-->

Sejarah Perkembangan Psikologi Agama Makalah Lengkap




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pada hakekatnya manusia yang dianggap sebagai insan yang supernatural mempunyai latar belakang sejarah yang cukup lama, hal tersebut dapat dilihat dari para ilmuan yang memiliki disiplin ilmu yang berbeda.[1] Begitupun agamawan yang banyak mengemukakan paradigmanya terhadap informasi kitab suci, hubungan vertical dan horizontal manusia yang saling berkaitan dengan Allah SWT.
Para psikolog agama melihat hubungan manusia dengan keyakinan sendiri yang membawa pada faktor kejiwaannya. System yang demikian merupakan suatu dimensi yang sangat relevan terhadap kajian yang mereka yakini secara empiris dengan menggunakan pendekatan psikologi.
Menurut psikolog agama, ada batas-batas tertentu yang harus di ikuti dalam problematika agama dilihat sebagai fenomena yang secara empiris dapat dipelajari dan diteliti kebenaranya. Tetapi ada atonom tertentu yang tidak sama sekali untuk dikaji secara empirisnya.
Ada dua arus besar yang terjadi ketika wacana psikologi agama digelindingkan. Arus besar tersebut menjadi pendorong utama lahirnya psikologi agama yang islami.[2] Arus pertama adalah kebangkitan islam. Arus kedua adalah kritisisme dalam dunia ilmu pengetahuan modern. Kedua arus besar tesebut adalah hal yang menjadi latar belakang perkembangan psikologi agama. Untuk itu penulis melihat upaya yang dihasilkan dalam makalah ini lebih jelas lagi untuk dikaji.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Psikologi Agama?
2.      Bagaimana Sejarah Perkembangan Psikologi Agama?
C.      Tujuan Pembahasan
             1.      Untuk mengetahui pengertian Psikologi Agama.
             2.      Untuk mengetahui Sejarah Perkembangan Psikologi Agama.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Definisi Psikologi Agama
Psikologi agama adalah merupakan gabungan dari dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda atau pemahaman yang tidak sama, namun dari keduanya saling menguatkan untuk ilmu yang berkembang secara pesat.
          1.      Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa yunani yaitu psyce yang artinya jiwa, dan logos yang artinya ilmu. Jadi secara etimologi psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa atau psikis, baik mengenai dari segi gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya dari ilmu psikis tersebut.
Psikologi Menurut Jalaluddin Psikologi adalah ilmu yang mempalajari gejala jiwa manusia yanng normal, dewasa, dan beradab dengan etika yang sudah ada.[3] Seperti masih banyak lagi definisi yang dikemukakan para ahli tentang psikologi. Tetapi dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas secara umum psikologi mencoba melihat, meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku dari  manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang berada dibelakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya.
Memang manusia mungkin saja memanipulasi apa yang dialaminya secara kejiwaan, hingga dalam sikap dan tingkah laku terlihat berbeda, bahkan mungkin bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Mereka yang sebenarnya sedih, dapat berpura-pura tertawa. Ataupun karena perasaan yang sangat gembira, dapat membuat sesorang menangis. Namun secara umum, sikap dan perilaku yang terlihat adalah gambaran dari gejala jiwa seseorang. Sikap dan perilaku baik yang tampak dalam perbuatan maupun mimik (air muka) umumnya tak jauh berbeda dari gejolak batinnya, baik cipta, rasa dan karsanya.
           2.      Pengertian Agama
Agama merupakan hal yang menyangkut juga masalah disertai hubungan dengan batin manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit diukur secara tepat dan rinci. Banyak para ahli yang berpendapat tentang arti agama, dengan fakta yang ada menunjukkan bahwa agama berpusat pada Tuhan atau Dewa- Dewa sebagai ukuran yang menentukan yang tak boleh diabaikan ( keyakinan tentang dunia lain ). Ia mendefinisikan agama adalah sikap atau cara penyesuaian diri terhadap dunia yang mencangkup acuan yang menunjukkan lingkungan lebih luas dari pada dunia fisik yang terikat ruang dan waktu the spatio-temporal physical world ( dunia spiritual ).
 Menurut Harun Nassution, arti agama berdasarkan asal kata, yaitu al-din,religi (relegereligare) dan agama. Dalam bahasa semit al-Din berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab, kata Al-din (Agama) mengandung arti mengusai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Dalam bahasa latin kata religi (relegere) berarti mengumpulkan dan membaca ;yang kemudian menjadi kata religare yang berarti mengikat. Adapun kata Agama (terdiri dari a=tidak dan gam=pergi) mengandung arti tidak pergi, tetap ditempat atau diwarisi turun menurun.[4]
Jadi tolak ukur dari pengertian agama berdasarkan asal katanya tersebut menurut Harun Nasution, intisarinya adalah ikatan. Karena itu agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan dimaksudkan berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan pancaindera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.
Selanjutnya, Harun Nasution merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama, yaitu: [5]
a. Kekuatan gaib, yang diyakini berada di atas kekuatan manusia. Didorong oleh kelemahan dan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut. sebagai realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan gaib itu.
b. Keyakinan terhadap kekuatan gaib sebagai penentu nasib baik dan nasib buruk manusia. Dengan demikian manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiaannya terpelihara.
c. Respon yang bersifat emosionil dari manusia. Respon ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan karemna didorong oleh perasaan takut (agama primitif) atau pemujaan yang didorong oleh perasaan cinta (monoteisme), serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
d. Paham akan adanya yang kudus (sacred) dan suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini ada kalanya berupa kekuatan gaib, kitab yang berisi ajaran agama, maupun tempat-tempat tertentu.
           3.      Pengertian Psikologi Agama
Berdasarkan pengertian dari Psikologi dan Agama yang telah dijelaskan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, psikologi agama merupakan cabang dari psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan manusia masing-masing.[6]
Berikut ini akan dikemukakan pula definisi psikologi agama menurut beberapa ahli. Menurut Zakiah Drajat psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu.[7] Sementara Thouless  menyatakan bahwa persoalan pokok dalam psikologi agama adalah kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama, atau kajian terhadap tingkah laku agama dan kesadaran agama.
Dengan demikian, psikologi agama tidak masuk dalam wilayah ajaran dan keyakinan suatu agama atau ideologi tertentu. Hal ini mengandung makna, bahwa psikologi agama tidak berwenang untuk mendukung, membenarkan, menolak atau menyalahkan ajaran agama ataupun ideologtertentu.
B.       Sejarah Perkembangan Psikologi Agama
Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sulit. Baik dalam kitab suci, maupun sejarah tentang agama-agama tidak terungkap secara jelas mengenai hal itu. Namun demikian, walaupun tidak secara lengkap, ternyata permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama banyak dijumpai baik melalui informasi kitab suci agama maupun sejarah agama.
Perhatian secara psikologis terhadap agama setua kehidupan umat manusia, sejak kesadaran manusia tumbuh orang telah memikirkan tentang arti hidup. Perilaku manusia yang berkaitan dengan dunia ketuhanan ternyata telah banyak menyita perhatian para ahli dan pada abad ke-19 perhatian tersebut dilakukan secara ilmiah lewat Psikologi Agama.[8]
Berkenaan dengan hal ini, lebih lanjut, Zakiah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan agama yang dianut.[9] Oleh karena itu, menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup kajian psikologi agama meliputi:
a.       Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tentram sehabis shalat; rasa lepas dari ketegangan bathin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci; perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzkir dan ingat kepada allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan.
b.      Bagaimana pengalaman dan perasaan seseorang secara individual terhadap tuhannya, misalnya rasa tentram dan kelegaan bathin.
c.       Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
d.      Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan syurga dan neraka, serta dosa dan pahala yang turut member pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
e.       Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci untuk kelegaan bathinnya.
Semuanya itu menurut Zakiah Daradjat tercakup dalam kesadaran agama (religious counsciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Yang dimaksud dengan kesadaran agama adalah bagian /segi agama yang hadir (terasa) dalam pikiran yang merupakan aspek menthal dari aktivitas agama. Sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah). Karenanya, psikologi agama tidak mencampuri segala bentuk permasalahan yang menyangkut pokok keyakinan suatu agama, termasuk tentang benar salahnya atau masuk akal dan tidaknya keyakinan agama.
Dengan demikian psikologi agama menurut Zakiah Daradjat adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya sekitar tahun 1970an. Persoalan pokok dalam psikologi agama adalah kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama, (kata Robert H. Thouless).[10]
Suryabrata mengklasifikasikan aliran-aliran tersebut atas dasar jalan yang ditempuh atau metode yang digunakan dalam menyusun suatu teori psikologi, maka menurutnya psikolog dapat dkategorikan kedalam dua macam, yaitu:
1.         Psikolog spekulatif, yaitu psikolog yang menyusun teori-teorinya atas dasar dasar pemikiran spekulatif, seperti plato, kant, ahli-ahli dari aliran neo-Kantianisme, bahnsen, Queyrat , malapert, dan lain-lain, mereka terutama adalah para ahli filsafat
2.         Psikolog empiris, atau psikolog eksperimental, yaitu psikolog yang menyusun teori-teorinya atas dasar data-data dari hasil penyelidikan atau eksperimen, seperti Watson, jung, adler, eysenk, dan lain-lain.
Abdul mudjib dan yusuf mudzakir memberikan istilah baru dan lebih islami bagi para filsuf dan sufi yang memberikan konsep-konsep kejiwaan dengan metode pemikiran spekulatif, yakni psikolog-falsafi, yaitu mereka yang dala meyusun konsep-konsep psikologi sangat mengutamakan kekuatan akal.[11]
Seperti dimaklumi, bahwa psikologi agama tergolong cabang psikologi yang berusia muda. Berdasarkan informasi dari berbagai literatur, dapat disimpulkan kelahiran pskologi agama sebagai disiplain ilmu yang berdiri sendiri memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Selain itu, pada tahap-tahap awalnya psikologi agama didukung oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
Sebagai disiplin ilmu boleh dikatakan, psikologi agama didukung oleh karya penulis barat, antara lain karya jonatan Edward, emile Durkheim, Edward B.taylor maupun Stanley hall yang memuat kajian mengenai agama suku-suku primitive dan mengenai konfersi agama. Kajian sosiologi dan antropologi budaya ini menampilkan sisi kehidupan masyarakat suku primitive dan sikap hidup mereka terhadap sesuatu yang dianggap sebagai yang diadikodrati (super natural). Selanjutnya tulisan-tulisan yang memuat pembahasan secara khusus tentang psikologi agama baru terbit.[12] Khusus di dunia timur, di wilayah-wilayah kekuasaan islam, tlisan-tulisan yang memuat kajian tentang hal serupa belum sempat dimasukkan. Padahal, tulisan Muhammad ishaq ibn yasar di abad ke-7 masehi berjudul al siyar wa al maghazi memuat berbagai fragemen dari biografi nabi Muhammad saw. Ataupun risalah hay ibn yaqzan fi asrar al hikmat al- masyriqiyyat yang ditulis oleh abu bakar Muhammad ibn abd al-malin ibn tufail juga memuat masalah yang erat kaiatannya dengan materi psikologi agama.
        1.      Perkembangan Psikologi Agama di Indonesia
Di Indonesia, kajian tentang psikologi agama mulai muncul dan diminati orang bahkan telah dimasukkan dalam materi pendidikan di fakultas-fakultas di lingkungan perguruan tinggi agama. Universitas Gajah Mada juga andil dalam peran tersebut. Hal ini ditandai dengan terbitnya jurnal Pemikiran Psikologi Islami KALAM. Selain itu, Universitas Muhamammadiyah Surakarta tahun 1994 mengadakan Symposium Nasional Psikologi Islam.
Zakiah Daradjat tampaknya sangat tertarik mempelajari Psikologi Agama dilihat dari karya-karya ilmiyah yang sudah beliau sumbangkan. Diantara karyanya adalah:
1. Ilmu Jiwa Agama, 2. Kesehatan Mental, 3. Remaja, Harapan dan Tantatangan 4. Perawatan Jiwa untuk Anak-anak, 5. Pendidikan Agama dan Kesehatan Mental. 6. Shalat Menjadikan hidup Bermakna (1988), 7. Kebahagiaan, 8. Haji Ibadah yang Unit, 9. Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, 10. Do’a Menunjang Semangat Hidup, 11. Zakat Pembersih Harta dan Jiwa.
Adapun Ilmuwan lain yang telah andil dalam perkembangan Ilmu Psikologi Agama di Indonesia adalah Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashori Suroso dengan karyanya Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi (1994). Disusul dengan terbitnya buku Integrasi Psikologi dengan Islam, menuju Psikologi Islami.
Selain itu, Abdul Aziz Ayadi dan Ramayulius pun ikut meramaikan perkembangan Psikologi Agama dengan menerbitkan buku Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila dan Psikologi Agama.Sukanto Mulyomartono dengan karyanya Nafsiologi, Suatu pendekatan Alternatif atas Psikologi, Zuardin Azzaino dengan karyanya Asas-asas Psikologi Habiyah, Sistem Mekanisme Hubungan antara Ruh dan Jasad. Yahya Jaya dengan karyanya Peranan Taubat dan Maaf dalam Kesehatan mental dan Spiritualisasi Islam dalam Menumbuhkembangkan Kepribadian dan kesehatan Mental. Ahmad Syafe’i Mufid dengan karya yang berjudul Zikir sebagai Pembina Kesehatan Mental. Z. Kasijan yang berjudul Larangan Mendekati Zina dalam al-Qur’an Tinjauan Psikologis. Rahmat Djatmika dengan karya Shalat sebagai Pengendali Mental. Abdul Mujib yang berjudul Fitrah di Kepribadian Islam. Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakir dengan judul Nuansa-nuansa Psikologis Islambegitu juga dengan karya Baharuddin yang berjudul Paradigman Psikologi Islam.

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Seperti yang dimaksud Psikologi Agama merupakan gabungan dari dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi Agama Secara umum psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang berada dibelakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya.
Agama adalah ikatan yang harus dipegang dan dipenuhi manusia. Ikatan adalah kekuatan yang lebih tinggi dari manusia yang tidak dapat ditangkap pancaindra, namun mampu mewarnai kehidupan. Psikologi agama merupakan cabang dari psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usiamasing-masing.Sejarah Psikologi Agama Perhatian secara psikologis terhadap agama setua kehidupan umat manusia, sejak kesadaran manusia tumbuh orang telah memikirkan tentang arti hidup.
Di Indonesia, perkembangan psikologi agama dipelopori oleh tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang profesi sebagai ilmuwan, agamawan, bidang-bidang kedokteran. Diantara karya-karya awal yang berkaitan dengan psikologi agama adalah buku Agama dan Kesehatan psikologis. Pesatnya perkembangan Psikologi Agama pada era dewasa ini ditunjang oleh kajiannya yang mencakup kehidupan pribadi dan kelompok maupun perkembangan usia manusia, juga mengarah menjadi ilmu Psikologi Terapan yang banyak manfaatnya.

DAFTAR PUSTAKA
Darajat. Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1970.
Jalaluddin, Psikologi Agama (edisi.revisi), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012.
Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Jalaludin, Psikologi Agama, (cet. 16), Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Nasution. Harun,  Filsafat Mistisisme dalam Islam, Yogyakarta: Bulan Bintang, 1974.
Thouless. Robert H, Pengantar Psikologi Agama, terj. Machnun Husein, Jakarta: Rajawali Pers,  1992.
Shaleh. Abdul Rahman, Psikologi: Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004.
Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Prespektif Islam, Malang: UIN Malang Press, 2008.
Malik B. Badri Dilima Psikologi Muslim, terjemahan Siti Zainab. Luxfiati, Jakarta: Pustaka Firdus, 1995.


[1] .Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hlm. 5
[2] Malik B. Badri Dilima Psikologi Muslim, terjemahan Siti Zainab. Luxfiati, Jakarta: Pustaka Firdus, 1995, hlm. 35
[3] Jalaluddin, Psikologi Agama (edisi.revisi), ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 12
[4] Jalaluddin, Psikologi Agama,,hlm. 16
[5] Harun Nasution,  Filsafat Mistisisme dalam Islam, Yogyakarta: Bulan Bintang, 1974, hlm 11
[6] Malik B. Badri Dilima Psikologi Muslim,,,, hlm. 27
[7] Baharuddin dan Mulyono, Psikologi Agama dalam Prespektif Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 51
[8] Jalaluddin,,,, hlm. 27
[9] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang,, 1970, hlm. 11
[10] H. Robert Thouless, Pengantar Psikologi Agama, terj. Machnun Husein, Rajawali, Jakarta, 1992. hlm. 13.
[11] Abdul Rahman Shaleh, Psikologi: Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004, hlm. 9-10
[12] H. Jalaludin, Psikologi Agama, (cet. 16), Jakarta: Rajawali Pers, 2012, hlm. 31-33

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel