-->

Filsafat Ibnu Maskawaih Artikel




    A.    PENDAHULUAN
Dalam tradisi pemikiran filsafat islam, etika merupakan salah satu aspek yang paling dominan. Betapa tidak, sejak masuknya gelombang Hellinisme (wave of Hellenism) dalam dunia pemikiran islam, etika telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari filsafat. Tokoh-tokoh filsafat di masa itu adalah juga dikenal sebagai tokoh-tokoh penggagas etika, seperti pada aliran stoic (al-ruwwaqiyyah), Pythagoras, gelenus, Pluto, socrates, dan Aristotle sendiri, bahkan tokoh-tokoh filsafat neo-platonisme, seperti plotinus dan porphirus adalah sumber-sumber penting etika dalam islam. Di samping itu, persoalan etika sebenarnya menyangkut cara berpikir (mode of thought) yang berlaku dalam tradisi yanghidup (living tradition) yangmencakup beberapa factor yang saling terkait, yangnota bene adalah persoalan filsafat, dan bukan berbagai aturan yang menentukan berbagai sikap masyarakat yang menyangkut baik buruk.
Di antara para tokoh etika islam adalah filosof ibn miskawayh, yang dalam dunia filsafat islam dikenal sebagai guru ketiga (al-mu’allim al-tsalits) setelah aristoteles dan al-farabi dianggap sebagai salah seorang tokoh filosof yang menggagas filsafat etika, semangat dan perhatiannya yang begitu intens terhadap bidang ini, dimulai ketika ibn miskawayh menjabat sebagai pejabat pada pemerintahan ‘Adlud al-Dawlah (tahun 367-372 H.) dimasa kekuasaan bani buwaih (dawlat bani buwaih). Kajian ini tidak mengeksplorasi semua pemikiran filsafat etika ibn miskawayh, melainkan hanya menelusuri pemikiran etika miskawayh dari perspektif pendidikan. Untuk itu akan dikemukakan dalam konteks ini, setting historis pemikiran dan biografi ibn miskawayh bidang etika terutama ditinjau dari sudut pandang pendidikan[1]
  
B. PEMBAHASAN
1.      RIWAYAT HIDUP IBNU MISKAWAIH
Nama lengkapnya adalah ahmad ibnu Muhammad ibnu ya’qubibnu miskawaih. Ia lahir pada tahun 320 H/932 M. di ray, dan meninggal di isfahanpada tanggal 9 shafar tahun 412H/16 februari 1030 M. ibnu miskawaih hidup pada masa pemerintahan dinasti buwaihi (320-450H./ 932-1062 M.) yang sebagian besar pemukannya bermazhab syi’ah.
Perhatiannya dalam menuntut ilmu sangat besar. Hal itu tercermin dari bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Dalam bidang sejarah misalnya, ia belajar kepada abu bakar ahman abn kamil al-Qadhi, filsafat dengan ibn al-Khammar, dan kimia dengan Abu Thayyib.
Ibn miskawayh mempunyai hubungan yang baik dengan orang-orang penting dan penguasa di zamannya. Ia pernah mengabdi pada abu fadl al-Amid. Kedua tokoh yang disebut terakhir adalah menteri pada masa dinsti buwaihi (945-1055 M). ia juga pernah mengabdi pada adud al-Daulah, salah seorang penguasa buwaihi. Ibn miskawaih mempunyai pengaruh besar di daerah rayy[2].
Dari segi latar belakang pendidikannya tidak dijumpai data sejarah yang rinci. Namun dijumpai keterangan, bahwa ia mempelajari sejarah dari abu bakar ahmad ibnu kamil al_Qadi; mempelajari filsafat dri ibnu al_akhmar, dn mempelajari kimia dari abu thayyib.dalam bidang pekerjaan, tercatat, bahwa pekerjaan utama ibnu miskawayh adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan dan pendidik anak para pemuka dinasti buwaihi. Selain akrab dengan penguasa, ia juga banyak bergaul dengan para ilmuan seperti abu Hayyan at-tauhidi, yahya ibn ;adi dan ibn sina. Selain itu ibnu miskawayh juga dikenal sebagai sejarawan besar yang kemashurannya melebihi pendahulunnya, at-thabari (w.310 H./923 M.) selanjutnya ia juga dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa. Keahlian ibn miskawayh dalam berbagai bidang ilmu tersebut antara lain dibuktikan dengan karya tulisnya berupa buku dan artikel.[3]
Seperti para ilmuwan lain yang hidup pada masa itu, ibnu miskawayh mempelajari sejarah dan filsafat, terutama filsafat etika, sebagai alat mencari kebenaran. Dalam setiap kajian filsafatnya, ia selalu mencari bagaimana cara membangun moral yang sehat dan jiwa yang harmonis. Dikemudian hari, para pemikir muslim, seperti Muhamed Arkoun, meyebut ibnu miskawayh sebagaiseorang muslim yang humanis jika dilihat dri sudut pandang tradisi inteektual islam, bukan tradisi intelektual muhanisme eropa.
Sebagai ahli filsafat, ibnu miskawayh sangat terpengaruh oleh pemikiran neoplationisme. Sehubungan dengan itu, ia telah menghasilkan sebuah karyamonumental berjudul Tahdib al-Akhlak (pembinaan ahklak). Kitab yang terdiri dari tujuh bagianini berisi sejumlah cara mencapai kebahagiaan tertinggi.[4]

2.       PEMIKIRAN IBNU MISKAWAYH
Ibn miskawayh merupakan pemikir yang produktif. Hal itu terlihat dari sejumlah tulisannya, yang mencakup berbagai bidang. Adapun karya tulisnya adalah;
a)      Al-fawz Al-Ashghar;
b)      Al-faiwz Al-akbar;
c)      Tajarib Al- Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar, ditulis tahun 979 M);
d)      Uns Al=Farid (anekdot, syair, peribhasa dan kata=kata mutiara);
e)      Tartib As-Sa’adah (akhlak dan politik)
f)        Al-Mushthafa (syair-syair pilihan)
g)      Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak)
h)      Al-Jami’, As-Siyar (tentang aturan hidup), obat-obatan sederhana (kedoktern), komposisi bajat (seni memasak);
i)        Kitab Asyribah (minuman);
j)        Tahdib Al-Akhlaq (etika);
k)      Risalah fi Ladzdzat wa Al-‘Alam fi jawhar An-Nafs;
l)        Ajwibah wa Asilah fi An-Nafs wa Al-Aql;
m)    Al-jawwab fi Matsa’ilAts-Tsalat;
n)      Risalah fi jawab fi su’ul’ibn Muhammad AbuHayyan Ash-Shufi fi Haqiqat;
o)      Al-Aql;
p)      Thaharat An-Naft. (Anton Athoilah, 1998:115)
Jika dilihat karya-karyanya, ibn miskawayh adalah seorang yang hampir memiliki kapasitas multidimensi dalam penguasaan ilmu pada masannya. Filsaat, etika, sejarah, sastra, politik, kedokteran, seni, dan lain-lain dikuasainya. Walaupun begitu, ia lebih terkenal sebagai seorang filsuf etika, dengan kitabnya Tahdzib Al-Akhlaq, dari pada lainnya, sehingga sebelum kemunculannya, filsafat islam hampir tanpa kajian secara khusus tentang akhlak[5].
Sejumlah peneliti tampaknya sepakat bahwa pemikiran filsafatetika ibnu miskawayh adalah harmonisasi antarapemikiran filsafat yunani dan pemikiranislam (termasuk didalamnya filsafat islam yang juga dipenuhi oleh filsafat yunani) . konsep-konsep etika dariplato dan ariestoteles yang diramu dengan ajaran dan hokum islam serta diperkaya dengan pengalaman hidup pribadinya dan situasi zamannya adalah materi yang terdapat dalam tahzib Al-Akhlak.
Pengaruh pemikiran ariestoteles pada ikhwan Ash-Shafa yang kemudian diadopsi oleh ibnu miskawayh untuk kemudian dikembangkan labihlanjut menjadi teori kenabian. Sebagai ariestoteles, ibn miskawayh menganggap kebahagiaan (sa’adah) sebgaipunck kenabian manusia. Ibnu miskawayh mengidentifikasikan bahwa kebahagiaan adalah akhir dari realisasi kekhalifahan Tuhan. Satu kedudukan yang manusia peroleh melalui evaluasi kosmik dengan kebajikan dari sifatnya yang khas, yaitu rasionalitas.
Ibnu miskawayh memasukkan pembahasanjiwa pada bagian psikologi. Ia membuktikan kepada kaum materialis bahwapada diri manusia terdapat sesuatu yang boleh jadi berbeda dan bahkan bertentangan bentuknya dalam waktu yang bersamaan. Akan tetapi, sesuatu itu tidak dapat berupa materi karena materi hanya menerima satu bentuk dalam waktu tertentu, sesuatu itu adalah jiwa. Ia (dapat) mencerap hal-hal yang sederhana dan kompleks, yang ada di hadapan atau yang tidak ada, yang dapat dirasakan atau yang dipikirkan (pada saat yang sama)[6]
Pemikirannya tentang pendidikan lebih berorientasi pada pentingnya pendidikan akhlak. Hal ini tercermin dari karya momentalnya, Tahdzib al-Akhlak. Melalui karyanya tersebut, ibn miskawayh telah berbicara tentang manusia. Menurutnya manusia memiliki tiga rohaniah, yaitu daya nafsu (al-nafs al-bahimiyyah),  daya berani (al-nafs al-siba’iyah), dan daya berfikir (al-nafs al-nathiqah). Ketiga daya ini merupakan unsure utama manusia yang asal kejadiannya berbeda.
Selain itu, ibn miskawayh juga berbicara tentang ahklak yang bersandar pada teori jalan tengah dengan prinsip keseimbangan , moderat, harmoni, utama, mulia atau posisi tengah antara dua ekstrim. Dengan teori jalan tengah ini, ibn miskawayh berpendapat, bahwa posisi tengah al-nafs al-bahimiyyah adalah ‘iffah, yaitu sikap menahan diri dari nafsu yang tidak baik. Posisi tengah al-nafs al-siba;iyyah adalah al-syaja’iyah atau perwira, yaitu kebenaran yang diperhitungkan dengan matang untung ruginnya. Posisi tengah al-nafs al- nathiqah adalah al-hikmah, yaitu kebijaksanaan. Adapun perpaduan dari ketiga posisi tengah tersebut adalah keadilan atau keseimbangan. Melalui teori jalan tengan juga, ibn miskawayh menyimpulkan tentang adannya empat keutamaan akhlak, yaitu ‘iffah, al-syaja’iyah, al-hikmah, dan al-‘adalah.
Berdasarkan pandangannya tentang manusia ini, ibn miskawaih merumuskan tujuan pendidikan, materi pendidikan, pendidik dan anak didik, lingkungan pendidikan dan metodologi pendidikan. Menurutya, tujuan pendidikan akhlak adalah terwujudnya sikap dan batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik. Sedangkan materi pendidikan akhlak menurutnya mencakup hal-hal yang wajib bagi jiwa, hal-hal yang wajib bagi hubungan dengan sesama manusia. Berkaitan dengan lingan, ibn miskawahberpendapat bahwa manusia memerlukan kondisi yang baik dari luar dirinya sendiri.
 Sementara itu, yang berkaitan dengan metodologi pendidikan, ibn miskawaih berpendapat bahwa masalah perbaikan akhlak bukanlah merupakan bawaan atau warisan, karena jikademikian keadaannya, maka pendidikan tidak diperlukan. Ia berpendirian bahwa akhlak seseorang dapat diusahakan atau menerima akhlak seseorang dapat diusahakan atau menerima perubahan yang diusahakan. Jika demikian halnya, maka usaha-usaha untuk mengubahnya diperlukan adannya cara-cara yang efektif yang selanjutnya dikenal dengan istilah metodologi[7].
1.      Pengertian akhlak
Kata akhlak adalah bentuk jamak (plural) dari kata khuluq maskawayh memberikan pengertian khuluq sebagai barikut.
“khuluq adalah : peri keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan- perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya”.
Dengan kata lain, khuluq adalah : peri keadaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan secara spontan. Peri keadaan jiwa itu dapat merupakan fitrah sejak kecil, dan dapat pula merupakan hasil latihan membiasakan diri[8]sedangkan secara terminologi, akhlak adalah kondisi jiwa manusia yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa pikir dan ragu (secara spontan).
Dari pengertian khuluq yang dikemukakan miskwayh di atas, dapat dipahami, bahwa manusia betapapu watak dan karakternya dapat berubah dari yang tidak baik menjadi baik, dan begitu seterusnya. Maka, manusia pada dasarnya cenderung dapat berprilaku yang bermacam-macam, baik secara cepat maupun lamba. Hal ini dapat disaksikan pada perubahan yang dialami anak pada masa pertumbuhannya, yang senantiasa berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lainnya, sesuai dengan lingkungan yang mengintarinnya berikut pendidikan yang diperolehnya, baik darikeluarga maupun dari lingkungan sosial masyarakatnya[9].
2.      Tujuan pendidikan akhlak.
Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan ibn miskawayh adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik, sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati dan sempurna. Dengan alas an ini, maka Ahmad Abd al-hamid as- sya’ir dan Muhammad yusuf musa menggolongkan ibn miskawayh sebagai filosof yang bermazhab as-sa’adat di balik akhlak. Al-sa’adat memang merupakan persoalan utama dan mendasar bagi hidup manusia dan sekaligus bagi pendidikan akhlak. Makna al-sa’adat sebagaimana dinyatakan M.Abdul Hak Ansari tidak mungkin dapat dicari padanan katannya dalam bahasa inggris walaupun secara umum diartikan sebagai happiness. Menurutnya as-sa’adat merupakan konsep komprehensif yang di dalamnya terkandung unsur kebahagiaan (happiness), kemakmuran (prosperity), keberhasilan (succes), kesempurnaan (perfection), kesenangan (blessedness), dan kecantikan (beautitude)[10] 
3.      Materi pendidikan akhlak.
Untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, ibnu miskawayh menyebutkan beberapa hal yang perlu dipeljari, diajarkan atau dipraktekkan. Sesuai dengan konsepnya tentang manusia, secara umum ibn miskawayh menghendaki agar semua sisi kemanusiaa mendapatkan materi didikan yang member jalan bagi tercapainya tujuan pendidikan. Materi-materi dimaksudkan oeh ibn misnawayh diabadikan pula sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
Selain dengan uraian tersebut diatas, ibn miskawayh menyebutkan tiga hal pokok yang dapat dipahami sebagai materi pendidikan ahklaknya. Tiga hal pokok tersebut adalah
a)      Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan tubuh manusia.
b)      Hal-hal yang wajib bagi jiwa,
c)      Hal-hal yang wajib bagi hubungannya dengan sesame manusia.
Ketiga pokok materi tersebut menurut ibn miskawayh dapat diperoleh dariilmu-ilmu yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadidua. Pertama, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemikiran yang selanjutnya disebut al-ulum al-fikriyah, dan kedua ilmu-ilmu yang berkaitan dengan indera yang selanjutnya disebut aal-ulum al-bissiyat.  Berbeda dengan Al-Ghaazali, ibn miskawayh tidak membeda-bedakan antara materi yang terdapat dalam ilmu agama dan materi yang terdapat dalam ilmu non=-agama serta hokum mempelajarinnya.[11]
4.      Pendidikan Ahklak Pada Anak-anak
            Maskawayh juga menaruh perhatian besarterhadap pendidikan akhlak pada anak-anak. Ia mengatakan bahwa kejiwaan anak-anak adalah mata rantai antara jiwa binatang dan jiwa manusia berakal. Pada jiwa anak-anak berakhirlah ufuk binatang dan malailah ufuk manusia. Jiwa anak-anak berkembang dari tingkat sederhana kepada tingkat yang lebih tinggi, semula tanpa ukuran, kemudian berkembanglah padanya kekuatan perasaan nikmat dan sakit, kemudian timbulpula kekuatan yang lebih kuat, yaitu kekuatan syahwat, yang sering disebut dengan nafsu kebinatangan (bahimiyah) dalam perkembangan berikutnya timbul pula kekuatan sabu’iyah atau ghadhabiyah, akhirnya dalam perkembangan berikutnya lahir pula kekuatan berpikir, atau jiwa cerdas, yang ditandai dengan timbulnya rasa malu pada anak-anak.pada tahapan ini, anak-anak dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pada saat inilah paling tepat pendidikan leutamaan mulai ditanamkan pada anak-anak .
            Kehidupan utama pada anak-anak memerlukan dua syarat, syarat kejiwaan dan syarat sosial. Syarat pertama tersimpul dalam menumbuhkan watak cinta pada kebaikan, yang dapt dilakukan dengan mudah pada anak-anak yangberbakat baik, dan dapat dilatih dengan membiasakan diri pada anak-anak yang tidak berbakat untuk cenderung kepada kebaikan. Syarat kedua dapat dicapai dengan cara memilihkan teman-teman yang baik, menjauhkan dari pergaulan dengan teman-temannya yang berperangai buruk. Amat berfaedah menjauhkan anak-anak dari lingkungan keluargannya sehari-hari pada saat-saat tertentu dan memasukkan mereka kelingkungan lain yang lebih kondusif dalam menumbuh kembangkan rasa percaya diri pada dirinya[12]
Ada beberapa pedoman pendidikan akhlak yang harus diberikan kepada anak, misalnya:
a)   Seorang anak harus dididik memiliki kehidupan sederhana;
b)   Seorang anak harus tumbuh di antara orang-orang bijak;
c)   Pendidikan anak harus dimulai dengan memberikan perhatian terhadap aturan ketika makan; dan
d)  Seorang laki-laki harusdibiasakan tidak banyak tidur dan diberikan fasilitas yang terlalu mewah dan jangan diajarkan untuk mencintai emas[13].
Agar pendidikan mampu mengantarkan peserta didik pada tujuan pendidikan dimaksudkan, maka materi pendidikan yang ditawarkan harus mampu menyentuh hal-hal yang wajib bagi tumbuhnya potensi jasmani dan rohani peserta didik, serta persoalan-persoalan kemanusiaan. Ketiga bentik materi itu bias diperoleh melalui dua bentuk ilmu pengetahuan, yaitu pertama, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemikiran (rasional). Kedua, ilmu-ilmu yangberkaitan dengan panca indra. Melalui perpaduan kedua bentuk ilmu tersebut, peserta didik akan mampu menganalisisberbagai fonomena dan gejala sosialseecara baik. Akan tetapi, agar penganalisisan tersebut berubuah padatumbuhnyaakhlak karimah, maka harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai syariat sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-hadist.
Dengan mengacu padapola ini, maka peserta didik (manusia) akan mampu berteguh keimanannyadan berbuat sesuai dengan nilai-nilai yang diridhoi oleh Allah. Kepribadian yang demikian akan tercermindalam peserta didik dengan bentuk akhlak karimah dan al-sa’adat (kebahagiaan yang sempurn). Untuk memperoleh kepribadian yang demikian, maka ibn miskawayh mengajurkan agar peserta didik senantiasa mempelajari buku yang membicarakan tenytang keutamaan akhlak, agar ia termotivasi untuk hidup mulia dn beradab[14].
                       
    C.    PENUTUP
Ibn miskawayh merupakan pemikir yang produktif. Hal itu terlihat dari sejumlah tulisannya, yang mencakup berbagai bidang. Jika dilihat karya-karyanya, ibn miskawayh adalah seorang yang hampIr memiliki kapasitas multidimensi dalam penguasaan ilmu pada masannya. Filsaat, etika, sejarah, sastra, politik, kedokteran, seni, dan lain-lain dikuasainya. Walaupun begitu, ia lebih terkenal sebagai seorang filsuf etika, dengan kitabnya Tahdzib Al-Akhlaq, dari pada lainnya, sehingga sebelum kemunculannya, filsafat islam hampir tanpa kajian secara khusus tentang akhlak
“khuluq adalah : peri keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-    perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya”.
Dengan kata lain, khuluq adalah : peri keadaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan secara spontan. Peri keadaan jiwa itu dapat merupakan fitrah sejak kecil, dan dapat pula merupakan hasil latihan membiasakan diri

    D.    DAFTAR PUSTAKA
Nata Abuddin, pemikiran para tokoh pendidikan islam seri kajian filsafat pendidikan islam, (Jakarta, Grafindo Persada,2003).
Murtiningsih Wahyu, biografi para ilmuan muslim, (Yogyakarta, insane madani, 2009).
Basri Hasan, filsafat pendidikan islam, (Bandung: PUSTAKA SETIA, 2009)
Tim Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pendidikan islam,(Malang, Malang Press, 2009)
Siswanto, filsafat dan pemikiran pendidikan islam, (Surabaya, pena salsabila,2015)
Mustofa, filsafat islam, (Bandung, PUSTAKA SETIA, 2009


[1] Tim dosen fakultas tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pendidikan islam,(Malang, Malang Press, 2009)hlm,137.
[2] Siswanto, filsafat dan pemikiran pendidikan islam, (Surabaya, pena salsabila,2015)hlm,115
[3] Abuddin Nata, pemikiran para tokoh pendidikan islam seri kajian filsafat pendidikan islam, (Jakarta, Grafindo Persada,2003) hlm; 5
[4] Wahyu murtiningsih, biografi para ilmuan muslim, (Yogyakarta, insane madani, 2009) hlm; 179
[5] Hasan Basri, filsafat pendidikan islam, (Bandung: PUSTAKA SETIA, 2009)hlm,230
[6]Ibid, hasan basri, hlm.231
[7] Ibid, Siswanto, hlm,116
[8] Mustofa, filsafat islam, (Bandung, PUSTAKA SETIA, 2009)hlm,177.
[9] Tim Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, hlm,145.
[10] Ibid, Abuddin, hlm;12
[11] Ibid, hlm;13
[12] Ibid, musthofa, hlm.181
[13] Ibid, Siswanto,hlm,118.
[14] Ibid, siswanto, hlm.119

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel