-->

Tasawuf falsafi makalah lengkap




bAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Berbicara tentang Tasawuf, maka yang ada adalah pembahasan yang berkaitan dengan ketuhanan. Namun sebelum melanjutkan pembahasan perlu kita ketahui bahwa Tasawuf itu sendiri memiliki beberapa aliran, seperti tasawuf Akhlaqi, tasawuf Sunni dan tasawuf Falsafi. Ada pula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf 'Amali, tasawuf Falsafi dan tasawuf ‘Ilmi.
Berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya. Berangkat dari tasawuf falsafi, maka kita tidak akan lepas dari ide dasarnya yaitu Pantheisme, dan Pantheisme itu sendiri berasal dari kata yunani, yaitu “pan” yang berarti semua dan “theos” yang berarti Tuhan. Jadi pantheisme adalah  paham yang menganggap Tuhan adalah immanen “ada di dalam” makhluk-makhluk. Dengan kata lain Tuhan dan alam adalah sama.
Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalah Allah. Mereka tidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy. Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya, setidaknya terdapat beberapa tema yang telah masyhur yaitu ; hulul, wadah al-wujud dan ijtihad.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka kami rumuskan makalah ini berbatas pada :
1.      Apa pengertian dari tasawwuf falsafi ?
2.      Bagaimana konsep tasawwuf falsafiitu ?
3.      Siapakah tokoh – tokoh tasawwuf falsafi dan bagaimanapemikiranya ?
           
C.    Tujuan
1.    Untuk mengetahui apa pengertian tasawwuf falsafi
2. Untuk mengetahui bagaimanakah konsep tasawwuf itu
3. Untuk mengetahui siapa sajakah tokoh – tokoh tasawwuf falsafi dan bagaimanakah pemikiranya.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
1. Tasawuf
Kata tasawwuf Secara etimologi berasal dari bahasa arab“tassawafa-yatasawwafu-tasawwufan” yang artinya menjadi atau berpindah. secara terminology tasawwuf adalah suatu ilmu yang dengannya diketahui hal ikhwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkan diri yang buruk dan mengisinya dengan sifat – sifat yang terpuji.[1]
Tasawwuf juga bisa diartikan membersihkan hati dari apa yang mengganggu makhluk, berjuang meninggalkan pengaruh budi yang asal kita memadamkan sifat – sifat yang merupakan kelemahan kita, menjauhkan diri dari seruan hawa nafsu, mendekati sifat – sifat kerohanian[2]
2. Filsafat
Kata filsafatbarasal dari bahasa yunani yaitu dari kata philo yang berarti cinta, dan kata sophos yang berarti ilmu atau hikmah.[3]Secara istilah menurut hasbullah bakri filsafat adalah ilmu yang meneliti secara mendalam tentang ketuhanan, manusia dan alam semesta untuk menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana alam dapat dicapai sejauh pikiran manusia dan bagaimana prilaku manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.[4]
Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan secara sederhana tasawwuf falsafi adalah kajian dan jalan esoteric dalam islam untuk mengembangkan kesucian batin yang kaya dengan pandangan pandangan filosofis.[5]


Konsep Tasawwuf Falsafi
Tasawwuf falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawwuf yang mengenal tuhan(ma’rifat) dengan pendekatan rasio(filsafat) hingga menuju ketempat yang lebih tinggi bukan hanya mengenal tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud(kesatuan wujud).
Di dalam tasawuf filsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. Tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis, sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoretis sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendekatan-pendekatan filosof yang sulit di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam.
Menurut at-Taftazani, tasawuf falsafi mulai muncul dengan jelas dalam khazanah islam sejak abad ke-6 H, meskipun para tokohnya baru dikenal se-abad kemudian. Sejak itu, tasawuf ini terus hidup dan berkembang, terutama di kalangan para sufi yang juga filosof sampai menjelang akhir-akhir ini.[6]
Ciri umunm Tasawuf Falsafi adalah ajaran samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh siapa saja yang memahami ajaran tasawuf jenis ini.Tasawuf falsafi tidak dapat dipandang sebagai filsafat karena ajarannya dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq) tetapi tidak dapat pula dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajarannya sering di ungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.
Menurut Ibnu Khaldun, ada empat objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosof, antara lain sebagai berikut :
·         Pertama, latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta instrospeksi diri yang  timbul darinya.
·         Kedua, iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam goib, seperti sifat-sifat rabbani, arsy, malaikat, wahyu, kenabian, roh.
·         Ketiga, peristiwa dalam yang berpengaru terhadap berbagai bentuk keramatan atau keluarbiasaan.
·         Keempat, menciptakan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa menginkarinya dan menyetujuinya.[7]
 
B.     Tokoh – Tokoh Tasawwuf Falsafi dan Pemikiranya.
Dalam beberapa segi, para sufi filosof melebihi sufi sunni. Hal ini desebabkan karena mereka adalah para filosof yang baik tentang wujud, sebagaimana yang terlihat dalam karya – karya atau puisi mereka. Selain itu kelihaian mereka menggunakan simbol – simbol , sehingga ajaranya tidak begitu saja dapat dipahami orang lain di luar mereka.
Diantara tokoh – tokoh tasawuf filsafi adalah :
1.      Ibnu ‘Arabi
a)      Riwayat hidup Ibnu al-Arabi
Ibnu al-Arabi mempunyai nama lengkap Muhyiddin Ibnu Alarabi ini lahir di Murcia, Spanyol tepatnya pada tahun 1165 M. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintah pada masa kepemipinan Muhammad ibn Sa’id Mardanish. Dia memiliki keluarga yang terhormat, karena pamannya (dari pihak ibu) adalah penguasa Tlemcem, Algeria. Ketika dinasti Almohad (Al-Muwahidin) menyerbu Murcia pada tahun 567 H/ 1172 M, keluarganya pindah ke Seville, di sana ayahnya kembali bekerja sebagai pegawai pemerintah dan Ibnu Arabi sendiri memulai karirnya sebagai sekretaris gubernur, serta disana beliau juga melanjutkan studinya. Setelah beberapa lama, untuk pertama kalinya beliau meniggalkan Spanyol dan pergi menuju ke Tunis, pada tahun 590 H/1193 M. Disanalah beliau mulai mendalami tentang sufi hingga pada ahirnya seorang arif mengajarkan kepada Beliau agar pergi ke Timur untuk melakukan ibadah haji. Pada tahun 599 H/ 1202 M Ibnu Arabi pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, dan dari sanalah beliau mulai melakukan perjalanan ke pusat wilayah islam, seperti Iraq, Mesir, Syria dan Turki. Hingga akhirnya beliau tiba di Damaskus dan menetap di sana bersama beberapa muridnya, dan Ibnu Arabi sering memanfaatkan waktunya untuk belajar, menulis dan mengajar. Sehingga beliau meniggal, pada tahun 1240 M.[8]
Selain terkenal sebagai seorang ulama sufi yang masyhur, beliau juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif, jumlah buku yang telah dikarangnya menurut perhitungan sejarahwan mencapai lebih dari 200 buku, di antaranya ada yang berupa 10 halaman, tetapi ada pula yng berupa ensiklopedia tentang sufisme seperti Futuhah al-Makkah.


b)      Konsep sufi menurut Ibn al-Arabi
Ibnu Arabi merupakan salah satu dari tokoh-tokoh tasawuf falsafi yang terkenal, beliau mempunyai pandangan atau konsep tersendiri mengenai sufi, beliau menyatakan sebuah paham yang berbunyi bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud, yang mana pada akhirnya paham inilah yang akan menjadi sentral ajaran dari Ibnu Arabi, yang kemudian akan sering dikenal dengan istilah Wahdatul wujud.
Wahdat al-wujud adalah istilah yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud . Wahdat artinya sendiri, tunggal, dan kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada.[9]
Dengan demikian wahdat al-wujud mempunyai arti kesatuan wujud. Kata wahdat selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Sebagian ulama’ terdahulu mengartikan wahdat sebagai sesuatu yang zatnya tidak dapat dibagi lagi. Selain itu kata wahdat menurut ahli filasafat dan sufistik sebagai suatu kesatuan antara roh dengan materinya, substansi (hakikat) dan formal (bentuk), antara yang lahir dan yang bathin. Adapun pemahaman yang digunakan oleh para sufi selanjutnya mengenai wahdat al-wujud yaitu sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya memiliki satu kesatuan wujud.
Menurut Ibnu Arabi, wujud yang ada semua ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik juga, tidak ada perbedaan antara keduanya (makhluk dan khalik) jika dilihat dari segi hakikat. Paham ini merujuk kepada timbulnya paham yang menyatakan bahwa antar makhluk (manusia) dan al-haqq (Tuhan) sebenarnya satu kesatuan dari wujud tuhan. Dan yang sebenarnya ada adalah wujud Tuhan itu, sedangkan wujud makhluk hanyalah bayangan dari khaliq. Landasan paham ini dibangun berdasarkan pemikiran bahwa Allah SWT sebagai yang diterangkan dalam al-hulul yang berarti yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa Tuhan dapat mengambil tempat pada diri manusia. Bahwasannya di dalam alam dan diri manusia terdapat sifat-sifat tuhan, dan dari sinilah timbul paham kesatuan. Paham wahdat al-wujud ini juga mengatakan bahwa yang ada di dalam alam ini pada dasarnya satu, yaitu satu keberadaan yang hakiki yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.[10]


2.      Al-jili
    a)      Riwayat hidup Al-jili
Nama lengkapnya ialah ’Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn ’Abd al-Karim ibn Khalifah ibn Ahmad ibn Mahmud Al-Jili. Ia mendapatkan gelar kehormatan ”syaikh” yang biasa dipakai di awal namanya. Selain itu, ia juga mendapat gelar ”Quthb al-Din” (kutub/poros agama), suatu gelar tertinggi dalam hirarki sufi. Namanya dinisbatkan dengan Al-Jili karena ia berasal dari Jilan. Akan tetapi, Goldziher mengatakan, penisbatan itu bukan pada Jilan, tetapi pada nama sebuah desa di distrik Bagdad ”jil”.
Ia lahir pada awal Muharam (767 H/1365-6 M) di kota Bagdad, menurut pengakuannya sendiri ia adalah keturunan Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani (470-561 H), yakni turunan dari cucu perempuan Syeikh tersebut. Sedangkan ‘Abd al-Qadir al-Jilani berdomisili di Bagdad sejak tahun 478 H sampai akhir hayatnya, tahun 561 H. Dan diduga keturunannya juga berdomisili di Bagdad, termasuk kedua orangtua al-Jilli. Namun setelah ada penyerbuan militerstik bangsa Mongol ke Bagdad yang dipimpin Timur Lenk, keluarga al-Jilli berimigran ke kota Yaman (kota Zabid). Di kota inilah al-Jilli mendapatkan pendidikan yang memadai sejak dini. Dalam catatannya, ia menyebutkan bahwa pada tahun 779 H ia pernah mengikuti pelajaran dari Syeikh Syaraf al-Din Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti ( 806 H), dan salah satu teman seangkatan adalah Syihab al-Din Ahmad al-Rabbad ( 821 H).
Pada akhir tahun 799 H ia berkunjung ke Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah haji, namun dalam kesempatan ini ia sempat pula melakukan tukar pikiran dengan orang disana. Hal ini menandakan bahwa kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan melebihi kecintaannya terhadap hal-hal lain. Empat tahun kemudian, yakni tahun 803 H Al-Jili berkunjung ke kota Kairo. Dan disana ia sempat belajar di Univeritas al-Azhar, dan bertemu banyak para teolog, filusuf, dan sufi. Di kota inilah ia menyelesaikan penulisan bukunya yang berjudul, Ghunyah Arbab al-Sama’ wa Kasyf al-Qina’ an Wujud al-Istima.[11]
    b)      Konsep sufi menurut Al-jili
 Al-Jili merupakan salah satu dari tokoh-tokoh tasawuf falsafi yang terkenal, beliau mempunyai pandangan atau konsep tersendiri mengenai sufi, beliau menyatakan paham yang disebut Hakikat Insan Kamil.
Insan kamil berasal dari bahasa arab, yaitu dari dua kata insan dan kamil. Secara harfiah, insan berarti manusia, dan kamil berarti yang sempurna. Dengan demikian, insan kamil berarti manusia yang sempurna. menurutnya insan kamil adalah nuskhah atau copian tuhan, seperti disebutkan dalam hadis yang Artinya : “Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang Maha Rahman.” Tuhan memiliki sifat-sifat, seprti hidup, pandai, mampu berkehendak, mendengar, dan sebagainya. Manusia (Adam) juga memiliki sifat-sifat seperti itu.
Insan kamil Artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofi ini pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili pengikutnya, gagasan ini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis. Dan secara etimologi kata ‘Insan Kamil’ berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kalimat; al-insan dan al-kamil. Kata insan, dipandang berasal dari turunan beberapa kata. Misalnya saja uns, yang artinya cinta. Dan ada yang memandang berasal dari turunan kata nas, yang artinya pelupa, karena manusia sendiri secara historis berasal dari suatu lupa dan akan berakhir dengan lupa.Ada juga yang berpendapat bahwa itu berasal dari ‘ain san, yang artinya ‘seperti mata’. Namun dalam artian umum biasanya berarti manusia. Kata kedua, kamil, yang artinya adalah ‘sempurna’, yang menurut Murtadla Muthahhari kata ini sangat tepat sekali digunakan oleh al-Jilli, karena selain kata ini ada juga kata yang mirip artinya tetapi sangat berbeda maknanya, yaitu tamam (lengkap). Kekuatan kata kamil (sempurna), menurutnya, melebihi kata tamam (lengkap). Karena kamil menunjukan sesuatu yang mungkin saja lengkap, namun masih ada kelengkapan lain yang lebih tinggi satu atau beberapa tingkat, dan itu lah yang disebut kamil (sempurna).
Menurutnya, manusia dapat mencapai kesempurnaan insaniyahnya melalui latihan rohani dan pendakian mistik. Latihan ini diawali dengan kontemplasi tentang nama dan sifat-sifat Allah. Kemudian masuk kedalam suasana sifat-sifat Tuhan dimana ia mulai melangkah menjadi bagian dari sifat-sifat tersebut dan beroleh kekuasaan yang luar biasa. Berikutnya, ia melintasi daerah nama serta sifat Tuhan, masuk kedalam hakekat mutlak menjadi “manusia tuhan” atau insan kamil. Ketika itulah, matanya akan menjadi mata Tuhan, kata-katanya adalah kata-kata Tuhan, dan hidupnya menjadi hidup Tuhan. Kesemuanya ini didasarkan pada asumsi bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas, esensi murni yaitu Wujud Mutlak yang tak tergambarkan dan tergapai hakikatnya oleh segala pemikiran manusia yang fana.
Al- Jili dengan filsafat insan kamilnya merumuskan beberapa makam yang harus dilalui seorang sufi, yang menurut istilahnnya ia sebut al-martabah (jenjang atau tingkat). Tingkat – tingkat itu adalah[12] :
       1)      Islam : maqam ini didasarkan pada lima pokok ajaran islam yang dipahami dan dirasakan lebih dalam
       2)      Iman : maqam ini membenarkan dengan sepenuh keyakinan dan melaksanakan dasar – dasar islam.
      3)      Ash-shalah : maqam ini ialah sufi yang mencapai tingkat ibadah secara terus-menerus dengan perasaan khauf dam raja’
     4)      Ihsan :maqam ini ialah seorang sufi mencapai tingkat menyaksikan(autsar) artinya ia merasa seakan-akan berada dihadapanya.
     5)      Syahadah : maqam ini ialah bagaimana seorang sufi mencapai iradah yang bercirikan mahabbah kepada tuhan sehingga ibadahnya tidak ada kata pamrih.
     6)      Shiddiqiah : maqam ini ialah menggambarkan tingkat pencapian hakikat yang ma’rifat.
     7)      Qurban : maqam ini ialah memungkinkan seorang dapat menampakan diri dalam sifat dan nama uang mendekati sifat dan nama tuhan .
   3.      Ibnu Sab'in
          a)      Riwayat hidup Ibnu Sab’in
Nama lengkap Ibnu Sab'in adalah Abdul Haq bin Ibrahim Muhammad bin Nashr, seorang sufi juga seorang filosof dari Andalusia. Ia dilahirkan tahun 614 H.(1217-1218 M.) di kawasan Murcia. Dia mempelajari arab dan sastra, dia juga mempelajari ilmu agama dari mazhab maliki, ilmu-ilmu logika, dan filsafat. Ibnu sabi’in tumbuh dewasa dalam keluarga bangsawan, hidupnya dalam suasana penuh kemuliaan dan berkucukupan, tetapi beliau menjauhi kesenangan hidup dan kemewahan duniawi, lalu hidup sebagai asketis maupun sufi yang mempunyai banyak murid.
Ibnu sab’in meninggalkan karya yang menguraikan tasawufnya secara teoritis maupun praktis, sebagian karyanya hilang dan sebagian risalahnya telah disunting Abdurrahman badawi dengan judul rasa’il ibn sabi’in(1965 M) dan juga masih banyak karya lainya yang telah disunting oleh pengarang-pengarang lainya.
Dari situ dapat terlihat jelas dari karyanya beliau tampak berpengetahuan yang sangatlah luas dan beraneka. Dia mengenal berbagai aliran filsafat yunani dan filsafat-filsafat hermetitisme, filosof islam dari dunia islam bagian timur, seperti alfarobi dan ibn sina dan filosof bagian barat seperti ibn bajah, ibn tufail, dan ibn rusyd. Dan dia menguasai kangungan risalah-risalah ikhwanul ashafa, dan secara rinci mengetahui aliran teologi, khususnya aliran syi’ariyah.[13]

       b)      Konsep sufi menurut Ibnu Sab’in
Ibn sab’in menggagas sebuah paham dalam tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak, gagasan esensialnya sederhana yaitu wujud adalah yang satu itu sendiri.
Paham ioni lebih dikenal dengan sebutan paham kesatuan mutlak atau kesatuan murni. Menurut ibn sab’in dia menempatkan tuhan pada posisi pertama, sebab wujud allah menurutnya adalah asal segala wujud materi yang tampak justru dia rujukan pada wujud mutlak yang rohiniah. Dengan demikian paham ini menafsirkan wujud vercorak spiritual dan bukan material.
Dia juga mengambil rujukan dari al-Qur’an, yang diinterpretasikan secara filosofis ataupun khusus. Misalnya firman allah “dia itulah yang awal dan yang akhrir, yang dzahir dan yang batin”. (QS al-Hadid[57]: 3) dan firmanya, “tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali allah” (QS ali imran[3]:185). Namun ibn taimiyah menolak dan mengecam keras pendapat ibn sab’in tentang kesatuan mutlak, yang menjelaskan bahwa interpretasi ibn sab’in terhadap nash-nash agama tidaklah benar.[14]


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
tasawwuf falsafi adalah kajian dan jalan esoteric dalam islam untuk mengembangkan kesucian batin yang kaya dengan pandangan pandangan filosofis.
Menurut Ibnu Khaldun, ada empat objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosof, antara lain sebagai berikut.
·         Pertama, latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta instrupeksi diri yang  timbul darinya
·         Kedua, iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam goib, seperti sifat-sifat rabbani, arsy, malaikat, wahyu, kenabian, roh.
·         Ketiga, peristiwa dalam yang berpengaru terhadap berbagai bentuk keramatan atau keluarbiasaan.
·         Keempat, menciptakan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa menginkarinya dan menyetujuinya.
Tokoh – tokoh yang sangat terkenal dalam tasawuf falsafi adalah :
·         Ibn ‘arabi yang terkanal dengan ajaranya wahdatul wujud”
·         Al – Jili yang terkenal dengan ajaranya insan kamil”
·         Ibn sab’in yang terkenal dengan ajaranya “ kesatuan mutlak”

B.     Kritik dan Saran
Kami yakin dalam penulisan makalah ini banyak sekali kekurangannya. Untuk itu kami mohon kepada para pembaca agar dapat memberikan saran, kritikan, atau mungkin komentarnya demi kelancaran tugas ini dimasa yang akan datang.



DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. A. Mustofa.  2014.  Akhlak Tasawwuf,Bandung : Pustaka Setia.
Mukhlis sholihin, Moh. 2009. Ilmu Akhlak dan Tasawwuf, Pamekasan : STAIN
pamekasan pers.
Prof. Dr. Abd.Rahman assegaf. 2014. Filsafat pendidikan islam, Jakarta :
rajawali pers.
Mukhlis sholihin, Moh. 2014. Akhlak dan Tasawwuf, Surabaya : Pena Salsabila
Drs. H. Ahmad Bangun Nasution dan Dra.HJ. Rayani Hanum Siregar. 2015
Akhlak Tasawuf, Jakarta : Rajawali Pers.
ilyasin, M.10 pengertian menurut para ahli beserta macamnya diambil dari :
http://www.gurupendidikan.com/10-pengertian-menurut-para-ahli/(10 agustus
2010)




[1]syech Muhammad amin al-qurdi, dalam buku Drs. H. A. Mustofa,  Akhlak Tasawwuf ( Bandung : Pustaka Setia,2014),  Hlm. 201.
[2]al-junaid dalam bukuMoh. Mukhlis sholihin,Ilmu Akhlak dan Tasawwuf (Pamekasan : STAIN pamekasan pres, 2009) Hlm. 108.
[3]Prof. Dr. Abd. Rahman assegaf,Filsafat pendidikan islam (Jakarta : rajawali pers, 2014) Hlm. 125.
[4]M. ilyasin,10pengertianmenurut para ahli beserta macamnya” dalam http://www.gurupendidikan.com/. Diunduh tanggal 10 agustus 2010
[5]Moh..Mukhlis sholihin,Akhlak dan Tasawwuf( Surabaya : Pena Salsabila,2014), hlm. 45.

[6]Drs. H. Ahmad Bangun Nasution , Dra. HJ. Rayani Hanum Siregar,Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Rajawali Pers, 2015 ), Hlm. 33.
[7]Ibid., hlm. 34.
[8]Ibid., . Hlm. 35

[9]Ibid., . Hlm. 35
[10]Ibid., . Hlm. 36
[11]Ibid.,
[12]Ibid., . Hlm. 38-39.
[13]Ibid., .Hlm. 39.
[14]Ibid., . Hlm. 40-41.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel