang bersifat sosial, seperti tidak boleh keluar rumah, tidak boleh menemui teman, dll. hal ini dimaksudkan agar anak menjadi sadar bahwa apa yang dilakukan adalah salah, tidak pantas, memalukan, dan merugikan orang lain. akan tetapi kelemahan hukuman ini adalah apabila diberikan diluar batas kemampuan anak, sehingga anak trauma, setres,dan sebagainya.[7]

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Lingkungan pertama dalam pendidikan islam adalah lingkungan keluarga ajaran islam menekankan agar setiap manusia dapat memelihara keluarganya dari bahaya api siksa neraka, juga termasuk menjaga anak dan harta agar tidak menjadi fitnah yaitu dengan cara mendidik anak dengan sebaik-baiknya. pendidikan anak mutlak dilakukakan oleh orang tuanya untuk menciptakan pribadi anak yang maksimal.
Sebagai pendidik anak-anaknya, ayah dan ibu mempunyai kewajiban dan memiliki bentuk yang yang berbeda karena keduanya berbeda kodrat. Ayah berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya melalui pemanfaatan karunia Allah SWT dimuka bumi, dan selanjutnya dinafkahkan pada anak-istrinya. Sedangkan ibu berkewajiban menjaga, memelihara, dan mengelola keluarga dirumah suaminya, terlebih lagi mendidik dan merawat anak.
B. SARAN
Dalam Penulisan dan pembutan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu kami (penulis) butuh saran dan kritik yang konstruktif agar penulis dapat lebih baik dalam penyusunan makalah selanjutnya


DAFTAR PUSTAKA

Padil dan Triyo Suprayitno, Sosiologi Pendidikan. Malang: UIN-Maliki Press. 2010.
Rohman, Arif. Memahami Pendidikan Dan Ilmu Pendidikan. Surabaya: Laksbang Mediatama. 2009.
Hidayah, Rifa. Psikologi Pengasuhan Anak.  Malang: UIN Malang Press. 2009.
Basri, Hasan dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Mujib, Abdul. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2008.


[1] Hasan Basri dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2010) Hlm. 113
[2] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2008) Hlm. 226
[3] ibid.hlm. 239
[4] ibid. hlm 228
[5] Arif Rohman, Memahami Pendidikan Dan Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Laksbang Mediatama. 2009) Hlm. 200
[6] Rifa Hidayah, Psikologi Pengasuhan Anak (Malang: UIN Malang Press. 2009 ) hlm. 21
[7] Padil dan Triyo Suprayitno, Sosiologi Pendidikan (Malang: UIN-Maliki Press. 2010) Hlm. 128

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel