-->

Fungsi dan hubungan sekolah dengan masyarakat makalah lengkap


BAB I
PENDAHULUAN

A.    latar belakang
Tata kehidupan manusia secara mendasar dan menyeluruh di jadikan dasar untuk memahami tata kehidupan pendidikan. Secara sederhana, dapat ditemukan realitas kehidupan bahwa manusia dilahirkan dalam lingkungan masyarakat. Keluarga sebagai kelompok kecil di dalam masyarakat sangat juga dipengaruhi oleh tingkah laku dari masyarakat itu sendiri, hubungan timbak balik antara keluarga dan masyarakat sebagai sarana terjadi proses pendidikan.
Sekolah sebagai tempat yang mampu mewadahi peserta didik akan berusaha menampung dengan sebaik-baiknya agar mereka menjadi output yang sesusi dengan harapan masyarakat. Antara sekolah dan masyarakat sama-sama mempunyai hubungan serta mempunyai fungsi yang saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain, keduanya seperti dua sisi dari sebuah koin yang tidak dapat dipisahkan. Dari masyarakat akan membentuk, melahirkan sekolah dan dari sekolah pulalah masyarakat yang berkualitas akan terlahirkan sehingga harapan untuk menebar nilai-nilai posistif akan terwujudkan.
B.     rumusan masalah
1.    Bagaimana hubungan antara masyarakat dan sekolah?
2.    Seperti apa Fungsi sekolah terhadap masyarakat?
C.    tujuan masalah
1.   Menjelaskan hubungan antara masyarakat dan sekolah
2.   Menjelaskan Fungsi sekolah terhadap masyarakat

BAB II
PEMBAHASAN

A. hubungan antara masyarakat dan sekolah
            Masyarakat dan sekolah merupakan dua unsur penting dalam kehidupan yang tak dapat dipisahkan. Kedunya memiliki hubungan yang salit erat tidak bisa dipisahkan, darikeduanya pulalah saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain bagaikan dua sisi dari sebuah koin. Maka dalam hal ini Educational sosiology dipandang sebagai suatu ilmu yang menganalisis peranan umum pendidikan( sekolah) terhadap masyarakat dan komoniti, menganalisis hubungan antara persekolahan dengan aspek-aspek lain dalam kehidupan komuniti.
Untuk mempermudah memahami hubungan antara masyarakat dan sekolah maka akan lebih baik menyinggung tripusat pendidikan.  Istilah Tripusat pendidikan berasal dari istilah yang dipakai oleh Ki Hajar Dewantoro,[1] dalam memberdayaan semua unsur masyarakat untuk membangun pendidikan. Yang dimaksud dengan Tripusat pendidikan adalah setiap pribadi manusia akan selalu berada dan mengalami perkembangan dalam tiga lembaga pendidikan, yaitu: keluarga, sekolah, masyarakat. Ketiga lembaga ini secara bartahap dan terpadu mengemban tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya. Kemudian Tripusat pendidikan ini dijadikan prinsip pendidikan, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Orientasi kelembagaan tripusat pendidikan ini bersifat alamiyah sesuai dengan kenyataan dalam tata kebudayaan manusia.
 Perkembangan kepribadian anak dalam tripusat pendidikan. Telah dapat dimaklumi bersama bahwa seluruh pendidikan manusia dapat berlangsung dalam tripusat pendidikan, yaitu di rumah atau dalam keluarga, disekolah atau lembaga pendidikan formal, dan di masyarakat atau pendidikan non formal, yang penjelasannya sebagai berikut:[2]
1.      Di rumah atau didalam keluarga. Anak berinteraksi dengan orang, dengan orang tua (pengganti orang tua) dan segenap anggota keluarga lainnya. Ia memeproleh pendidikan informal berupa pembentukan pembiasaan-pembiasaan, seperti cara makan, tidur, bangun pagi, dan sebagainya. Pendidikan informal dalam keluarga akan banyak membantu dalam meletakkan dasar pembentukan kepribadian anak, misalnya religius, disiplin dan yang lainnya dan dapat berkembang senada, seirama dengan kebiasaannya dirumah.
2.      Di sekolah anak berinteraksi dengan guru-guru (pengajar) beserta bahan-bahan pendidikan dan pengajaran, teman-teman peserta didik lainnya, serta pegawai-pegawai tata usaha. Ia memperoleh pendidikan formal (terprogram dan terjabarkan dengan tetap) disekolah berupa pembentukan nilai-nilai pengetahuan, keterampilan, dan sikap terhadap bidang study mata pelajaran. Akibat bersosialisasi dengan pendidikan formal, terbentuklah kepribadiannya untuk tekun dan trajin belajar disertai keinginan untuk meraih cita-cita akademis yang stsinggi-tingginya. Serta sebaliknya.
3.      Di masyarakat, anak berinteraksi dengan seluruh anggota mayarakat yang beraneka macam, seperti orang-orang, benda-benda dan peristiwa-peristiwa. Ia memparoleh pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah berupa berbagai pengalaman hidup. Agar masyarakat dapat melanjutkan eksistensinya, kepada generasi muda harus diteruskan atau di wariskan nilai-nilai, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan bentuk-bentuk kelakuan lainnya. Setiap masyarakat meneruskan kebudayaannya (beserta perubahannya) kepada generasi penerusnya melalui pendidikan dan interaksi sosial.  
Adapun pendidikan non formal, kepribadian seseorang dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dilandasi sikap yang selektif berdasarkan rasio, idealisme, dan falsafah hidupnya. Pada umumnya, kepribadian seseorang terbentuk melalui pendidikan. Maka kepribadian pada hakikatnya adalah gejala social. Kepribadian individu bertalian erat dengan kebudayaan lingkungannya. Misalnya, individu yang hidup dalam lingkungan orang-orang yang berpendidikan (akademisi) cenderung suka belajar. Individu yang hidup dilingkungan yang religious cenderung menjadi orang yang tekun beribadah. Individu yang hidup dalam lingkungan bisnis cenderung untuk selalu berjiwa ekonomis (berdasar perhitungan untung dan rugi). Individu yang biasa bergaul dalam kehidupan "keras dan penuh tekanan" akan berjiwa patuh dan penurut, atau sebaliknya menjadi pemberontak dan sekehendak hatinya yang dapat menjadi berjiwa preman dan sebagainya. Sebaliknya, kita selalu cermat dalam memilih lingkungan hidup, atau sebagai orang tua, guru, atau pemimpin masyarakat agar cermat menciptakan lingkungan social yang menguntungkan perkembangan individu.
             Salah seorang ahli sosiologi pertama yang mengenal dan menjelaskan hubungan antara masyarakat dan sekolah ialah Durkheim. Durkheim memandang pendidikan sebagai kreasi sosial. Kreasi sosial dimaksud merupakan sarana yang di gunakan masyarakat guna kelangsungan hidupnya dengan mensosialisasikan anak menurut citra masyarakat itu sendiri. Komponen-komponen pendidikan yang dengannya merupakan fakta yang sangat pasti dan sama realitanya dengan fakta sosial lainnya  salaing ada  kaitannya. Komponen tersebut secara interen ada kaitannya, sehingga system pendidikan tertentu memiliki keutuhan dan konsistensi, dan secara ekstern saling ada hubungannya, sehingga sistem pendidikan tersebut mencerminkan nilai moral dan intelektual suatu masyarakat. [3]

Yang perlu diperhatikan bahwa ada Dua hal yang seharusnya menjadi ketetapan masyarakat, menurut Bloom dalam bukunya adalah. Pertama, mata pelajaran dan keterampilan apa yang menjadi tuntutan untuk menggalang masyarakat itu dan pembangunan akan datang. Yang kedua, berapa banyak murid yang dibutuhkan dan bisa ditunjang oleh ekonominya. Masyarakat yang rendah taraf pembangunan industrinya, hanya bisa menggerahkan sejumlah kecil orang kependidikan tinggi. Mengingat keadaan semacam itu sekolah dan sistem pengujian dari luar banyak berupaya untuk menemukan cara-cara menyisihkan mayoritas murid pada bermacam-macam aspek dalam sistem pendidikan dan menampung beberapa orang yang berbakat yang berhak meraih kesempatan pendidikan yang lebih tinggi, sebaliknya negara yang sudah maju, tentunya menemukan cara-cara menyeimbangkan pertambahan murid dengan mengadakan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Dalam suatu ekonomi yang menuntut banyaknya dan kompleksnya keterampilan sebagaimana yang diperlukan di Amerika serikat, investasi pendidikan mungkin memberi hasil lebih besar dari pada investasi modal. Sebenarnya, mungkin tidak banyak memakan biaya mendidik setiap orang pada tingkat umur tertentu jika dibandingkan dengan banyaknya menginvestasi untuk peramalan dan peseleksian bakat.
Meski demikian, ada juga masyarakat yang cepat mengalami perubahan atau modernisasi sosial justru memiliki masalah-masalah tertentu dalam menyesuaikan sistem pendidikannya dengan kebutuhan akan kemampuan manusia (human power need) diberbagai bidang kehidupannya. Bangsa yang sedang berkembang sering merasa kekurangan orang yang memiliki keahlian khusus(dibidang-bidang teknik) dan mengalami kesulitan menghimpun orang-orang yang memiliki keterampilan yang berguna setelah mereka menamatkan pendidikannya. Sebaliknya kepincangan lembaga tersebut yang di sebabkan oleh arus deras perubahan boleh jadi suatu saat mengakibatkan adanyaa kelebihan orang-orang yang lebih tinggi pendidikannya. Walapun india, misalnya merasa kekurangan tenaga ahli dibidang pertanian tehnik dan kesehatan. Namun, demikian, negara tersebut kelebihan siswa yang mengambil bidang study "umum" dan yang tak bisa bekerja sesuai dengan pendidikannya. Di india persaingan gigih untuk meraih gelar dan diploma langka yang amat menjadi tuntutan pemerintahan dan posisi kepegawaian lain, nyatanya menandakan ketidakjujuran dalam ujian yang sudah merajarela dibeberapa perguruan tinggi. Mereka yang gagal mudah terpengaruh oleh propaganda gerakan politik golongan ekstrem.
B. Fungsi sekolah terhadap masyarakat
Anak yang telah menyelaikan sekolah di harapkan sanggup melakukan pekerjaan sebagai mata pencaharian atau setidaknya mempunyai dasar keterempilan untuk mencari nafkahnya. Hal ini bukan berarti sekolah hanya ingin memenuhi kebutuhan pragmatis[4], tetapi pandangan ini berangkat dari persoalan-pesoalan dan problematika yang dihadapi secara asasi dalam kehidupan manusia. Manusia terdorong dan bergairah untuk melanjutkan sekolah diantaranya karena beranggapan bahwa semakinn tinggi pendidikannya, semakin tinggi pula harapannya untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Menurut Philip Robinson, anak-anak kelas kelas buruh yang melanjutkan pelajaran ke perguruan tinggi dan akhirnya memperoleh pekerjaan bermartabat tinggi telah melestarikan mitos persamaan kesempatan sekaligus menyembunyikan keadaan sebenarnya tentang ketimpangan-ketimpangan kesempatan.[5] Bukan hanya masalah pekerjaan, tetapi sekolah sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.  Hal ini dapat dilihat dari fungsi-fungsi sekolah.
Terdapat banyak para ahli yang berpendapat tentang fungsi sekolah itu sendiri. Namun dari sekian banyak pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan umum tentang funsi sekolah terhadap masyarakat, adalah sebagai berikut:[6]
1.    Fungsi transmisi dan transformasi kebudayaan
Fungsi transofmasi kebudayaan pendidikan sekolah ada dua yaitu: pertama, tranmisi pengetahuan dan keterampilan, seperti pengetahuan tentang bahasa, sistem matematika, pengetahuan alam dan sosial, dan penemuan teknologi. Dalam dunia industri, tranmisi pengetahuan sangat penting, sehingga dibutuhkan waktu yang lama, guru-guru yang profesional, dan lembaga khusus. Sebagian besar nilai dan sikap dipelajari secara informal melalui situasi formal dikelas dam disekolah, contoh pribadi guru,cerita-cerita,buku-buku bacaan dan lainnya yang mencerminkan sikap dan norma-norma masyarakat yang dipelajari anak didik.
2.    Fungsi peranan manusia sosial
Sekolah diharapkan manusia sosial dapat begaul dengan sesama manusia, meskipun berbeda agama suku bangsa, pendirian, ekonomi, dan sebagainya. Sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan situasi sosial yang berbeda-beda. Masyarakat kita telah mengenal deferensiasi dan spesialisasi suatu pekerjaan. Berkebangnya deferensiasi dan spesialisasi ini banyak menimbulkan berbagai masalah. Pertama, masyarakat harus mempunyai fasilitas untuk mengajarkan bermacam-macam spesialisasi-spesialisasi itu. Kedua, masyarakat harus mengusahakan agar orang-orang yang mempunyai spesialisasi itu seimbang dengan kebutuhan. ketiga, masyarakat harus menciptakan mekanisme yang mampu menyelesaikan antara bakat dan kemammpuan individu dengan tuntutan spesialisasi.
3.    Fungsi membentuk kepribadian sebgai dasar keterampilan
Sekolah tidak saja mengajarkan tentang pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan intelektual anak, melainkan juga memperhatikan perkembangan jasmaniyah melalui program olahraga, senam dan kesehatan. Disamping itu sekolah juga memperhatikan perkembangan watak anak melalui latihan kebiasaan dan tata tertib pendidikan agama dan pendidikan budi pekerti. Dengan demikian, pendidikan sekolah berfungsi mengembangakan kepribadian anak secara keseluruhan. Oleh karana itu, dalam pendidikan modern, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru saja, melainkan juga seluruh unsur-unsur sekolah, seperti konselor, perawat, dan dokter sekolah, pekerja sosial, pegawai satpam, orang tua dan masyarakat.
4.    Sekolah menyiapakan anak untuk suatu pekerjaan
Anak telah lulus sekolah diharapakansanggup melaksanakan pekerjaan sebagai sumber mata pencaharia, semakin tingggi tingkat pendidikan anak, maka akan semkain besar harapan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Ijazah nasih tetap dijadikan syarat penting untuk suatu jabatan, walaupun ijazah itu sendiri belum menjamin kesiapan seseorang untuk melakukan pekerjaan tertentu. Akan tetapi dengan ijazah yang tinggi seseorang dapat memahami dan menguasai pekerjaan dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
5.    Interagsi sosial
Dalam masyarakat yang bersifat pluralistik[7] multikultural, serta hiterogen membutuhkan upaya oleh semua pihak untuk menjamin interagsi sosial. Keutuhan sosial sangat penting untuk menciptakan keseimbangan hidup masyarakat. Indonesia merupakan negara yang mempunyai multikultural, aneka suku, agama dan adat istiadat,bermacam bahasa, kelas sosial,poltik, ekonomi. Untuk menjaga keutuhan sosial  adaalah tugas sekolah dan karena sekolah sangat urgen sekali dalam memberikan nilai positif kepada peserta didik sebagai bagian dari masyarakat.


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Masyarakat dan sekolah merupakan dua unsur penting dalam kehidupan yang tak dapat dipisahkan. Kedunya memiliki hubungan yang salit erat tidak bisa dipisahkan, darikeduanya pulalah saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain bagaikan dua sisi dari sebuah koin
Terdapat banyak para ahli yang berpendapat tentang fungsi sekolah itu sendiri. Namun dari sekian banyak pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan umum tentang funsi sekolah terhadap masyarakat, adalah sebagai berikut: Fungsi transmisi dan transformasi kebudayaan, Fungsi peranan manusia sosial, Fungsi membentuk kepribadian sebagai dasar keterampilan, Sekolah menyiapakan anak untuk suatu pekerjaan, Interagsi sosial.


DARTAR PUSTAKA
ü Bara, Muhyi Batu. sosiologi pendidikan. Jakarta: Ciputat Press, 2004.
ü Faisal , Sanapiah. sosiologi pendidikan. Surabaya:Usaha Nasional, 1996.
ü Tim Dosen IKIP Malang. Pengantar Dasar-Dasar Pendidikan. Surabaya:Usaha Nasional,2003,.
ü rifa'i ,Muhammad. sosiologi pendidikan. Jogjakarta: ar-ruzz media, 2011.
ü Supriyanto, Moh.Padil Triyo. sosiologi Pendidikan. Malang:UIN-Maliki Press,2007.




[1] Tim Dosen IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Pendidikan (Surabaya:Usaha Nasional,2003) , hlm.13.
[2] Muhammad rifa'i, sosiologi pendidikan (Jogjakarta: ar-ruzz media, 2011), hlm. 90.
[3] Sanapiah Faisal, sosiologi pendidikan,( Surabaya:Usaha Nasional, 1996),  hlm.246.
[4] Bersifat praktis dan berguna bagi umum, bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kemanfaatan
[5] Muhyi Batu Bara, sosiologi pendidikan (Jakarta: Ciputat Press, 2004), hlm. 124.
[6] Moh.Padil Triyo Supriyanto,sosiologi Pendidikan (Malang:UIN-Maliki Press,2007), hlm.150.
[7] Bersifat majemuk

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel