-->

Makalah Tauhid tentang "Aliran Islam Asy’ariyah"

BAB I
Pendahuluan
      A.    Latar belakang
                kita tahu bahwa begitu banyak aliran-aliran dalam islam yang mungkin kita belum tahu mana yang memang-memang benar dimata Allah swt. Dan kita juga tahu bahwa islam mencintai kebenaran, aliran-aliran itu pastinya akan ada di sekeliling kita bahkan mungkin sebagian dari kita ada pula yang mengikuti dari antara salah satu aliran tersebut yang terbentuk dalam golongan-golongan ormas islam.
                 Untuk kita mengetahuinya apakah aliran-aliran itu benar sesuai debgan ajaran islam serta tuntunan dalam al-quran hal itu perlu dikaji terlebih dahulu, agar kita tidak terjerumus kedalamnya.
                 Sehubungan dengan itulah maka diperlukan adanya pembahasan mengenai aliran-aliran yang terdapat dalam islam, dimana pembahasan mengenai hal itu telah tertuang dalam bentuk ilmu kalam. Dimana yang sering kita dengar dengan tauhid ilmu tauhid yang di dalamnya membahas tentang tuntunan-tuntunan serta nasihat yang mengarahkan kepada hal yang positif supaya tidak terjerumus.

      B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan  Asy’ariyah ?
2.      Apa saja karya-karya Asy’ariyah ?
3.      Siapa saja tokoh-tokoh Asy’ariyah ?

     C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian Asy’ariyah
2.      Untuk mengetahui karya-karya Asy’ariyah
3.      Untuk mengetahui tokoh-tokoh Asy’ariyah
                           

BAB II
Pembahasan
     A.    Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah salah satu aliran dalam teologi yang namanya dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari, beliau dilahirkan di Kota Basrah (Irak) pada tahun 260 H/873 M dan wafat pada tahun 324/935 M, keturanan Abu Musa al-Asy’ari seorang sahabat dan perantara dalam sengketa antara Ali dan Muawiyah dalam peristiwa tahkim. Pada usia 40 tahun, ia hijrah ke Kota Baghdad. Ayahnya wafat ketika ia masih kecil, namun sepeninggal ayahnya ibu dari Asy’ariyah menikah lagi dengan dengan tokoh Mu’tazilah yang bernama al-Juba’I. berkat didikan ayah tirinya, Asy’ari kemudian menjadi tokoh Mu’tazilah, ia banyak menulis buku yang membela aliran Mu’tazilah.
Tetapi oleh sebab-sebab yang tidak begiu jelas, walaupun Asy’ari telah puluhan tahun menganut faham Mu’tazilah akhirnya ia meninggalkan ajaran Mu’tazilah . pada suatu malam Asy’ari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, kemudian nabi mengatakan bahwa madzhab ahli hali hadist-lah yang benar dan faham Mu’tazilah salah. Kemudian sebab lainnya adalah bahwa Asy’ari berdebat dengan gurunya sekaligus ayah tirinya yaitu al-Juba’I dan pada waktu itu al-Juba’i tidak dapat menjawab tantangan muridnya (Asy’ari).
Ada beberapa alasan yang membuat al-Asy’ari memisahkan diri dari aliran Mu’tazilah, antara lain :
1.      Adanya perpecahan diantara kaum muslimin yang bisa menghancurkan mereka kalau tidak segera diakhiri.
2.      Ia khawatir al-quran dan al-hadis menjadi korban atas faham-faham Mu’tazilah yang terlalu mengedepankan pendapatnya berdasar akal fikiran.
3.      Ia juga khawatir terhadap sikap ahlul hadis anthropomosphis yang hanya memegang nash-nash tanpa memperhatikan jiwanya sehingga membawa islam kepada kelemahan, kebekuan yang tidak dapat dibenarkan.
Dengan alasa-alasan diatas maka Asy’ari mengambil jalan tengah diantara golongan rasionalis dan golongan tekstualis dan ternyata jalan tersebut dapat di terima mayoritas kaum muslimin.
Sejak saat itu, Al-Asy’ari gigih menyebarluaskan paham barunya sehingga terbentuk mazhab baru dalam teologi islam yang dikenal dengan nama Ahlus sunah wal jamaah. Pengikut Al-Asy’ari sendiri sering disebut pula Asy’ariyah.

      B.     Karya-karya Al-Asy’ari
Al-Asy’ari mencari jalan tengah antara golongan yang mementingkan rasio dan golongan yang terlalu mementingkan nash-nash, oleh karena itu ditulisnya pendapat-pendapat beliau dalam kitab-kitabnya yang banyak. Ia menolak fikiran-fikiran alirab Aristoteles, golongan materialis, anthropomorsphir, khawarij dan golongan islam lainnya. Tetapi sebagian besar kegiatannya ditujukan untuk menghadapi orang-orang Mu’tazilah seperti Al-Juba’I, Abil Hazail dan kepada dirinya sendiri sewaktu masih menjadi pengikut Mu’tazilah.
        Ø  Ada tiga kitabnya yang terkenal, yaitu ;

a.       Maqalat al-islamiyyin (pendapat-pendapat golongan islam)
Kitab ini adalah kitab yang pertama kali dikarang tentang kepercayaan-kepercayaan golongan islam. Buku ini merupakan sumber terpenting karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Kitab tersebut terdiri dari tiga bagian. Bagian yang pertama merupakan pendapat bermaacam-macam golongan islam. Bagin kedua terdiri dari pendirian ahulul hadis dan sunnah, bagian yang ketiga terdiri dari bermacam-macam persoalan ilmu kalam.
b.      Al-ibanah an ushul al-diyanah (keterangan tentang dasar-dasar agama)
Kitab ini berisi tentang uraian kepercayaan ahl al-sunnah yang dimulai dengan mamuja ibn Hambal dan menyebutkan kebaikan-kebaikan.
c.       Al-luma’ (sorotan)
Kitab ini dimaksudkan untuk membantah lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu kalam.

        C.    Corak pemikiran Asy’Ari
Ada dua corak pemikiran dalam bidang fiqh pada diri Asy’Ari, pertama ia berusaha mendekati Mazhab Sunni dengan mengatakan bahwa ia bermazhab syafi’ie, kemudian ia juga mengatakan bermazhab Maliki yang lain, ia juga mengatakan bermazhab Hambali. Kedua adanya keinginan menjauhi aliran-aliran fiqh tersebut. Pola fikir yang demikian bagi Asy’Ari sebagai seorang yang membangun aliran kalam sangat membutuhkan bantuan dan legitimasi dari mazhab fiqh karena semua orang tahu bahwa persaingan didalam membangun mazhab atau aliran kalam mengalami tantangan dan persaingan yang keras sedang didalam mazhab fiqh tidaklah terjadi sedemikian itu.
Asy’ari sebagai orang yang pernah menganut faham Mu’tazilah, tidaklah ia menjauhkan diri dari pemakaian akal fikiran, bahkan ia pernah bilang bahwa semua orang yang berijtihad adalah benar. Ia menentang orang yang mengatakan bahwa pemakaian akal fikiran dalam soal-soal agama atau membahas soal-soal yang tidak  pernah disinggung oleh Nabi, adalah salah. Sahabat-sahabat Nabi sendiri setelah nabi wafat banyak yang membicarakan soal-soal baru meski demikian mereka tidak disebut orang-orang yang bid’ah (sesat). Ia juga menentang orang-orang yang keberatan membela agama dengan ilmu kalam atau dengan argumentasi akal fikiran karena hal itu tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi saw. Tetapi ia juga tidak suka terhadap orang yang berlebihan-lebihan menghargai akal fikiran seperti orang-orang Mu’tazilah itu, karena mereka tidak mengakui adanya sifat-sifat Tuhan, dan mereka juga mengingkari kemungkinan melihat tuhan dengan mata kepala. Kalau pendapat ini di biarkan, maka akan berakibat tidak akan mengakui hadis-hadis Nabi saw sebagai salah satu tiang Agama Islam.

        D.    Pendapat-pendapatnya
a.      Sifat
Pendapat Asy’ariyah dalam masalah sifat adalah mengambil jalan tengah antara Mu’tazilah dengan golongan Hasywiyah dan Mujasimah, Mu’tazilah tidak mengakui sifat-sifat wujud, qidam, baqa’, dan wahdaniyah. Golongan Hasywiyah dan Mujassimah mempersamakan sifat-sifat tuhan dengan sifat-sifat makhluk. Asy’ariyah dalam hal ini mengakui sifat-sifat tuhan tersebut sesuai dengan zat Tuhan sendiri dan sama sekali tidak menyerupai sifat-sifat makhluk. Tuhan mendengar tetapi tidak sama dengan pendengaran makhluk-Nya.

b.      Kekuasaan Tuhan dan perbuatan makhluk-Nya
Pendapat Asy’ari dalam hal ini berada di antara pendapat Mu’tazilah dengan aliran Jabariyah. Menurut Mu’tazilah bahwa manusia itu mengerjakan perbuatnnya sendiri dengan kekuasaan yang di berikan Allah kepadanya, sedang menurut Jabariyah Manusia tidak berkuasa mengadakan atau menciptakan sesuatu, tidak memperoleh kasb. Asy’ariyah mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa menciptakan sesuatu tetapi berkuasa memperoleh kasb atas sesuatu perbuatan.

c.       Dosa besar
Menurut Mu’tazilah bahwa orang yang melakukan dosa besar kemudian ia tidak bertobat dari dosanya itu ia akan masuk neraka dan tidak keluar dari tempat itu meskipun mempunyai iman. Aliran Murji’ah mengatakan bahwa siapa yang beriman kepada tuhan dan mengikhlaskan diri kepada-Nya, maka bagaimanapun besar dosanya hal itu tidak akan mempengaruhi imannya. Menurut Asy’ariyah bahwa orang mukmin yang mengesakan Tuhan tetapi fasik hal itu terserah kepada Tuhan, apakah akan diampuninya dan masuk surga atau di jatuhi hukuman karena kefasikannya kemudian setelah itu Allah memasukkan kedala surga.

         E.     Tokoh Asy’ariyah
1.      Al-Baqillany (w. 403 H/1013M)
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Thayyib, ia lahir di Basrah tempat gurunya Al-asy’ri. Ia cerdas, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama, kitabnya yang terkenal berjudul “al-tamhid” (pendahuluan/Persiapan).

2.      Al-Juwaini
Nama lengkapnya adalah Abdul Ma’ali ibn Abdillah dilahirkan di Naesabur Iran, setelah dewasa beliau pindah ke kota bagdad. Ia mengikuti jejak al-Baqillani dan Asy’ari dalam menjunjung tinggi kekuatan akal fikiran yang menyebabkan kemarahan ahli-ahli hadis, akhirnya ia sendiri meninggalkan kota bahgdad menuju Hijaz dan bertempat tinggal di Mekah dan Madinah untuk mengajar disana. Karena itu ia mendapat gelar “Imam kedua tanah suci yaitu Mekah dan Madinah”. Bukunya yang terkenal adalah al-irsyad berisi pokok-pokok kepercayaan.
Menurut Al-Juhaini bahwa sifat Tuhan dapat di bagi menjadi dua bagian, yaitu :
·      Sifat nafsiyah yaitu ada pada zat tuhan tanpa illat.
·      Sifat ma’nawiyah yaitu yang timbul sebagai kelanjutan dari sifat nafsiyah.
Sifat-sifat Tuhan itu ialah : 1. Wujud (ada), 2. Baqa’ (kekal/abadi) 3. Tidak ada yang menyamainya, 4. Tidak berukuran (imtidad).

3.      Al-Ghazali (450-505/1111 M
Nama lengkapnya ialah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, lahir  di kota tus negeri khurrasan. Gurunya antara lain al-Jueni. Ia menjadi guru di perguruan tinggi Nizamiyah di Bahgdad.
Ø  Karya-karyanya
Al-Ghazali adalah seorang ahli fikir islam dan mempunyai karangan yang banyak meliputi berbagai lapangan ilmu antara lain :
1.    Teologi Islam
2.    Hukum Islam (fiqh)
3.    Tasawuf
4.    Tafsir
5.    Akhlak
Karyanya yang terpenting adalah : Ihya Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama). Buku yang lainnya, yaitu : al-mungqids minaddhalal (penyelamat dari kesesatan).
4.      Al-Sanusy (833-895 H/1427-1490 M)
Nama lengkap As-Sanusy adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf, dilahirkan di Tilimsan sebuah kota di Aljazair.
Ø  Karya-karyanya
a)   Aqidah ahli al-tauhid (aqidah tauhid besar) dan syarahnya berjudul umdah ahl al-taufiq wa al-tasydid (pegangan ahli kebenaran/ahli sunnah)
b)   Ummul brahim (aqidah tauhid kecil) atau risalah al-Sanusiah.
Ø  Ia membagi sifat-sifat Tuhan menjadi 4 ;
1.      Sifat nafsiyah
Al-sanusy menjelaskan bahwa sebenarnya sifat Nafsiyah adalah sifat-sifat dzatiyah dan ia adalah dzat Tuhan itu sendiri.
2.      Sifat Salbiyah
Sifat salbiyah atau salbi arti dasarnya adalah negative yang bermaksud bahwa sifat-sifat itu tidak mungkin dimiliki oleh selain Allah dan tidak mungkin di serupakan dengan sesuatu.
v  Yang dimaksud sifat salabi ini ada lima, yakni ;
1.      Qidam (dahulu)
2.      Baqa’ (abadi)
3.      Mukhalafah lil hawadisi (berbeda dengan hal-hal yang baru)
4.      Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri tak tergantung pada yang lain)
5.      Wahdaniyah (esa)
3.      Sifat ma’ani
Sifat ma’ani adalah untuk menjelaskan bahwa secara ma’nawi atau menurut pengertiannya, Allah memiliki sifat-sifat yang di kategorikan ma’ani.
v  Sifat-sifat yang di kategorikan masuk dalam sifat ma’ani ini ada tujuh sifat, yakni
1.      Qudrah (berkuasa)
2.      Iradah (berkehendak)
3.      Ilm (tahu)
4.      Hayah (hidup)
5.      Sama’ (mendengar)
6.      Kalam (bicara)
4.    Sifat ma’nawiyah
Sifat ma’nawiyah jumlahnya sama dengan sifat ma’ani demikian juga rinciannya, namun sifat ma’nawiyah ini bermaksud menekankan untuk lebih meyakinkan bahwa sifat-sifat tersebut benar-benar merupakan yang wajib bagi tuhan.

BAB III
Penutup
      A.    Kesimpulan
Aliran asy’ariyah merupakan aliran yang terbentuk akibat adanya perpecahan diantara kaum muslim yang merasa lelah dengan argument-argumen yang berbeda di antara beberapa aliran, kemudian terbentiklah aliran asy’ariyah yang dipimpin langsung oleh Al-Asy’ari sepagai pendiri aliran tersebut.

      B.     Saran
Apapun aliran yang kita percayai ataupun yang kita anut kita harus tetap senantiasa tetap berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran islam yang sudah terapat dalm al-qur’an maupun hadis.

DAFTAR PUSTAKA

Latief Mahmud. Buku Ajar Ilmu kalam. Stain Pamekasan Press. 2006

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel