-->

Manajemen kurikulum Makalah Lengkap


BAB I

PENDAHULUAN

     A.    Latar Belakang
Kurikulum dan pembelajaran, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak diimplemintasikan dalam bentuk pembelajaran karena fungsi kurikulum sebagai pedoman yang memberikan arah dan tujuan pendidikan. Demikian sebaliknya, tanpa kurikulum yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif. Karena pembelajaran merupakan suatu proses yang terjadi didalam interaksi belajar dan mengajar antara guru dan siswa.
Di Indonesia sendiri sudah terdapat beberapa kurikulum yang berlaku, mulai dari kurikulum 1994 yang mayoritasnya masih berbasis materi sampai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal KTSP. Bahkan yang terbaru saat ini adanya kurikulum 2013. Sebelum muncul KTSP, di indonesia di berlakukan Kurikulum  Berbasis Kompetensi (KBK) yang disosialisasikan sejak pertengahan tahun 2001 oleh Departemen Pendidikan Nasional (yang diterapkan resmi pada tahun 2004/2005). Namun KBK gagal meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kegagalan tersebut disempurnakan dengan munculnya KTSP yang dilaksanakan pada tahun 2006/2007 melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006. Hingga sampai saat ini banyak sekolah yang menerapkan KTSP.

    B.     Rumusan Masalah
1.      Apa rencana pelaksanaan pembelajaran dengan KTSP?
2.      Bagaimana melakasanakan pembelajaran dengan KTSP?
3.      Bagaimana evaluasi pembelajaran KTSP?
     C.     Tujuan Makalah
1.      Menjelaskan renacana pelaksanaan pembelajaran dengan KTSP.
2.      Menjelaskan pelaksanaan pembelajaran dengan KTSP.
3.      Menjelaskan evaluasi pembelajaran  KTSP?

BAB II

PEMBAHASAN


     A.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran KTSP
Perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru (baik yang menyusun RPP itu sendiri maupun yang bukan) di harapkan bisa menerapkan  pembelajaran secara terprogram. Karena itu, RPP harus mempunyai daya terap yang tinggi. Tanpa perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Pada sisi lain, melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan guru dalam menjalankan profesinya.
Sebagai rencana pembelajaran pada umumnya, rencana pembelajaran berbasisi kompetensi melalui pendekatan kontekstual di rancang oleh guru yang akan melaksanakan pembelajaran di kelas yang berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya sehubungan topik yang akan dipelajarinya. Secara teknis rencana pembelajaran minimal mencakup komponen-komponen berikut:
1.      Standart kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar.
2.      Tujuan pembelajaran.
3.      Materi pembelajaran.
4.      Pendektan dan metode pembelajaran.
5.      Langkah-langkah kegiatan pembelajaran.
6.      Alat dan sumber belajar.
7.      Evaluasi pembelajaran.
Berbeda dengan rencana pembelajaran yang dikembangkan oleh Paham objektivis yang menekankan rincian  dan kejelasan tujuan, rencana pembelajaran kontekstual –yang dikembangkan oleh paham konstruktif- menekankan pada tahap-tahap kegiatan (yang mencerminkan proses pembelajaran) siswa dan media atau sumber pembelajaran yang dipakai. Dengan demikian, rumus tujuan yang spesifik bukan menjadi prioritas dalam penyusunan rencana pembelajaran kontekstual karena yang akan dicapai lebih pada kemajuan proses belajarnya.

Lankah-langkah penyusunan RPP:
1.      Ambillah satu unit pembelajaran (dalam silabus) yang akan diterapkan dalam pembelajaran.
2.      Tulis standart kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam unit tersebut.
3.      Tentukan indikator untuk mencapai kompetensi dsar tersebut.
4.      Tentukan alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai indikator tersebut.
5.      Rumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajran tersebut.
6.      Tentukan materi pembelajaran yang akan diberikan/dikenakan kepada sisiwa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
7.      Pilihlah metode pembelajaran yang dapat mendukung sifat materi dan tujuan pembelajaran.
8.      Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada setiap satuan rumusan tujuan pembelajaran, yang bisa dikelompokan menjadi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
9.      Jika alokasi waktu mencapai satu kompetensi dasar lebih dari dua jam pelajaran, bagilah langkah-langkah pembelajaran menjadi lebih dari satu pertemuan. Pembagian setiap jam pertemuan bisa didasarkan pada satuan tujuan pembelajaran atau sifat/tipe/jenis materi pembelajaran.
10.  Sebutkan sumber/media belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran secara konkret dan untuk setiap bagian/unit pertemuan.
11.  Tentukan teknik penilaian, bentuk, dan contoh instrumen penilaian yang akan digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Jika instrumen penilaian berbentuk tugas, rumuskan tugas tersebut secara jelas dan bagaimana rambu-rambu penilaian. Jika instrumen penilaian berbentuk soal, cantumkan soal-soal tersebut dan tentukan rambu-rambu penilaiannya dan/atau kunci jawabannya. Penilaian berbentuk proses, susunlah rubriknya dan indikator masing-masingnya.[1]


     B.     Pelaksanaan Pembelajaran dengan  KTSP
Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkunag agar menunjang terjadinya perubahan prilaku bagi peserta didiknya. Pembelajaran dalam KTSP adalah pembelajaran dimana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh sisiwa , sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara terulis sejak perencanaan dimulai.
Secara khusus pembelajaran kurikulum tingkat satuan pendidikan ditujukan untuk:
1.      Memperkenalkan kehidupan bagi peserta didik sesuai dengan konsep yang direncanakan oleh UNESCO, yakni learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar melakukan), (belajar hidup dalam kebersamaan);
2.      Menumbuhkan kebersamman peserta didiok tentang pentinggnya belajar dalam kehidupan yang harus direncanakan dan dikelola dengan sistematis;
3.      Memberikan kemudahan belajar  kepada peserta didik agar mereka dapat belajar dengan tenang dan menyenangkan;
4.      Menumbuhkan proses pembelajaran yang kondusif bagi tumbuh kebangnya potensi pesesta didik melalui penanaman berbagai kompetensi dasar.
Pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut. Pertama pembelajaran harus lebih menekankan pada praktek, baik di laboratorium maupun di masyarakat dan dunia kerja (usuha). Kedua, pembelajaran harus dapat menjalin hubungan sekolah dengan masyarakat. Ketiga, perlu dikembangkan iklim pembelajaran yang demokratis dan terbuka melalui pembelajaran terpadu, partisipasi dan sejenisnya. Keempat, pembelajaran perlu lebih ditekankan pada masalah-masalah aktual yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan nyata yang ada di masyarakat. Kelima, perlu dikembangkan suatu model pembelajaran “moving class”.[2]



Prinsip-prinsip dalam pembelajaran:
1.      Prinsip perhatian dan motivasi
Perhatian dan motivasi merupakan dua aktivitas yang memiliki keterkaitan yang sangat erat. Motivasi adalah suatu perubahan energi didaalm pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektif (perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan).
2.      Prinsip transfer dan retensi
Berkenan dengan proses tranfer dan retensi terdapat beberapa prinsip yaitu;
a.       Tujuan belajar
b.      Bahan yang bermakna bagi pelajar
c.       Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi prinsip
d.      Latihan yang berbagi-bagi memungkinkan retensi yang lebih baik.
e.       Penelahan bahab-bahab faktual
f.       Proses belajar
g.      Proses saling mempengaruhi dalam belajar
h.      Pengetahuan tentang konsep
i.        Tranfer hasil belajar
j.        Tahap akhir proses belajar.
3.      Prinsip keaktifan
Keaktifan anak dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar yang harus di pahami, disadari dan dikembangkan oleh setiap guru didalam proses pembelajaran. Pandangan mendasar yang perlu menjadi kerangka pikir setiap guru adalah bahwa pada prinsipnya anak-anak adalah mahluk yang aktif. Individu merupanan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu.
4.      Prinsip keterlibatan langsung
Keterlibatan langsung siswa didalam proses pembelajaran memiliki intensitas keaktifan yang lebih tinggi. Ketertiban langsung siswa memberikan banyak sekali manfaat baik mamfaat yang langsung dirasakan pada saat terjadinya proses pembelajaran tersebut, maupun manfaat jangka panjang setelah proses pembelajartan terjadi.


5.      Prinsip pengulangan
Prinsip pengulangan ini juga didasari oleh teori psikologi asosiasi atau connecsionisme yang dipelopori oleh Thorndike dengan salah satu hukum belajar, yang mengemukakan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons. Dengan pengulangan, pengalaman-pengalaman belajar maka akan semakin memperkuat hubungan stimulus dan respons.
6.      Prinsip tantangan
Mengemukakan bahwa studi-studi menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pembelajarannya memuaskan, menantang serta tamah, dan mereka memiliki peran didalam pengambilan keputusan. Dalam kaitan dengan prinsip tantangan ini diharapkan guru secara cermat dapat memilih dan menentukan pendekatan dan metode pembelajaran yang dapat memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar.
7.      Prinsip balikan dan penguatan
Prinsip balikan dan penguatan pada dasarnya merupakan implementasi dari teori belajar. Menurut hukum belajar ini, siswa akan belajar lebih semangat apabila pengetahuan dan mendapatkan hasil yang baik. Memberikan penguatan dan balikan merupakan hal yang kedengerannya sederhana dan mudah, akan tetapi seringkali tidak terlalu mudah untuk dilakuan oleh setiap guru.
8.      Prinsip perbedaan individual
Setiap individu pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan individu ini merupakan kodrat manusia yang bersifat alami terhadap setiap layanan pendidikan untuk memperhatikan karakteristik anak ninik yang unuk dan bervariasi.[3]Selain prinsip diatas terdapat pula prinsip belajar kognitif, afektif dan psikomotorik.
Macam-macam pembelajaran sebagai berikut:[4]
a.       Belajar tuntas (Mastery Learning)
Belajar tuntas adalah suatu sistem belajar yang menginginkan sebagian besar peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran secara tuntas. Pembelajaran tuntas (Mastery Learning) dalam KTSP adalahpendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan siswa menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran.Pembelajaran tuntas yang dimaksudkan dimaksudkan dalam pelaksanaan KTSP adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip-prinsip ketuntasan secara individual. Pembelajaran tuntas yang dimaksudkan dalam pelaksanaan KTSP adalah pola pembelajaran yang mengguanakan prinsip ketuntasan secara individual. Belajar tuntas berasumsi bahawa didalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari.
b.      Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Pembelajaran tematik bisa dikatakan pembelajaran yang menggunakan konsep tema. Karakteristik pembelajaran tematik meliputi, berpusat pada peserta didik, memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik, pemisahan antara mata pelajaran tidak begitu nyata dan jelas, menyajikan suatu konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajan,bersifat fleksibel, dan hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
c.       Pembelajaran konstektual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa anak yang akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika anak ‘bekerja’ dan ‘mengalami’ sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekedar “mengetahuinya”. Pembelajaran konstektual adalah konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
    C.     Evaluasi Pembelajaran dengan KTSP
Evaluasi hasil belajar adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar peserta didik setelah ia mengalami proses belajar selama satu periode tertentu. Evaluasi juga dapat diartikan kegiatan terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan. Evaluasi hasil belajar bertujuan untuk mengetahui tercapai tidaknya kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Evaluasi hasil belajar dilakukan dengan penilaian kelas, dan penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi.[5]
Jenis-jenis evaluasi pembelajaran meliputi tiga jenis, yaitu. Evaluasi formatif, dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan dengan tujuan utamanya adalah untuk menetahui sejauh mana suatu prosespembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Evaluasi sumatif, evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu ynag didalamnya mencakup lebih dari satu pokok pembahasan  dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari satu unit ke unit berikutnya. Evaluasi diagnostik merupakan evaluasi yang digunakan untuk  mengetahui kelebihan dan kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat.[6]

Evaluasi berbasis kelas
1.      Pengertian Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian merupakan upaya sistematis yang dikembangkan oleh suatu institusi pendidikan yang ditujukan untuk menjamin tercapainya kualitas kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Penilaian berbasis kelas merupakan suatu proses pengumpulan, laporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjuatan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. Penilaian berbasis kelas mengidentifikasikan pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melaui pernyataan yang jelas tentang standart yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan.
Ruang Lingkup Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Tujuan ulangan harian untuk memperbaiki modul dan program pembelajaran serta sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nilai bagi para peserta didik. Ulangan umum adalah ulangan yang dilakukaan stiap akhir semester
Ujian akhir adalah ulangan yang dilakukan pada akhir program pendidikan.
2.      Manfaat penilaian kelas
Manfaat penilaian kelas antara lain sebagai berikut:
a.       Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelimahannya dalam proses pencapaian kompetensi sehingga termotivasi untuk meningkatkan dan memperbaiki proses dan hasil belajarnya.
b.      Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peseta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remedial.
c.       Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber beljar yang dilakukan.
d.      Untuk masukan bagi guru guna merancang kegiatan belajar sedemikian rupa sehingga para peserta didik dan mencapai kompetensi dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda dalam suasana yang kondusif menyenangkan.
e.       Untuk menberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektifitas pendidikan sehingga partisifasi orang tua dan komite sekolah dapat ditingkatkan.[7]
f.       Menjamin agar proses pembelajaran yang dilakukan siswa diarahakan untuk mencapai kompetensi sesuai dengan rambu-rambu yang terdapat dalam kurikulum.
g.      Menentukan berbagai kelemahan dan kelebihan baik yang dilakukan siswa maupun guru selama proses pembelajaran berlangsung
h.      Menentukan pencapaian kompetensi oleh siswa, apakah siswa telah mencapai seluruh kompetensi yang diharapkan atau belum; bagian kompetensi mana yang sudah bderhasil dikuasai sisiwa, dan bagian mana yang belum berhasil dikuasai.[8]



3.      Fungsi penilaian kelas
Penilaian kelas memiliki fungsi sebagi berikut:[9]
a.       Menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi.
b.      Mengevaluasi hasil beljar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya.
c.       Menemukan kesulitan belajar.
d.      Siswa mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakan.
e.       Membantu guru membuat pertimbangan administrasi dan akademis.
4.      Kriteria penilaian kelas
1.      Validitas, artinya penilaian berbasis kelas harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya, tepat, atau sahih.
2.      Reliabilitas, berkaitan dengan konsistensi hasil penilaian.
3.      Terfokus pada kompetensi, dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, penilaioan harus terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada penguasaan materi.
4.      Keseluruhan/komprehesif, penilaiaan harus menyeluruh dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi atau kemampuan peserta didik.
5.      Adil dan objektif, Penilaian harus dilakukan secara objektif.
6.      Mendidik, penilaian dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran bagi guru dan meningkatkan kualitas belajar bagi peserta didik.
7.      Terbuka, ktiteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehingga leputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan
8.      Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, berhadap, teratur, terus-menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa.
9.      Bermakna, penilaian hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindak lanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
5.      Bentuk-bentuk penilaian kelas
a)      Penilaian kinerja/ unjuk kerja atau perbuatan (performance test),  merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini yang dapat diamati seperti, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, deklamasi, mengoprasikan suatu alat. [10]
b)      Penilaian sikap, adalah penilaian terhadap perilaku dan peyakinan siswa terhadap suatu objek, fenomena, atau masalah. Teknik penilaian sikap meliputi observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi.[11]
c)      Penilaian tertulis (paper and pen test), penilaian secara tertulis, dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis merupakan tes yang soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didiknya dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban, tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan sebagainya.[12]
d)     Penilaian penugasan (proyek/ project), penilaian proyek merupakan kegitan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan  dalam waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perncanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.
e)      Penilaian hasil kerja (produck), merupakan penilaian kepada siswa dalam mengontrol proses dan memanfaatkan bahan untuk menghasilkan sesuatu, kerja praktik atu kualitas estetik dari sesuatu yang mereka produksi, seperti makanan, pakaian, hasil karya seni (menggambar, melukis, kerajinan), barang- barang yang terbuat dari plastik.
f)       Penilaian portofolio, portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa. Portofolio adalah  suatu koleksi pribadi hasil kerja seorang siswa (bersifat individu) yang menggambarkan taraf pencapaian, kegiatan belajar, kekuatan, dan pekerjaan terbaik siswa.  dikarenakan berkelanjutan, koleksi yang merupakan hasil kerja ini dinamis karena selalu tumbuh dan berkembang.[13]
g)      Penilaian diri, adalah suatu teknik penilaian, dimana subjek yang ingin dinilai minta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dm mata pelajaran tertentu.[14]


BAB III

PENUTUP

      A.    Kesimpulan
Perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Tanpa perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Pada sisi lain, melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan guru dalam menjalankan profesinya.
Pembelajaran dalam KTSP adalah pembelajaran dimana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh sisiwa , sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara terulis sejak perencanaan dimulai. Pembelajaran kurikulum tingkat satuan pendidikan ditujukan untuk: Memperkenalkan kehidupan bagi peserta didik sesuai dengan konsep yang direncanakan oleh UNESCO, yakni learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar melakukan), (belajar hidup dalam kebersamaan); Menumbuhkan kebersamman peserta didiok tentang pentinggnya belajar dalam kehidupan yang harus direncanakan dan dikelola dengan sistematis; Memberikan kemudahan belajar  kepada peserta didik agar mereka dapat belajar dengan tenang dan menyenangkan; Menumbuhkan proses pembelajaran yang kondusif bagi tumbuh kebangnya potensi pesesta didik melalui penanaman berbagai kompetensi dasar.
Evaluasi hasil belajar adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar peserta didik setelah ia mengalami proses belajar selama satu periode tertentu. Penilaian berbasis kelas merupakan suatu proses pengumpulan, laporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjuatan, bukti-bukti autentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik.

    B.     Saran
Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, baik dalam materi maupun dalam hal penulisan. Hal ini dikarenakan kurangnya referensi yang menjadi rujukan dalam pembuatan makalah, dan masih minimnya pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis meminta kritik dan saran yang membangun agar dapat menyajikan makalah yang lebih baik lagi.



DAFTAR RUJUKAN

Aunurrahman. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: AlfaBeta. 2009.
Kunandar. Guru Profesional Implemintasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses                 dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2011.
Muslich, Mansur. KTSP Pembelajaran Berbasisi Kompetensi  dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. 2007.
Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:Kencana. 2008.



[1] Mansur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasisi Kompetensi  dan Kontekstual (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 53.
[2] Kunandar, Guru Profesional Implemintasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011), hlm. 294
[3]Aunurrahman , Belajar Dan Pembelajaran ( Bandung: Alfabeta, 2009), hlm.113.
[4] Kunandar, Guru Profesional, hlm. 299.
[5] Ibid, hlm.384
[6] Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, hlm.221
[7] Kunandar, Guru Profesional, hlm. 395
[8] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 351
[9] Kunandar, Guru Profesional, hlm. 396
[10] Ibid, hlm. 401
[11] Masnur , KTSP, hlm. 125
[12] Kunandar, Guru Profesional, hlm. 411
[13] Masnur, KTSP, hlm. 118
[14] Kunandar, Guru Profesional, hlm. 425

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel